Remaja Bunuh Balita : Sistem Sekuler Liberal Penyebab Utama


Puas, itulah perasaan seorang remaja (15 tahun) setelah membunuh balita usia 5 tahun. Motifnya pun tak masuk akal, hanya karena terinspirasi dari film kesukaannya, Slender man dan Chucky. Dengan sendirinya dia menyerahkan diri ke polisi karena bingung, tidak menemukan cara membuang mayat balita nahas tersebut. Saat diintrogasi oleh pihak berwajib, NF (inisial) sang pelaku tidak merasa menyesal atas perbuat kejinya. 

Memang perbuatan kriminal dengan segala modifikasi kejahatannya kian bertambah. Bahkan pelaku berbagai tindakan kriminal  sudah tidak pandang bulu mulai dari yang tua sampai yang muda, keluarga terdekat, bahkan sampai seorang remaja.  Tentu realita yang terungkap ini semakin mengejutkan publik. Bagaimana bisa seorang remaja membunuh balita hanya demi memenuhi hasrat kepuasan semata?

Reza Indragiri, ahli psikologi forensik menjelaskan bahwa salah satu tindakan kriminal pada anak karena ada faktor asupan anak, yakni tontonan, bacaan, dan hal serupa lainnya. Meskipun jika seorang anak mendapat asupan bacaan maupun tontonan yang sarat kekerasan, tidak serta merta akan mengubah perilaku seseorang. Namun, apapun yang ditonton, disimak, dibaca, itu akan bisa mempengaruhi perilaku anak lewat proses peniruan. Disamping faktor perceraian orang tua yang menyebabkan rusaknya kasih sayang dari orangtua. Sehingga anak mengalami proses tumbuh kembang secara tidak sehat, dan kemudian menjadi pelaku kenakalan atau pelaku kejahatan. Dan faktor ekonomi. 

Oleh karena itu, adanya controlling  media sebagai sumber informasi yang sangat mudah diakses siapapun termasuk anak-anak dan remaja sangat penting dilakukan. Tidak cukup dari sisi keluarga sebagai tempat pendidikan pertama anak, ataupun dari sisi masyarakat sebagai lingkungan anak untuk tumbuh dan berkembang, namun perlu peran negara dalam memfilter media untuk generasinya. 
Sebab pada usia remaja memang masa dalam periode perubahan. Perubahan emosional, perubahan tubuh, minat terhadap hal-hal yang menarik perhatiannya, keinginan, dan kebebasan. Sehingga mempengaruhi nilai-nilai yang dianut yang akan menjadi pilihan dan identitas dirinya. Maka pada masa ini, remaja membutuhkan asupan informasi dan pemahaman yang benar untuk membentuk kepribadiannya sesuai dengan tujuan penciptaan dirinya sebagai manusia. 

Sebagaimana yang terjadi pada kasus yang menimpa NF, hanya karena tontonan yang dia sukai syarat akan kekerasan dia terinspirasi untuk meniru dan ingin mencoba. Kasus semisal inipun tidak hanya terjadi pada NF saja, Tandiyo Pradekso dalam jurnalnya, “Jurnal Interaksi”  2014, Vol. 3 No.1 mengutip dari harian Kompas, Sabtu tanggal 27 April 2013, pada halaman 12 bahwa 20 % kejahatan anak terinspirasi dari televisi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pun menjelaskan bahwa 30 % anak pelaku pemerkosaan dan 20 % anak pelaku kejahatan, terinspirasi tayangan televisi. Meskipun fakta kejahatan anak terinspirasi dari tontonan yang mereka lihat, nyatanya media yang ada sekarang tetap menyediakan tayangan yang merusak generasi bahkan semakin mudah diakses. 

Maka wajar jika kejahatan sebagaimana yang dilakukan oleh NF masih terjadi dan mungkin ini bukan yang terakhir. Sebab paham sekulerisme yang memisahkan aturan Allah dari kehidupan. Sehingga melahirkan gaya hidup liberal yang menyebabkan manusia berbuat sesuai dengan hawa nafsunya. Dan inilah kebahagiaan harus mereka raih. Tayangan yang berpotensi merusak generasi akan tetap terus ditayangkan selama masih bisa memproduksi pundi-pundi uang dan menegasikan potensi kerusakan generasi yang akan dihasilkan. Realita rasa kemanusiaan tercabut dan perempuan tanpa belas kasihan adalah hasil dari sistem sekuler ini.

Dalam sistem Islam, yaitu Khilafah media massa (wasâ'il al-i'lâm) dipandang memiliki fungsi strategis salah satunya untuk membangun masyarakat islami yang kokoh. Maka media islam digunakan sebagai sarana edukasi menjelaskan semua tuntunan hidup baik berdasar syari'at, beberapa nilai dan panduan bersikap hingga peningkatan kualitas hidup dengan pemanfaatan iptek. 

Oleh karena fungsi tersebut, maka Khilafah akan melindungi anak-anak dari tayangan–tayangan sampah yang membuat kecanduan atau mengajarkan kekerasan dan kepornoan. Media bagi anak-anak generasi didominasi dorongan berperilaku positif sebagaimana dicontohkan generasi-generasi sukses dalam peradaban Islam, bukan karakter-karakter khayalan dengan kekuatan super. 

Khilafah akan tegas menghapus semua media yang menghantarkan pada keharaman baik dalam bentuk buku, majalah, tayangan TV atau konten-konten virtual. Khalifah akan menetapkan media ditangani khusus oleh Departemen Penerangan (daairat i’lamy) yang bertanggung jawab langsung pada khalifah, tidak menjadi bagian dari mashalihun naas. Ini adalah upaya preventif agar generasi yang dihasilkan bukan generasi rusak seperti peradaban sekuler liberal sekarang.[]

Oleh : Nonik Sumarsih (Aktivis Dakwah Kampus Surabaya)

Posting Komentar

0 Komentar