Racun Feminisme, Membunuh Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga


Berbicara sosok perempuan tidak akan luput dari statusnya sebagai anak, istri ataupun ibu. Perempuan begitu unik, ia dengan fitrahnya yang memiliki rasa penyayang menjadikan wanita sebagai sosok yang begitu mengagumkan dan memiliki keistimewaan tersendiri. 

Namun kenyataan pahit yang saat ini terjadi, dunia barat dengan ide feminisnya telah menjadi racun yang menggerogoti lalu membunuh secara perlahan peran dan kehormatan perempuan.
Feminisme gembar-gembor menyuarakan persamaan hak perempuan agar setara dengan laki-laki yang pada nyatanya justru menindas dan menginjak-injak, dan menjadikan perempuan sebagai makhluk yang tak berarti dan tak bernilai. 
Barat dengan kekuatan idenya telah berhasil mengkampanyekan gerakan ini hingga merasuki jiwa kaum perempuan di negeri-negeri Muslim.
Contoh yang dapat kita temui saat ini seperti kampanye "No Hijab Day" yang di selenggarakan oleh Hijrah Indonesia www.trenopini.com . Kampanye tersebut seakan-akan memberikan edukasi bahwa perempuan itu makhluk yang tidak boleh di kekang dengan pakaian tertutup dan boleh mengekspresikan penampilannya sesuai dengan kehendak mereka.
Selain hal itu, racun ide rusak ini juga secara masif menyerang ketahanan keluarga. Atas nama emansipasi, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki dalam kiprahnya diluar rumah, yang akhirnya menggeser peran penting perempuan sebagai ibu. 

Jelas hal itu telah menyalahi dan bertentangan dengan syariat Islam. Sejak awal kemunculannya, Islam memposisikan perempuan pada kedudukan yang mulia. Islam memberikan gelar mulia kepada perempuan sebagai Ummu wa Rabbatul Bait (Ibu sekaligus pengatur rumah tangga) menjadikan posisinya sangat di istimewakan. Dimana tanggung jawab nafkah keluarga tidak di bebankan kepadanya. Perempuan juga memiliki peran strategis sebagai Al Umm Madrasatul Ula (Ibu sebagai madrasah pertama) yang akan mencetak generasi pemimpin peradaban, maka terkait dengan hal itu Islam tidak melarang perempuan untuk berpendidikan setinggi-tingginya. 
Islam juga memerintahkan perempuan untuk menutup aurat demi terjaganya kehormatan dan kesucian serta melindunginya dari berbagai ancaman yang membahayakan. 

Apabila telah memahami bagaimana Islam begitu memuliakan perempuan, maka sudah tentu ketahanan keluarga mampu terwujud hanya dengan Islam.

Perbedaan yang sangat kontras dengan kondisi saat ini. Hanya ilusi apabila ketahanan keluarga terwujud dalam jeratan sistem Kapitalis yang bercokol dari sekulerisme, dimana agama harus di pisahkan dari ranah kehidupan. Seperti yang saat ini sedang santer di isukan mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga di dalam sistem Demokrasi www.kompas.com yang menuai pro dan kontra.

Kembali pada keunggulan sistem Islam, bahwa Islam dan negara ibarat saudara kembar yang saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Tugas utama negara yaitu menerapkan syariat Islam. Negara pula yang bertugas dan berkewajiban meriayah (mengurus) kepentingan umat termasuk menopang kepemimpinan didalam keluarga.
Oleh karenanya, Islam memberi tugas pada negara untuk menyiapkan berbagai perangkat guna mewujudkan ketahanan keluarga. Allahu a'lam bishawwab.[]

Oleh : Nurlaila Hasana 

Post a Comment

0 Comments