TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pungutan Pajak Buah Sistem Kapitalis


Pajak berasal dari warisan Romawi dan Persia. Dua negara adidaya itu yang mengajari tentang pajak. Berbagai macam pajak diwajibkan kepada rakyat. Tidak peduli apakah rakyat tersiksa atau sekarat tanpa memperdulikan asas keadilan. Ekonominya bertumpu pada ekonomi ribawi dan penimbunan. 

Pada saat itu, pemerintahan Romawi di Mesir hanya memiliki satu tujuan yaitu mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dari rakyat untuk pundi-pundi bagi para penguasa.

Kaisar Heraklius mewajibkan pajak-pajak baru terhadap penduduk wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Romawi untuk menutup hutang besar pembiayaan perang dengan Persia.

Dampaknya, dari hasil pajak yang dipungut membuat pemasukan negara semakin besar, tetapi menjadikan rakyat semakin sengsara. Hal tersebut persis yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap rakyatnya sekarang . Berbagai macam jenis pajak dibebankan, seperti; 

- Pajak kendaraan bermotor 
- Bea balik nama kendaraan bermotor 
- Pajak restoran
- Pajak penerangan jalan
- Pajak bumi dan bangunan 
- Pajak air, tanah, dan pajak-pajak yang lainnya. 
(klikpajak.id/blog/bayar-pajak/jenis-pajak-di-indonesia) 

Bahkan saat ini, sudah mulai disosialisasikan akan adanya pajak untuk online shop dan rencananya akan diberlakukan mulai tahun 2020. (m.detik.com) 

Saat rakyat tak mendapatkan pekerjaan, mereka berinovasi memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan online. Lucunya, yang seharusnya negara memberikan pekerjaan pada rakyat malah menjadi negara pemungut pajak pada rakyat. 

Padahal sudah dijelaskan di firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”. (QS. An-Nisa’: 29).

Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya saling memakan harta sesamanya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan pajak adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta sesamanya.

Sungguh miris hidup di sistem kapitalistik saat ini, untuk makan dan minum saja harus peras keringat. Seolah umat tak punya pemimpin negeri. Keringat rakyat diperas sampai kering demi nafsu pribadi mereka. Seharusnya rakyat mendapatkan pengayoman dari penguasa tetapi kenyataannya hanya derita dan ketidak tenangan yang di dapat. 

Banyaknya pajak yang dipungut, tidak  mensejahterakan rakyat tetapi justru semakin mencekik keadaan ekonomi rakyat . Sehingga kondisi ini berimbas di setiap lini kehidupan.

Berbeda saat kita bercermin pada sejarah kemasan Islam  di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul `Aziz. Pada masa pemerintahan beliau, tak ada satupun rakyat yang mau menerima zakat, dikarenakan semua rakyat saat itu sudah terjamin kebutuhannya. Padahal masa kepemimpinan beliau berlangsung hanya sekitar 3 tahun saja, tetapi kesejahteraannya sudah bisa dirasakan oleh rakyatnya. 

Kuncinya, beliau menerapkan sistem Islam secara menyeluruh, melaksanakan amanah dengan menjunjung keadilan tidak memakai fasilitas umum untuk kepentingan pribadi.

Karena dalam Islam sudah dijelaskan bahwa kekayaan umum seperti tambang batubara, emas, perak, besi, tembaga, timah, minyak bumi, gas dan sebagainya haram di serahkan kepada individu, swasta apalagi asing dan aseng. Pengelolaannya hanya oleh negara saja. 

Pengelolaan kepemilikan umum ini merujuk pada sabda Rasulullah saw.:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api. (HR Ibnu Majah).

Rasul saw. juga bersabda:

ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ

Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).

Tak ada hukum yang adil di sistem kapitalis. Tak akan di dapatkan kehidupan yang sejahtera di sistem demokrasi - kapitalis saat ini, yang ada hanyalah kemiskinan semakin melebar, kesusahan hidup yang berkepanjangan dan rasa ketidaknyamanan.

Oleh karena itu, hanya Islamlah yang mampu menyelesaikan problematika umat saat ini. Hanya dengan khilafah, umat benar-benar terlindungi dan terjamin hak-haknya. Kesejahteraan akan terwujud ketika Islam itu diterapkan secara kafah dalam institusi negara. 

Wallahu a'lam bishowwab.[]

Oleh : Luluk Kiftiyah 
Member Akademi Menulis Kreatif

Posting Komentar

0 Komentar