Potret Suram Perempuan dalam Pendidikan


Berbicara tentang perempuan, apa yang terlintas di benak kita. Sosok perempuan  lembut dan penuh kasih sayang dalam mendidik dan mencintai anak-anak atau sosok perempuan yang dianggap hebat. Serta sosok perempuan yang mampu berkarir diluar rumah dengan segudang prestasinya dengan menjalani peran ganda,sebagai ibu serta sebagai ayah pencari nafkah karena menjalani hidup sebagai single parent. Itulah perempuan dengan berbagai perannya. 

Bagaimana soal perempuan dalam pendidikan. Mari kita melihat fakta sejarah bangsa Indonsesia.  Sejarah telah mencatat bagaimana pendidikan untuk perempuan  diperjuangkan sejak lama di Indonesia. Salah satu tokoh yang memperjuangkan pendidikan perempuan adalah Raden Ajeng Kartini yang dikenal gigih dalam memperjuangkan hal tersebut . Namun, dalam kenyataannya, pendidikan untuk wanita belum merata di Indonesia karena kuatnya tradisi, banyak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi . Faktor ekonomi dan pariarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan, padahal, menurut Psikolog Pendidikan Reky Martha, pendidikan perempuan menyejahterakan hidupnya. Dengan Pendidikan yang tinggi, perempuan dapat memberikan ilmu bagi dirinya dan orang sekitar. Perempuan juga dapat menaikkan derajat hidupnya, "Angan-angan untuk sekolah itu masih banyak yang ragu, mereka masih takut," Ujarnya. (10/03/2017, CnnIndonesia)

Beginilah potret suram pendidikan di Indonesia  begitu mengiris hati. Pendidikan  seharusnya dirasakan oleh seluruh warga Indonesia termasuk di dalamnya perempuan tidaklah seindah bunyi pembukaan UUD 1946 "Mencerdaskan kehidupan bangsa". Salah satu poin yang perlu digaris bawahi melihat fakta yang ada saat ini. Faktor ekonomi yang menjadi permasalahn utama dalam pendidikan perempuan. Mereka memilih memikul tanggung jawab nafkah untuk menyambung kehidupan. Situasi yang mengharuskan mereka memutus rantai cita-cita yang tinggi dalam untuk mengenyam pendidikan sama seperti oranglain. Keinginan mereka hanyalah angan-angan dan mimpi terindah. Terlepas, beberapa diantara mereka yang tinggal didaerah pedalaman. Sulitnya akses dan sarana prasarana demi terselenggarannya pendidikan menjadi salah satu permasalahan yang sangat krusial laju pendidikan pun kian terhambat. Daerah Magelang, Bima, dan Yogyakarta daerah yang masih tertinggal dalam pendidikan. Tidak sedikit diantara mereka memilih untuk menikah demi berlangsungnya kehidupan karena alasan ekonomi. Walau pernikahan bukanlah permasalahan yang utama. Hal demikian terjadi di Negara kita.


Lantas, Bagaimana potret perempuan di dunia?

Dilansir  SatuHarapan.com. Meskipun terdapat kemajuan dalam pendidikan selama 25 tahun terakhir, kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan masih terjadi di banyak wilayah di seluruh dunia, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (4/3) dari UNICEF, Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Plan International.

Laporan yang dirilis jelang sesi ke-64 Komisi Status Perempuan pekan depan itu memaparkan jumlah anak perempuan yang putus sekolah turun 79 juta orang dalam dua dekade terakhir, dan dalam satu dekade terakhir anak perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melanjutkan ke sekolah menengah dibanding anak laki-laki.
Mereka masih lebih tidak beruntung di tingkat sekolah dasar, dengan 5,5 juta lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki yang putus sekolah di seluruh dunia, menurut laporan tersebut.

 Kemajuan global dalam mengurangi jumlah anak putus sekolah di tingkat dasar mengalami stagnasi, baik untuk anak perempuan maupun laki-laki sejak tahun 2007.
Saat ini terdapat sekitar 1,1 miliar anak perempuan di dunia, papar laporan setebal 40 halaman berjudul “Era Baru untuk Anak Perempuan, Merangkum Kemajuan 25 Tahun” itu.

Pada 1995, dunia mengadopsi Beijing Declaration and Platform for Action, agenda kebijakan paling komprehensif untuk kesetaraan gender, dengan visi mengakhiri diskriminasi terhadap wanita dan anak perempuan, kata laporan itu.

 Namun, 25 tahun kemudian, diskriminasi dan stereotip yang membatasi masih lazim ditemukan.
Harapan hidup anak perempuan semakin tinggi dengan bertambah delapan tahun, namun bagi banyak orang, kualitas kehidupannya masih jauh dari harapan, papar laporan itu.
Pada 2016, 70 persen korban perdagangan orang yang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu, 1 dari setiap 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun, atau sekitar 13 juta anak perempuan, mengalami pemerkosaan dalam kehidupan mereka, salah satu bentuk pelecehan seksual paling kejam yang dapat dialami wanita dan anak perempuan, papar laporan itu.  (05/03/2020, SatuHarapan.com)

Beginilah potret perempuan di dunia yang beresiko tinggi putus sekolah berada di angka yang begitu fantastis hingga saat ini. Selain itu yang mengerikan 70% perempuan dijual seperti halnya barang komoditi, eksploitasi besar-besaran dan dijadikan objek dalam memuaskan nafsu para laki-laki hidung belang. Dunia mengadopsi Beijing Declaration and Platform for Action  kebijakan kesetaraan Gender yang mereka canangkan selama 25 tahun ini tidak terbukti menyelesaikan permasalahan perempuan dan Pendidikan. Deklarasi Beijing ini dengan memasukan kurikulum kesetaraan gender pada instansi pendidikan yang mengarahkan pendidikan perempuan hanya untuk menopang ekonomi negara. Artinya, perempuan sama-sama dieksploitasi dengan kedok menopang ekonomi. Keluar fitrah perempuan yang seharusnya mendidik dan mengayomi anak-anak di rumah. Ide kesetaraan gender telah membabi buta menghilangkan fitrah ini. Bukan berarti di dalam Islam perempuan tidak boleh bekerja diluar rumah. Hukumnya mubah. Akan tetapi, hasil pendidikan yang tinggi tidak sepantasnya di orientasikan untuk melayani para kepentingan kapitalis. Di tengah  berkuasanya rezim sekuler, ide Kesetaraan gender yang mereka gaungkan mengharuskan negeri muslim mengiyakan ide mereka. Namun, pada kenyataannya ide Kesetaraan gender tidak menuntaskan masalah ekonomi dan kekerasan yang kerap dilakukan. 

Hanya solusi Islam yang hakiki yang mampu menyelesaikan masalah perempuan dalam pendidikan. Pada prinsipnya kewajiban mencari ilmu bagi laki-laki dan perempuan sama.  Tapi tidak dieksploitasi untuk kepentingan tertentu. Perempuan memiliki peran penting dalam mendidik generasi, mempersiapkan putra-putrinya dalam menyongsong peradaban yang gemilang. 

Dalam melaksanakan seluruh komponen pendidikan dengan kurikulum Islam dibutuhkan adanya negara yang  dalam pelaksanaannya sesuai dengan aturan sang pencipta bernama khilafah. Tidak perlu  ide kesetaraan gender. Karena Islam telah memuliakan perempuan sesuai dengan fitrahnya.

Wallahu a´lam bishawab.[]

Oleh Sri Mulyati 
Mahasiswi dan Member Akademik Menulis Kreatif


Post a Comment

0 Comments