TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pencabutan Subsidi, Petaka Bagi Petani


Indonesia dikenal sebagai negara agraris oleh di dunia. Bahkan dahulu Indonesia menjadi sasaran empuk kaum penjajah, karena rempah-rempahnya yang melimpah. Bahkan penjajahan itu masih berlangsung hingga kini. Terbukti dengan banyaknya orang-orang asing di Indonesia, tidak hanya berlibur namun juga membuka usaha bahkan sampai membuka pabrik-pabrik dan juga perusahaan-perusahaan. Mereka terdiri dari berbagai negara, ada Inggris, Perancis, Belanda, Jepang, Cina dan juga Amerika serta negara dunia lainnya. Semua menginginkan kekayaan yang melimpah dari Indonesia, salah satunya adalah karena potensi pertaniannya.


Namun,sungguh aneh,Indonesia dengan lahan pertanian yang luas nan subur, gemah ripah loh jinawi, belum berhasil swasembada pangan. Bahkan kehidupan para petani menjadi masyarakat kelas dua. Kehidupan para petani sudah susah dan terus dibuat susah apalagi dengan adanya pencabutan subsidi pupuk, menjadikan petani semakin menderita.


Sebagaimana dilansir Magetan Today, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, periode Januari 2020, di Desa Bajarejo Kecamatan Panekan menggelar diskusi terkait pertanian, Senin (27/1). Diskusi Tim KKN UNS dihadiri oleh kelompok tani (poktan) kecamatan Panekan, perangkat Desa Banjarejo, serta Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Panekan. Dalam dialog tersebut, petani di Desa Banjarejo mengeluh terkait masalah berkurangnya subsidi pupuk bagi petani dari pemerintah pusat.


Dengan adanya kondisi tersebut menjadikan kalangan intelektual ingin memberikan kontribusi ilmunya kepada masyarakat sehingga banyak sekali inovasi-inovasi  untuk memajukan pertanian di Indonesia. Sebagaimana yang terjadi di desa Banjarejo, Curhatan petani Desa Banjarejo akhirnya direspon Tim KKN dengan solusi berupa pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar nanas dan tetes tebu.


Memang pembuatan pupuk organik bagi masyarakat khususnya para petani, bisa memberikan dampak yang positif. Yakni membantu petani mengatasi kurangnya pupuk, akibat adanya kebijakan pengurangan subsidi pupuk dari pemerintah.


Namun, adanya inovasi-inovasi pembuatan pupuk organik tersebut juga menimbulkan efek negatif bagi masyarakat. Yakni, membuat kaum intelektual dan masyarakat terlena dan tersibukkan dengan program tersebut, dan pada akhirnya mereka tidak memahami bahwa kebijakan pencabutan subsidi adalah kezaliman.  


Adanya pencabutan subsidi, maka menjadikan mahalnya harga pupuk, dan juga mahalnya bibit yang semakin melangit. Sehingga petani benar-benar dibuat kesulitan dengan keadaan ini. Sementara ketika panen raya tiba, harga panen ‘nyungsep’, tidak sebanding dengan biaya produksinya. Alih-alih mengatasi masalah tersebut, pemerintah justru mengambil kebijakan impor dengan alasan klasik yang terus dijadikan dalih oleh penguasa bahwa pasokan dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian seolah-olah impor adalah hal yang mendesak yang harus dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 


Padahal Impor sebenarnya adalah salah satu bentuk penjajahan barat. Adanya impor menjadikan suatu negara bergantung pada negara lain. Bahkan bisa jadi bertekuk lutut pada negara yang berkuasa. Adanya impor pula menjadikan sebuah negara lemah tidak berjiwa kreatif dan inovatif, karena selalu menjadikan solusi praktis ketika ada kekurangan atau ketidakcukupan pasokan dalam negeri.


Khusus di bidang pertanian, pemerintah sebenarnya punya peluang besar untuk bisa swasembada pangan. Dengan adanya ketersediaan lahan yang cukup luas dan subur.  Jika pemerintah mau optimal disektor ini, bahkan pemerintah bisa menutup pintu impor rapat-rapat. Impor dilakukan ketika betul-betul mendesak untuk dilakukan. Caranya dengan berusaha maksimal meningkatkan hasil pertanian, memfasilitasi para petani dengan subsidi pupuk, bibit, dan juga obat-obat pertanian. Membantu menyelesaikan kesulitan petani ketika ada penyakit dan juga hama. Sehingga betul-betul hasil pertanian bisa makximal, dan mencukupi pasokan dalam negeri bahkan bisa jadi ekspor ke luar negeri. Inilah yang seharusnya terjadi.


Namun sayang, swasembada pangan adalah impian yang sulit diwujudkan. Adanya perjanjian bilateral, multilateral dan perjanjian-perjanjian sejenisnya membuat negara Indonesia harus impor. Seperti yang terjadi pada WTO, negara yang bergabung didalamnya wajib setiap tahun harus melakukan impor, jika tidak melakukan impor maka maka akan diberikan sanksi atau denda. 


Selain terikat dengan WTO, pemerintah juga terikat dengan perjanjian lainnya seperti perjanjian hutang, ketika pemerintah berhutang kepada IMF atau bank dunia, sebagai konsekuensinya adalah moneter Indonesia harus mau diatur oleh IMF. Salah satu bentuk pengaturan IMF adalah dalam hal pencabutan subsidi. Pencabutan subsidi merupakan hal yang harus dilakukan. Karena pemberian subsidi tidak selaras dengan kapitalisme global yang membuat produk impor baik pertanian atau yang lainnya tidak bisa leluasa masuk kedalam pasar Indonesia. Hal ini mengakibatkan debitur IMF dirugikan.


Dari sini nampak jelas sekali bahwa gagalnya Indonesia dalam hal swasembada pangan merupakan agenda global yang terus dikokohkan oleh orang-orang kapitalis. Bukan semata-semata murni karena ketidakmampuan masyarakat Indonesia, namun sengaja dibuat oleh kaum penjajah agar pemerintah tidak swasembada pangan, cukuplah dengan kebijakan  impor. 


Menjadikan negara berdaulat lepas dari segala jenis perjanjian internasional yang merugikan bangsa tidak mungkin bisa dilakukan kecuali hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah. Islam melarang terikat dengan perjanjian internasional yang merugikan negara termasuk melarang segala bentuk perjanjian dengan negara kafir harbi fi’lan. 

Islam mengharuskan negara harus mandiri tidak boleh bergantung apalagi tunduk pada kaum kafir. Karena tunduk kepada orang-orang kafir sama halnya dengan memberikan jalan pada orang kafir untuk menguasai kaum mukmin, dan ini dilarang. Allah swt berfirman dalam surat an Nisa’[4]:14 yang artinya:” Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin”. 

Wallahu’alam bishowab.[]

Oleh: Ulul Ilmi

Posting Komentar

0 Komentar