TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pemalakan Tiada Akhir, Kapitalisme Kapan Berakhir?


Menyoal rencana pemerintah tentang membuka rekening donasi untuk biaya penanganan virus Corona atau covid-19. "Pemerintah akan membuka akun khusus di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bagi masyarakat pelaku usaha yang ingin menyumbangkan, ini akan diumumkan oleh Ditjen perbendaharaan sebagi akun masyarakat yang ingin membantu dan langsung dikelola BNPB." Kata Sri mulyani dalam Liputan6 (Rabu, 25 Maret 2020)

Pandemi ini begitu memukau, bagaimana tidak, pemerintah pusat yang diamanahi zamrud khatulistiwa, negara subur penuh sumber daya Alam, yang harusnya melimpah ruah hasilnya, belum lagi iuran pajak dan BPJS, yang terus mengalir bagai sumber mata air, rupanya masih belum cukup untuk menanggulangi bencana, buktinya penguasa buka rekening donasi dengan Alasan membuka opsi ini karena untuk meringankan beban APBN pemerintah. Kalo boleh bertanya, memangnya selama ini pemerintah belanja apa saja?

Belanja material untuk bangun Istana di ibu kota baru? Belanja bahan pangan dari luar negeri? Anggaran buat gaji stafsus Jokowi? Apalagi?

Memang, mengelola uang negara itu berat, jika salah kelola maka tamatlah riwayat, seperti fenomena saat ini, rezim benar-benar telah salah kelola uang negara, ketika terjadi wabah, harusnya rencana bangun ibu kota di delete dari APBN negara, karena lebih baik di buat untuk penanganan Corona, sebenarnya urusan wabah ini kecil jika untuk level negara kaya seperti Indonesia, karena penanganaNya cukup dengan lockdown, umat kudu tetep dirumah, dikasih jaminan pangan dan kesehatan. lalu untuk tenaga medis, belikan mereka APD yang layak, fasilitasi dan dukung penuh kinerja mereka dalam menangani pasien positif Corona hingga sembuh.

Selesai, Corona akan pergi jika kebijakan pemerintah tidak salah arah. tapi faktanya? Angka pasien positif Corona melonjak drastis, pertanggal 27 Maret naik menjadi 1.046 jiwa. (cnnindonesia.com) dan yang lebih tidak waras, kenapa pemerintah harus memalak rakyat ditengah wabah? Kalaupun ditujukan buat pelaku usaha, kenapa harus dipublikasikan, kan para kapital bisa diundang di istana negara, beritahu face to face tentang rencana buka rekening donasi, jadi nggak harus pakai alasan meringankan beban APBN, karena APBN berat bukan salah rakyat, itu rezim yang tidak tepat kelola uang umat, salah kaprah.

Wahai umat, bukankah selama ini kita dicekoki pemahaman, bahwa demokrasi itu berarti kedaulatan ditangan rakyat? Suara rakyat suara Tuhan? Namun pantaskah teori itu disandingkan dengan fakta di lapangan? Sama sekali tidak, itulah kebobrokan sistem Plato, sistem kufur yang semakin hari semakin menambah beban derita rakyat, kepimpinanan macam ini? Tanggungjawab negara diserahkan pada individu, dan setiap individu harus bekerja keras untuk negara? Omong kosong demokrasi.

Sedangkan sejarah kepemimpinan dengan sistem Islam menjadi bukti nyata peran negara dalam menaungi umat, menjadi perisai yang mengagumkan, peradaban menjadi gemilang, tidak ada beban derita, yang ada hanya terbebas dari dosa, karena hukum Syara' diterapkan secara kaffah, maka negara menjadi penuh Rahmah, negara baldatun toyyibatun wa Robbun ghofur nyata menaungi negara yang bersistem kan Islam.

Bisakah kita hidup kembali dalam naungan negara Islam? Bisa, Allah sudah berjanji untuk itu, dan Rasulullah mengabarkan tentang itu, bahwa akan datang fase khilafah ala minhaj nubuwah. Namun, fase itu datang jika diperjuangkan, sebagaimana konstantinopel ditaklukkan. Lalu bagaimana caranya? dengan memahamkan umat tentang Islam kaffah, gencarkan selalu tentang pentingnya Syariah Khilafah, hingga kita menemui pertolongan Allah dan kemenangan. Wallahu alam bis showab.[]

Oleh Khaulah Binti Suri

Posting Komentar

0 Komentar