Pandemi Kesetaraan Gender Menjadikan Perempuan Semakin Dihinakan

Di tengah berjibaku dengan mewabah virus Corona ternyata virus liberalisme semakin menyasar para perempuan dunia. Virus ini telah merasuki kaum perempuan sebelum Corona hadir. Virus liberalisme dan kesetaraan gender nya di sebar sejak dulu. Akibatnya para perempuan banyak yang keluar dari qodrat kewanitaannya atas nama kesetaraan, berlindung dibalik HAM. Mereka menggaungkan pendidikan untuk perempuan setinggi mungkin agar kelak mampu bersaing di ranah publik. 

Hal ini terjadi karena para pegiat kesetaraan gender melihat masih banyak perempuan di dunia yang mendapat perlakuan tidak adil di ranah publik bahkan sering mendapatkan kekerasan terutama di dunia pendidikan. 

Setiap bulan Maret menjadi momentum peringatan Hari Perempuan Internasional dan kampanye kesetaraan gender. Bahkan sebelumnya akhir November 2019 lalu komnas perempuan mengeluarkan siaran pers tentang "Refleksi 25 tahun pelaksanaan Beijing Platform For Action (BPFA +25) di Indonesia. Dikutip dalam laman resmi komnas perempuan BPFA adalah kesepakatan dari negara-negara PBB dalam rangka melaksanakan konvensi CEDAW (Convention of Eliminaton of all Formal Discrimunation Againts Women) pada tahun 1995 di Beijing. BPFA Menghasilkan 12 bidang kritis dan setiap 5 tahun harus dilaporkan perkembangannya. 12 bidang kritis tersebut salah satunya adalah perempuan dalam pendidikan dan pelatihan.

Pendidikan bagi perempuan menjadi sebuah sorotan dunia tak terkecuali dengan nasib para perempuan di Indonesia. 
Faktor ekonomi menjadi salah satu hal yang menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia. Lihat saja masih banyak para perempuan yang menunda pendidikan dan memilih menikah di usia dini bahkan rela menjadi TKI ataupun buruh di berbagai pabrik-pabrik. 
Nasib perempuan pun semakin tak terelakkan manakala menempuh pendidikan dimana mereka mengalami bullying ataupun diskriminasi karena faktor mempertahankan agamanya seperti adanya pelarangan cadar, jilbab dan kajian-kajian sehingga banyak mereka berhenti dari dunia pendidikan. 

Padahal menurut Reky Martha 
Di Indonesia, faktor ekonomi dan patriarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan. Pendidikan bagi perempuan menyejahterakan hidupnya.  Pendidikan yang tinggi, perempuan dapat memberikan ilmu bagi dirinya dan orang sekitar. Perempuan juga dapat menaikkan derajat hidupnya, "Angan-angan untuk sekolah itu masih banyak yang ragu, mereka masih takut," Ujarnya. (10/03/2017, CnnIndonesia)

Meski secara global, sepanjang 25 tahun sejak BPFA 1995 sdh banyak kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan, tetapi masalah-masalah kekerasan masih sangat rentan dialami perempuan saat ini. 

Berbagai  program-program kesetaraan gender yang digaungkan oleh  BPFA tidak mampu berjalan dengan lancar karena memandang masalah perempuan dari sudut materi dalam hal ini sistem kapitalis sekuler yang dijadikan rujukan utamanya. Pada akhirnya berbagai program tersebut hanya mengeluarkan para perempuan dari kodrat kewanitaan saat  para perempuan mampu mandiri dengan pendidikan tinggi. Ketika para perempuan aktif dalam berbagai partai politik dan masuk dalam lembaga pemerintahan untuk bersaing dengan para lelaki atas nama Keadilan Gender.

Pada faktanya Program BPFA hanya melihat permasalahan perempuan dari permukaannya bukan menyentuh akar masalah yang sesungguhnya. 

Gaung kesetaraan gender yang kini menjadi pandemi para perempuan di dunia tidak mengangkat kemuliaan perempuan justru malah menghinakan para perempuan. 

Berbanding terbalik dengan Islam justru memandang bahwa setiap muslim dan muslimah wajib mendapatkan pendidikan secara gratis. Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas dirinya dan semakin mempertebal keimanannya. Pendidikan diberikan oleh negara secara gratis tanpa ada rasa kekhawatiran akan berbagai pelecehan bagi mereka para perempuan. 

Pendidikan dalam Islam didasarkan pada akidah Islam dimana kelak para muslimah dalam hal ini kelak akan melahirkan generasi unggulan pencetak peradaban Islam yang gemilang. Pendidikan bagi para perempuan bukan ditujukan materi semata ataupun untuk menjadikan versus dengan para kaum Adam tetapi semata - mata demi menggapai kemuliaan hakikat di hadapan Sang Pencipta Allah Swt. 

Islam telah mengatur sesuai porsi manusia ada yang khusus ditujukan kepada para perempuan ada juga yang ditujukan kepada para lelaki. Semata-mata hal ini dimaksudkan agar manusia berjalan sesuai fitrahnya. Firman Allah Swt yaitu:

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. " (QS. Al Baqarah 233).

Begitu pun hal yang berkaitan dengan pendidikan dan ditujukan untuk laki-laki maupun perempuan. 
Firman Allah Swt :
" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An Naml 97).

Islam tidak menyamaratakan peran karena pada hakikatnya semua sudah memiliki porsi masing-masing. Tidak memandang mulia atau hina dari segi materi sebagaimana orang - orang Kapitalis tetapi justru yang bertakwa saja yang mulia dihadapan Allah Swt. Hal ini bisa diraih oleh laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana firman Allah Swt. 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Dengan demikian konsep kesetaraan gender yang digaungkan tidak akan mampu meninggikan derajat perempuan sekalipun berpendidikan tinggi. 

Oleh karena itu saatnya kita membuang sistem demokrasi kapitalis yang menyengsarakan manusia tak terkecuali kaum wanita. Berjuang demi Islam kafah akan menjadikan kaum wanita lebih mulia serta jadikan opini khilafah menjadi pandemi di penjuru dunia. 

Wallahu a’lam bishowwab.[]

Oleh : Heni Andriani 

Posting Komentar

0 Komentar