TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Optimalisasi Potensi Ibu di Masa Pandemi


Physical distancing membuat emak-emak harus mengajari anak-anaknya di rumah, tentu ini berdampak pada banyaknya emak-emak yang stres, karena tidak semua emak lulusan sarjana pendidikan. Karena itu, selama ini saya menjadi penyeru emak-emak untuk kembali mengukir peradaban di rumah. Karena sepengamatan saya, suatu saat emak-emak akan mengalami problem tidak mampu mendidik anak di rumah. Saya pun membuat berbagai kelas online dan offline terkait parenting, home schooling, dan suami istri agar selalu connecting. Dari yang berbayar hingga gratis. Yang sadar untuk belajar jadi ayah bunda terbaik, ada.

Untuk home schooling memerlukan persiapan yang matang. Mulai dari penyusunan kurikulum, program belajar, bahan ajar, materi ajar, aturan dan evaluasi, hingga komunikasi keluarga. Semua perlu kolaborasi ayah dan ibu. Tapi sayang, karena ketidak-pedulian orang tua terhadap kewajiban sebagai pendidik utama bagi anak, akhirnya abai dan melimpahkan tanggung jawab pada sekolah atau guru les yang notabene hanya beberapa jam saja.

Emak-emak rumahan dan kantoran juga harus mengawasi anaknya belajar saat physical distancing diberlakukan. Tak sekedar jadi pengawas 2 pekan, harus jadi gurunya juga. Saat belajar di rumah ada anak yang sambil ngemil, main game, bermalas-malasan, belum mandi, masih tidur, bosan. Bahkan ada yang paket kilat, 5 menit sudah selesai mengerjakan tugasnya. Yang punya anak banyak, belajar online bermodal HP emak, akhirnya hang si HP emak karena download ini itu, memori full.

Orang tua merupakan madrasatul uwla, pendidikan pertama bagi anak. Sementara sekolah, bimbel, dan fasilitas belajar online hanya sebagai mitra pendidikan bagi orang tua. Jadi, kewajiban mendidik anak berada pada orang tua masing-masing.

Mungkin ini cara Allah untuk mengembalikan peran emak di rumah, didik anak, walau basic bukan sarjana pendidikan. Jadi manajer rumah tangga, biarpun bukan lulusan manajemen. Dan agar para ayah paham repotnya urusan rumah, sehingga mengembalikan peran ayah tak hanya mikir cari uang, tapi juga perannya sebagai qowam (pemimpin) bagi istri dan anak. Sudah saatnya jalinan kasih di rumah tetap fresh walau dilanda stres.

Stres tak hanya dirasakan oleh emak, juga dialami guru dan anak-anak. Saat para siswa diliburkan, kepala sekolah dan guru harus masuk kerja. Sampai-sampai ada guru yang sangat peduli pendidikan, sangking pedulinya, bangku kosong pun diajari. Apakah ini stres yang nyata?

Saat para siswa siap belajar online, eh sang guru gagap teknologi. Ternyata pelatihan guru yang didanai hingga 900 miliar rupiah tidak mampu menyiapkan tenaga pendidik siap terjun dalam digitalisasi Revolusi Industri 4.0. Guru pun stres, terkhusus yang honor, stres kuadrat.

Segudang tugas pun diberikan sang guru per-mapel, anak ikutan stres, tugasnya menumpuk, kewalahan. Di satu sisi emak bingung, ternyata mengajari anak sendiri tidak segampang cari uang.

Mengapa emak lebih menguasai cari uang? Karena sistem pendidikan kita mengajarkan seperti itu. Sistem pendidikan berbasis sekulerisme sejalan dengan kesetaraan gender, mengubah paradigma perempuan meraih pendidikan agar menjadi wanita karir, meraih kesuksesan dengan ukuran materi, dijauhkan dari peran keibuan yang sesuai dengan fitrahnya.

Wanita yang memilih di rumah pun tak jarang minim ilmu parenting, karena pendidikan yang dijalani tidak pernah mengajarkan menjadi ibu negarawan bagi peradaban. Menghabiskan waktu dengan gawai, olshop, drakor, gosip, dan lainnya. Padahal the power of emak-emak dapat mengguncang dunia dengan pendidikan rumahnya yang berbasis akidah Islam, melahirkan imam-imam besar, ilmuwan muslim, dan orang-orang cerdas bertaqwa pengukir peradaban Islam di masa Khilafah.

Sekolah yang sebenarnya sebagai mitra orang tua untuk membentuk generasi peradaban hanya menjadi tempat laundry dan penitipan anak. Pun sekolah tidak mampu untuk memikul besarnya tanggung jawab pendidikan di tengah arus liberalisasi yang kian mengikis iman dan potensi generasi sebagai pemimpin peradaban. Itu berat Mak. Dilan tahunya pacaran Mak.

Itulah secuil problem hidup, buntut penerapan sistem kapitalisme, hanya mampu mengajak stres berjama'ah. Baru 2 pekan, apalagi berbulan dan bertahun, bisa depresi bahkan crazy. Negara ikut stres takut anjlok perekonomian dan rupiah, enggan ambil kebijakan lockdown, mewacanakan herd immunity. Ya Allah, apa yang merasuki rezim ini ya Allah. Kenapa begitu kejam pada rakyat sendiri. Sistem pendidikan yang katanya akan merdeka belajar, akses belajar serba digital dan otomasi. Gagap berjama'ah ketika diterpa wabah corona. Sekarang benar-benar Allah tunjukkan bahwa manusia tidak berdaya.

Wahai kaum ibu, inilah saatnya peranmu dikembalikan Allah sesuai fitrahmu. Jadikan masa physical distancing ini sebagai sarana mendekatkan diri pada keluarga dan menanamkan nilai-nilai utama untuk pembentukan kepribadian Islam generasi. Anak-anak berada di rumah, jangan biarkan ia sibuk dengan gawai. Sibukkan mereka dengan aktifitas yang bernilai ibadah, mendekatkan diri pada Allah SWT, dan memperkuat pondasi akidah Islam. Caranya dengan :

1. Susun program dan jadwal aktifitas harian. Rencanakan dan bicarakan ini bersama pasangan halal. Jangan dengan pasangan orang lain, apalagi sama pelakor atau pebinor.

2. Tentunya kalau anak-anak yang sudah sekolah, mereka punya buku paket, itu bisa dilihat-lihat ya. Kemudian susun Rencana Pembelajaran Keluarga, saya singkat ini RPK. Kalau di kelas home schooling yang saya buat, ini kurang lebih seperti RPP (guru-guru pasti tahu). Hanya lebih simpel, isinya terdiri dari materi ajar, target yang ingin dicapai dan deskripsi kegiatannya.

3. Yang terpenting setiap aktifitas harus disisipkan pembinaan kepribadian Islam. Bisa ambil dari siroh nabi, kisah para sahabat dan orang-orang shalih, terutama sumbernya dari al-Qur'an. Dari sini akan ada teladan dan pelajaran yang bisa diambil sebagai penanaman pola pikir dan pola sikap islami. Yang pernah ikut kelas parenting online saya terkait konsep home schooling ini, pasti paham ya, kalau tidak lupa.

4. Sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya "Libur Lockdown Ajang Penanaman Keimanan Keluarga", ditulisan tersebut saya menuliskan penjelasan untuk memahamkan anak bahwa lockdown ini adalah bagian dari hukum syara' yang harus ditaati, jika dilaksanakan dengan ikhlas, insyaAllah mendapatkan pahala.

Bagaimanapun tetap jaga kewarasan ya ayah bunda, supaya tidak stres dan imun tubuh kuat. Corona ini ada atas izin Allah SWT dan insyaAllah akan lenyap atas izin-Nya pula. Kita sebagai manusia wajib muhasabah atas kelalaian kita terhadap penerapan hukum syara', terkhusus bagi kaum ibu, atas kewajiban kita sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu sekaligus manajer rumah tangga). Semua keluarga berkumpul di rumah.

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan dengan tegas tanpa keraguan dalam memposisikan wanita. Kata beliau dalam kitab Muqaddimah Dustur (tulisan beliau yang lain) dalam bab Nidzomul Ijtima’i:

الأصل في المرأة أنها أم وربة بيت، وهي عِرض يجب أن يُصان

“Hukum asal seorang wanita dalam Islam adalah “Ummun wa Rabbatul bait” (seorang ibu bagi anak-anak dan pengurus rumah tangga bagi suaminya), karena ia adalah kehormatan yang wajib dijaga."

Kata beliau dalam Nidzam Ijtima’i:

وعليه فإنه يجب أن يكون واضحاً أنه مهما أُسند للمرأة من أعمال، ومهما ألقي عليها من تكاليف، فيجب أن يظل عملها الأصلي هو الأمومة، وتربية الأولاد

"Atas dasar ini, maka harus menjadi jelas bahwa bagaimanapun aktivitas yang disandarkan pada wanita, bagaimanapun taklif yang dibebankan pada wanita, maka aktivitas utamanya harus tetap berupa aspek keibuan dan mendidik serta membesarkan anak."

Wahai kaum ibu, optimalisasikan potensi terbesarmu sebagai partner suami, manajer rumah tangga, guru, koki, dokter, sahabat bermain anak, dan artis di rumah. Wallahu'alam.[]

Oleh : Sri Wahyu Indawati, M.Pd

Posting Komentar

0 Komentar