Muslim India Diserang, HAM Tak Berlaku Bagi Muslim?


Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar suruh tokoh dan umat beragama di Indonesia untuk menahan diri dan tak bersikap emosional menyikapi insiden bentrok antara umat Hindu dan Muslim di India beberapa hari terakhir.

"Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menag berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional," kata Fachrul dalam keterangan resminya, Jumat (28/2).

Seperti kita ketahui bahwa India telah mengalami kerusuhan selama beberapa hari berturut-turut, dengan laporan-laporan tentang rumah-rumah dan toko-toko Muslim menjadi sasaran gerombolan perusuh. Bahkan Masjid tak luput dari amukan gerombolan perusuh. 

Dipicu UU Kewarganegaraan Kontroversial Masyarakat muslim di India menolak UU yang dianggap mendiskriminasikan umat muslim. Isi UU tersebut menyangkut persoalan Imigran dan persyaratan menjadi warga negara India.

Dalam UU kewarganegaraan tersebut imigran yang beragama Hindu, Sikh, Jain, Parsi, atau Kristen yang berasal dari Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan tidak akan diperlakukan sebagai imigran ilegal. Akan tetapi dalam UU tersebut tidak tercantum agama Islam, dan hal tersebut memicu protes masyarakat muslim India.
 
Menanggapi komentar Menteri Agama Fachrul Razi terkait Kerusuhan yang terjadi di India, sikap ini dinilai kurang tegas. Sebagai Menteri Agama di Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam,  sepatutnya turut mendesak pemerintah Indonesia untuk cepat tanggap dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi di India. 

Mengingat hubungan diplomasi Indonesia dan India cukup baik. 
Korban yang berjatuhan adalah masyarakat muslim yang jumlahnya tak sedikit. Sebuah Tercatat jumlah korban tewas bertambah menjadi 53 orang.  Tercatat yang termuda 15 tahun dan yang tertua 85 tahun yang tewas terperangkap di dalam rumah yang dibakar. 

Bahkan lebih dari 200 orang menderita luka-luka serius akibat tembakan, senjata tajam, pelemparan batu, pembakaran, pengelompokan dan bahkan jatuh dari bangunan selama kekerasan. 

Lihatlah betapa mengerikannya siksaan terhadap muslim India.  Diskriminasi yang diterima muslim di India begitu keji hanya karena keislamananya.  Dimanakah mereka yang selalu berteriak tentang HAM? Dimanakah para pemimpin?  Nyawa umat muslim begitu murahnya. 

Hingga saat ini dunia masih teguh dengan sikap bungkamnya ketika umat islam yang menjadi korban kekerasan dan pembantaian. Kita bisa melihat realitas yang terjadi ketika bungkamnya dunia terhadap umat muslim yang ada di Palestina, Suriah, Myanmar, dan juga di Turkistan Timur (Xinjiang). 

Dunia seolah menjadi bisu ketika umat Islam berteriak meminta keadilan dan perlindungan HAM. Menjadi tuli ketika umat islam di siksa,  dan buta ketika umat islam dibantai. Bukankah umat muslim itu bersaudara.  Sepantasnya ketika saudara merasakan sakit,  maka seluruh dunia ikut merasakan sakit. 

HAM Tak Berlaku Bagi Muslim? 

Hak Asasi Manusia seolah tak berlaku bagi Muslim, bagaimana tidak,  Muslim di India diserang karena keislamananya. Contoh lain kekerasan yang dialami umat islam di Palestina, Ekstremis Budha membantai umat islam di Rohingya, Suriah, bahkan muslim di Turkistan Timur (Xinjiang) tak luput dari kekerasan fisik juga psikis . Jika dibiarkan, peristiwa pembantaian umat Muslim India itu bisa saja mengarah ke aksi genosida kedepanya.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar hanya bisa mengecam tindakan kekerasan yang ada di India,  sikap ini dinilai 'tidak tegas" karena Indonesia tak hanya bisa sekadar mengutuk. Pemerintah juga dapat memanfaatkan posisi Indonesia sebagai anggota Dewan HAM sekaligus Dewan Keamanan PBB. 

Status tersebut memungkinkan Indonesia memanggil India di forum PBB sekaligus memberikan teguran keras secara langsung. Bukankah salah satu fungsi dari PBB adalah untuk perdamaian Dunia? Tetapi realita yang ada adalah dunia bungkam begitupun para penguasa muslim. Para penguasa muslim hanya bisa mengecam dan mengutuk tanpa ada solusi yang dapat menyelesaikan masalah umat. 

Umat Butuh Perisai

Berkaca dari sejarah, hampir dari 2/3 dunia dikuasai oleh Islam.  Lebih dari 14 abad lamanya. Tak bisa dipungkiri Kegemilangan, kejayaan, dan keberhasilan Islam dalam memimpin dunia. Sistem yang digunakan adalah sistem Kekhilafahan. 

Dimana dalam sistem Khilafah  seluruh warga negara yang ada di dunia merasakan hidup dengan aman, damai, sejahtera, dilindungi dan merasakan keadilan, tidak membeda-bedakan  suku bangsa, ras dan agama.

Khilafah  tidak hanya untuk orang Islam saja, non muslim pun bisa hidup di dalamnya.  Dalam Islam warga negara non muslim disebut sebagai dzimmi yang berasal dari kata dzimmah yang berarti "kewajiban untuk memenuhi perjanjian". Islam menganggap orang yang tinggal di bawah naungan Islam sebagai warga  negara Islam dan mereka semua berhak  mendapatkan perlakuan yang sama. 

Negara harus menjaga, melindungi, keyakinan, akal, kehidupan dan harta benda mereka. Bahkan merekapun mendapatkan keamanan, kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan yang sama seperti kaum muslim. 

Islam menjamin perlindungan terhadap orang- orang non muslim, hal ini di sampaikan oleh Rasulullah SAW, "Barangsiapa membunuh seorang mu'ahid (kafir yang mendapat jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekalipun".(HR. Ahmad)

Sejak runtuhnya Daulah Islam dalam naungan Khilafah.  Umat Islam laksana anak ayam kehilangan induknya. Anak ayam yang siap diterkam para pemangsa yang sedang kelaparan. 

Dunia islam terpecah dan tersekat-sekat. Hingga tidak ada lagi suatu ikatan yang menghubungkan umat islam di seluruh dunia. Umat islam kini tersekat dalam ikatan Nasionalisme yang ketika ada konflik di suatu negara, maka negara lain tak bisa ikut campur.

Sejatinya dalam islam, umat islam adalah satu kesatuan yang harus mempunyai satu ikatan yaitu ikatan akidah yang dapat menghubungkan umat satu dengan umat yang lain dari berbagai belahan dunia. 

Kendati saat ini, kekerasan demi kekerasan terus menimpa kaum muslimin, darah nyawa kaum muslim teramat murah. Berbeda halnya dengan pada masa Khilafah non muslim yang dilindungi , hari ini justru umat islam sebagai  minoritas disiksa dan dibantai. 

Semoga penderitaan kaum muslim diseluruh dunia menyadarkan kita bahwa umat butuh perisai,  yang dapat melindungi umat islam di seluruh penjuru dunia dan menjadi Rahmatan lil'alamin. 
Wallahu a'lam.[]

Oleh : Rahmawati Isya 


Post a Comment

0 Comments