TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menyingkap Persekongkolan Negara-Negara Eropa Dalam Meruntuhkan Khilafah Islamiyyah


Negara-negara kafir penjajah, begitu mendalam menyimpan dendam kusumat kepada daulah Islam. Mereka terus mencari cara untuk menikam daulah Khilafah dari segala arah. Upaya mereka memang beragam, hanya saja tujuan mereka satu yaitu hancurnya Islam melalui runtuhnya Khilafah. 

Inggris dan Prancis adalah dua negara yang begitu aktif dalam upaya mendestruksi daulah Khilafah Usmaninyyah. Zallum (2007: 26) menyatakan bahwa kedutaan eropa mulai aktif melakukan kontak-kontak dengan bangsa Arab. Inggris dan Prancis menyusup di barisan orang-orang Arab yang menyerukan paham nasionalisme serta memberikan dana bagi gerakan tersebut. Pada tanggal 18 juni 1913, dengan bantuan dari Prancis, pemuda-pemuda Arab mengadakan suatu konferensi di Paris, yang menjadi deklarasi pertama kaum nasionalis Arab dalam bersekutu dengan Inggris dan Prancis melawan daulah Usmaniyyah. 

Upaya negara-negara Eropa tersebut cukup berhasil mempengaruhi bangsa-bangsa Arab. Gejala nasionalisme dan sentimen patriotisme telah mempengaruhi jiwa. Akibatnya kesetiaan kepada Islam berubah menjadi kesetiaan kepada nasionalisme dan patriotisme. Kecenderungan ini membutakan mereka tentang petunjuk Islam mengenai ancaman atau bahaya nasionalisme dan patriotisme. 

Konspirasi-konspirasi yang dilakukan oleh Barat tidak lepas dari upaya mereka memanfaatkan agen-agen yang mereka miliki dan kendalikan. Zallum (2007: 15) menyatakan bahwa Prancis berupaya menyerang daulah Islam dari belakang melalui agennya, Muhammad Ali, gubernur mesir. Prancis mendukung secara terbuka Muhammad ali, baik secara politik maupun internasional. Lalu Muhammad ali memisahkan diri dan menyatakan perang dengan khilafah. Muhammad Ali berhasil menguasai Syam pada tahun 1931, Palestina, Libanon dan Suriah. 

Inggris pun juga memiliki agen dan memainkannya untuk melemahkan daulah islam. Zallum (2007: 14) menyatakan bahwa keagenan dan kesetiaan keluarga Saud kepada Inggris adalah perkara yang telah diketahui dengan pasti oleh daulah Islam dan negara-negara besar lainnya seperti Prancis, Jerman dan Rusia. Telah diketahui pula bahwa mereka benar-benar dikendalikan oleh Inggris dan Inggris tidak pernah menyembunyikan sikapnya mendukung Saudi sebagai sebuah negara. 

Inggris sangat aktif dalam upaya menghancurkan daulah usmaniyah. Mereka bahkan berhasil mengkonsentrasikan gerakannya di ibukota negara Khilafah. Zallum (2007: 111) menyatakan bahwa kapal-kapal perang Inggris bergerak maju mengambil alih selat Bosporus, sementara pasukan mereka menduduki Istambul dan benteng-benteng pertahanan di Laut Dardanella, begitu pula area-area militer yang penting di seluruh Turki. 

Inggris juga aktif melakukan manuver-manuver politik di Turki untuk mengendalikan Daulah Islam. Mereka memusatkan permainan politik mereka di Turki dengan tujuan menggulingkan pmerintahan dan menghancurkan khilafah. Mereka berupaya menjerumuskan daulah khilafah pada krisis politik. Inggris berupaya juga menciptakan kevakuman politik dengan pembubaran parlemen. 

Pada akhirnya Inggris berhasil meruntuhkan daulah usmaniyyah setelah bermanuver dengan Mustafa Kemal. Inggris mendukung penuh pemberontakan yang dilakukan oleh mustafa kemal kepada khalifah sultan abdul hamid II. Zallum (2007: 153) sampai-sampai menyatakan bahwa kaum muslimin tidak sadar mengenai adanya konspirasi besar yang dirancang oleh Inggris melalui pemberontakan Musthafa kemal, untuk menghapuskan Khilafah lewat tangan-tangan kaum muslimin sendiri. 

Tepatnya tanggal 3 Maret 1924 M, Mustafa kemal mengumumkan pemecatan Khalifah, pembubaran sistem Khilafah, mengusir Khalifah ke luar negeri, dan menjauhkan Islam dari negara. Inilah titik klimaks revolusi kufur yang dilakukan oleh Kamal Attaturk, la’natu-Llâh ‘alayh. Mustafa Kemal mengganti sistem Khilafah menjadi demokrasi, dan dinobatkan di Turki sebagai Bapak Pembaharu. Padahal, tangannya berlumuran dosa karena telah menghapus junnah(perisai) umat Islam yaitu Khilafah dari muka bumi ini.[]

Oleh Ika Mawarningtyas
Analisis Muslimah Voice

Posting Komentar

0 Komentar