TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menyerap Aspirasi Publik di dalam Islam

Dalam sistem Demokrasi dikatakan bahwa slogan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat hanya sebatas slogan semata. Karena pada faktanya tidak pernah dipraktekkan, bahkan diabaikan. Dari rakyat yang maknanya kekuasaan di tangan rakyat. Dengan begitu semestinya rakyat berhak memilih para pemimpin mereka dan rakyat pula yang berhak menurunkan pemimpin apabila tidak sesuai dengan harapan mereka. Dan ketika rakyat menyampaikan aspirasinya, mereka hanya ingin bertemu dengan orang- orang yang sebelumnya mereka pilih.

Oleh rakyat maknanya bahwa hak untuk membuat aturan berada di tangan wakil rakyat yang terpilih pada saat Pemilu sebagai harapan rakyat. Namun,faktanya aturan yang mereka buat justru banyak mencederai kepercayaan rakyat. Aturan yang mereka buat malah mengokohkan kepentingan para kapitalis.
Untuk rakyat, slogan ini juga tidak menunjukkan bahwa benar - benar dipersembahkan kepada seluruh rakyat. Melainkan hanya orang - orang tertentu saja. 

Dengan kata lain, dalam sistem Demokrasi lebih mengedepankan kepentingan para kapitalis dari pada rakyatnya. Itulah sebabnya tidak semua aspirasi diterima di negeri yang kita cintai ini.

Dapat kita rasakan bahwa negeri ini tidak lagi terasa aman. Padahal secara aturan para pengusung aspirasi seharusnya dilindungi. Sebagaimana dalam UU No.9 Tahun 1998 bahwa penyampai aspirasi di muka umum diperbolehkan. Akan tetapi fakta di lapangan seringkali demonstrasi rakyat berujung persekusi, bahkan mengancam nyawa mereka. Terlebih adpirasi yang bertentangan/ berlawanan dengan kepentingan penguasa.
Sementara yang dilakukan penguasa saat ini dalam mengambil keputusan lebih banyak menarik aspirasi dari kelompok pendukungnya. Dengan memberikan banyak fasilitas agar program pemerintah bisa berjalan maksimal dengan dukungan opini dari kelompok tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan Direktur Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra bahwa Presiden kerap mengundang relawan/ pendukungnya untuk bicara keputusan politik penting. Tentu saja hal tersebut menunjukkan sikap rezim yang bias dan dapt dianggap tidak menghormati pimpinab - pimpinan formal seperti staf ahli/menteri terkait.
Dalam menghadapi permasalahan rezim sering melibatkan relawan, influencer (orang yang memberi pengaruh di masyarakat) meski dengan biaya yang tidak sedikit demi melancarkan usahanya. Termasuk upaya pemerintah dalam menangkal dampak virus corona terhadap kondisi di negeri kita. 

Hal tersebut tentu saja akan mengantarkan pada keadaan bahwa kebijakan tersebut nampak positif karena diolah sedemikian rupa oleh kelompok yang berbeda pandangan/kritis.
Berbeda dengan sistem Islam.
Islam memiliki konsep yang utuh berdasarkan keimanan kepada Allah SWT. Kekuasaan di tangan rakyat, akan tetapi kedaulatan ada di tangan Sang Khaliq (Pencipta) dan Sang Mudabbir (Pengatur) yaitu Allah SWT.

Makna bahwa rakyat yang berhak memilih pemimpinnya. Dengan didasari keimanan, rakyat mempercayakan kepemimpinan kepada orang yang tepat sesuai dengan syara'. Seorang laki - laki, sehat, berakal, merdeka dan tunduk kepada Sang Pencipta.

Sedangkan kedaulatan di tangan Sang Pencipta artinya segala bentuk aturan di buat berdasarkan pada aturan Allah. Alquran dan Sunnah adalah sumbernya dan bukan berdasarkan akal semata.
Rasulullah mencontohkan kepada kita bagaimana menjadi seorang pemimpin sesuai perintah Allah. Beliau meminta kepada rakyatnya agar senantiasa berpegang teguh pada Islam dan apabila Beliau melakukan kesalahan minta diingatkan. Sebab Beliau memahami bahwa kepemimpinan memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat.
Bahkan ketika seorang wanita datang dan mengingatkan, Beliau menerima dengan lapang dada.

Sebagaimana Khalifah Umar bin Khaththab saat hendak menentukan mahar pernikahan, sebab para lelaki mengadu keberatan dengan mahar yang diminta para wanita.Namun, datanglah seorang wanita yang mengingatkan bahwa Rasulullah tidak pernah menetapkan/ menentukan besarnya mahar pernikahan.
Khalifah Umar menyadari kesalahannya dalam menetapkan aturan dan iapun langsung beristigfar. Ia menghormati wanita tersebut, bahkan di hadapan masyarakat ia mengakui kesalahannya.
Begitulah cara Islam dalam menerima aspirasi rakyat. Seorang pemimpin akan menerima pendapat, nasehat dari seluruh rakyatnya. Jika ia bersalah, maka segera menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Saatnya masyarakat memperjuangkan Islam sebagai aturan yang mengatur kehidupan seluruh manusia. Hanya Islam yang mampu menjadi solusi dalam setiap permasalahan bagi manusia. 
Wallahu'alam.[]

Oleh Atika Kurniawarni

Posting Komentar

0 Komentar