TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menyelisihi Abainya Ibu terhadap Potensi Diri



Pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah diubah menjadi di rumah sejak Senin (16/3) setelah sejumlah provinsi mulai meliburkan sekolah, dari jenjang TK, SD, SMP dan SMA hingga Senin (30/3). 

Langkah itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona jenis baru atau Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.
Siswa tetap diberi tugas sekolah untuk dikerjakan meski berada di rumah. 

Adapun konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah diharapkan peran serta orang tua dalam pengawasan proses belajar anak selama berada di rumah.

Walaupun selama proses belajar di rumah masih menggunakan sistem pembelajaran disekolah melalui kelas dalam jaringan atau yang biasa di singkat daring, namun bukan berarti tanpa kendala.

Karena akibat sistem pembelajaran home learning yang dilaksanakan secara "mendadak" ini menimbulkan banyak pertanyaan, terutama di kalangan pengajar yang belum terbiasa dengan metode ini.
sebabnya tidak semua guru memahami prosesnya sehingga di alihkan dengan memberi tugas yang menumpuk pada siswa. 

Akibatnya siswa belajar di rumah tanpa adanya struktur atau ketentuan yang jelas dari guru hingga mengakibatkan sering terjadinya hambatan dalam proses belajar mengajar.

Kendala juga bisa terjadi pada saat orang tua yang tidak bisa menyediakan fasilitas untuk belajar di rumah bagi anaknya. Sehingga anak kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran.
Karena untuk pelaksanaan sistem daring fasilitas seperti gawai sudah pasti yang paling dibutuhkan dan hal tersebut bukan merupakan tanggungan negara artinya orang tua lah yang harus menyiapkannya sedangkan tidak semua orang tua dalam keadaan bisa memenuhinya.

Permasalahan yang tak kalah membuat miris adalah karena keterbatasan keterlibatan peran orang tua dalam hal pengawasan pembelajaran anak.
Dikarenakan orang tua terbiasa melepaskan urusan pembelajaran anak sepenuhnya kepada sekolah, sehingga saat anak "dikembalikan" ke rumah banyak orang tua yang jadi bingung dan stres dibuatnya.

Karena meski terlihat menyenangkan, pembelajaran di rumah bukanlah sesuatu yang mudah, tapi justru menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi para orang tua, dari yang gagap teknologi, pendidikan minimal serta kewalahan membagi waktu di rumah hingga stres menjadi momok bagi orang tua.

Maka disinilah peran orang tua terutama ibu dituntut untuk bisa menjadi pengurus rumah tangga sekaligus guru bagi anak-anak nya.
Karena sebagai ummu warobatul bait dan ummu madrosatul ula yang mana seorang ibu dituntut untuk berperan dan mencari solusi pengajaran sehingga tidak akan ada kekhawatiran atau bahkan stress dan kebingungan dalam menghadapi di kembalikannya sistem pengajaran anak kepada orang tua akibat pemberlakuan physical distancing tersebut. 

Karena pada hakikatnya seorang ibu adalah guru bagi anak-anaknya maka dari itu ibu harus mau berusaha mencari ilmu terbaik selain memiliki kepribadian mulia sehingga bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Ibu seharusnya mencontohkan kepada anaknya agar tidak berhenti menuntut ilmu, bahkan hingga akhir hayat. Dimana pun, kapan pun, bukan hanya lembaga pendidikan formal atau di pengajian saja. Namun juga dalam setiap hal dan kesempatan yang diberikan Allah dalam kehidupan kita.
Bukan malah bingung dan stress karena bertambahnya tugas mengajar anak.

Rasulullah ﷺ bersabda 
yang artinya:

"Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu."
(HR Tabrani)

Ibu adalah gambaran makhluk yang sarat akan nilai kebajikan.
Maka hendaknya ibu menggunakan kesempatan terbaik saat anak di rumah, kesempatan setiap hari bertemu dan menghabiskan waktu sehingga tidak boleh di sia-siakan selain menemani dan mengawasi dalam tugas sekolah, ibu juga berkesempatan untuk memberikan tarbiyah kepada anak-anaknya, guna menanamkan fikroh Islam kepada mereka.

Ilmu agama menjadi prioritas untuk dipelajari. Namun bukan berarti ilmu-ilmu lain diabaikan, sebab dengan ilmulah, manusia dapat ikut serta membangun kemajuan zaman, mengungkap kebenaran, dan memahami rahasia-rahasia yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan.

Karena ibu yang mulia adalah seorang ibu yang ikhlas mencurahkan kemampuannya baik pikiran dan hatinya untuk memberikan kontribusi terbaik bagi anaknya. Ibu yang ikhlas melakukan kewajibannya dengan hanya berharap kepada Ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala maka akan memberikan energi yang positif yang dimilikinya hingga akhirnya bisa mengantarkan anak menjadi pribadi yang berprestasi dan berkualitas serta berguna bagi orang lain.

Karena pembelajaran pada anak berpengaruh terhadap kualitas iman dan akhlaknya.
Maka sejatinya tugas orang tua, ibu utamanya untuk mempersiapkan anak agar siap menjalani kehidupan, sebagai individu yang bertanggung jawab sebagai hamba Allah.

Sehingga walaupun pada saat anak-anak berada di rumah, mereka akan tetap mendapatkan pendidikan terbaiknya.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepengurusannya."
(HR Muslim)

Proses home Learning akibat kebijakan Physical Distancing akibat wabah Covid-19 ini memberikan banyak pelajaran bahwa mengembalikan peran ibu sebagai madrasatul ula adalah suatu keutamaan agar bisa mengantarkan anak menjadi manusia sukses di dunia dan selamat diakhirat. Ibu bertugas menyiapkan dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat menjadikan generasi shalih yang selalu mendoakan orang tuanya hingga menghasilkan segala hal baik dan menghilangkan hal buruk yang akan merusak anaknya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Wallahu a'lam bi shawab.[]

Oleh: Ummu Azwa

Posting Komentar

0 Komentar