Mengimani Qadla dan Qadar dari-Nya di Tengah Wabah Corona (Covid-19)


Wajib bagi seorang muslim untuk beriman kepada Qadla, baik dan buruknya dari Allah SWT. Dengan kata lain, ia wajib meyakini bahwa semua kejadian yang berada di luar kekuasaannya datangnya dari Allah SWT. 

Munculnya virus SARS-CoV-2 merupakan kejadian yang berada di luar kekuasaan manusia. Maka wajib bagi kita beriman bahwa kejadian Covid-19 datangnya dari Allah SWT semata.

Para peneliti dari Scripps Research telah menganalisa data genom dari virus tersebut yang sudah tersedia untuk publik dan mereka tidak menemukan bukti bahwa ia dibuat di laboratorium oleh pihak tertentu. Riset ini mengindikasikan bahwa corona merupakan produk dari evolusi alami.

"Dengan membandingkan rangkaian data genom yang tersedia, kami dengan tegas dapat menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," kata Dr Kristian Andersen yang membesut studi itu.

Dikutip detikNet dari Mirror, periset menganalisa protein yang berada di bagian luar virus yang digunakan untuk memasuki sel manusia. Terungkap bahwa protein itu sangat efektif dalam mengikat sel manusia sehingga sangat mungkin ia adalah hasil dari seleksi alami.

Struktur molekular keseluruhan dari virus corona juga mengindikasikan bahwa ia muncul dari alam, bukan dibuat oleh manusia. Periset pun yakin bahwa virus itu kemungkinan berasal dari hewan yang 'melompat' ke manusia.

"Jika seseorang ingin membuat virus corona baru, mereka akan merekonstruksinya dari virus yang menyebabkan penyakit. Tapi ditemukan bahwa SARS-CoV-2 berbeda secara substansial dari virus corona yang sudah diketahui," sebut periset.

Temuan tersebut menambah pengetahuan dan keyakinan tentang dari mana virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 berasal, yaitu dari Allah SWT semata.

Wajib pula bagi seorang muslim untuk beriman kepada Qadar, baik dan buruknya dari Allah SWT, baik khasiat-khasiat (sifat dan ciri khas) tersebut akan menghasilkan kebaikan ataupun keburukan. Manusia sebagai makhluk tidak mempunyai pengaruh apapun dalam hal ini. 

Virus SARS-CoV-2 memiliki sifat dan ciri khas. Menurut sejumlah pemberitaan yang beredar, penyebaran SARS-CoV-2, diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas sejumlah masyarakat dalam mengonsumsi satwa liar seperti tikus, kelelawar, curut, karnivora, dan primata. 

Tidak hanya menyebar melalui satwa liar, SARS-CoV-2 juga menginfeksi antar manusia melalui batuk maupun bersin. Masyarakat harus waspada karena gejala Covid-19 dapat muncul hanya dalam satu atau selama empat belas hari setelah terpapar virus. Hal ini didasarkan pada apa yang telah diamati pada penyebaran virus sebelumnya sebagai masa inkubasi. 

Kita juga harus mengimani bahwa sifat dan ciri khas (khasiat) yang terdapat pada virus SARS-CoV-2 tersebut merupakan Qadar, baik dan buruknya dari Allah SWT.

Manusia memiliki kebebasan memilih perbuatan di luar Qadla. Qadar juga tidak diciptakan Allah dalam bentuk yang dapat memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Oleh karena itu, manusia bebas melakukan suatu perbuatan ataupun meninggalkannya tanpa pernah dipaksa. Allah juga tidak pernah menciptakan khasiat-khasiat benda sebagai sesuatu yang dapat memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. 

Oleh karena itu, terkait wabah Corona (Covid-19) manusia memiliki pilihan untuk melakukan perbuatan. Manusia bisa memilih perbuatan untuk ikut mencegah penyebaran virus dengan menjaga imunitas, menjaga lingkungan, menggunakan masker saat berada di ruang terbuka, mengolah makanan dengan tepat, dan segera ke dokter apabila mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, flu, batuk, demam, atau sesak nafas.

Hingga saat ini masih belum ditemukan treatment yang spesifik selain isolasi. Lalu apakah pernyataan-pernyataan seperti ini relevan untuk dijadikan pilihan perbuatan di tengah wabah Corona (Covid-19)? 

"Ayooo ramaikan masjid. Virus Corona itu tentara Allah. Dengan ke masjid dia akan tunduk."

"Mati itu urusan Allah. Buat apa kita sholat di rumah. Justru harus ke masjid."

"Mengapa kita takut kepada virus Corona. Harusnya lebih takut kepada Allah. Ga perlu kita di rumah terus."

"Dengan wudhu dan doa kita akan terhindar dari corona."

"Kalau sudah takdir ya takdir aja kita mati. Ga usah lebay soal Corona."

Pernyataan di atas, dan pernyataan sejenis lainnya banyak disampaikan pada saat membahas masalah Qadla dan Qadar di tengah wabah Corona (Covid-19). 

Apabila kita meneliti masalah Qadla dan Qadar, ternyata masalahnya bukan menyangkut Ilmu Allah, dilihat dari kenyataan bahwa Allah SWT mengetahui apa yang akan terjadi pada manusia karena ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu. Tidak terkait pula dengan Iradah Allah sehingga perbuatan harus terjadi karena adanya iradah tadi. Tidak juga berhubungan dengan status perbuatan hamba yang sudah tertulis di lauhul mahfudz yang tidak boleh tidak ia harus melakukannya sesuai dengan apa yang tertulis di dalamnya. 

Pilihan perbuatan yang bisa dilakukan ketika ada wabah seperti Corona (Covid-19) sudah dicontohkan dalam kisah Umar bin Khattab pada 18 H. Saat itu, Umar melakukan perjalanan dari Madinah menuju Syam. Di perbatasan masuk wilayah Syam rombongan berhenti. 
Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menjemput dan menyambut rombongan Khalifah.

Kala itu, Syam tengah tertimpa wabah tha'un, sebuah penyakit menular. Benjolan muncul di seluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Umar bermusyawarah dan meminta saran kepada sahabat muhajirin, anshar, dan orang-orang yang ikut dalam peristiwa Fathu Makkah. Apakah akan melanjutkan perjalanan masuk ke Syam atau kembali ke Madinah? Perbedaan pendapat terjadi.

Abu Ubaidah ra menginginkan agar mereka masuk ke Syam.

"Mengapa engkau lari dari takdir Allah SWT?" Tanya Abu Ubaidah kepada Umar.

Lalu Umar ra menyanggahnya dan mengatakan,"Jika kamu punya kambing dan ada dua lahan yang subur dan yang kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kami hanya berpindah dari takdir yang satu ke takdir yang lain."

Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf ra mengucapkan hadist Rasulullah SAW.

"Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya." (HR. Bukhari & Muslim)

Pembahasan masalah ini semoga dapat mendorong manusia untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, selama ia sadar bahwa Allah senantiasa mengawasinya serta akan minta tanggung jawabnya. Manusia akan menyadari pula bahwa Allah SWT telah memberikan kepadanya kebebasan memilih untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Ia akan selalu berusaha melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena takut ditimpa azab Allah serta merindukan Surga-Nya. Bahkan ia menginginkan yang lebih besar dari itu, berupa keridlaan Allah.[]

Oleh Tri Widodo
Dosol Uniol Diponorogo 4.0

Posting Komentar

0 Komentar