Menghadapi Epidemi Corona, Rakyat Butuh Pemimpin

Sumber gambar: kompas.com

Tak disangka, kabar terkini mengungkapkan positif Covid-19 di Indonesia meningkat begitu pesat. Sejak diumumkan pasien pertama pada 2 Maret lalu, 18 hari setelahnya sudah mencapai 450 kasus dengan rincian 20 sembuh sedangkan 35 harus berakhir dengan kematian. Hal ini tentu sangat jauh di luar prediksi mengingat negara lain di benua Asia tingkat kematiannya tidak sampai satu persen.

Pada faktanya pemerintah memang telah gagal mencegah masuknya virus Corona ke Indonesia. Lebih parah dari itu, presiden sebagai pemimpin negara justru mengaku telah menyembunyikan kasus terdeteksi dengan dalih mengantisipasi kepanikan rakyat.

Ketidak jujuran pemerintah ini tentu sangat disayangkan. Upaya pemerintah untuk membendung informasi terkait Covid 19 justru mengkhawatirkan banyak pihak dan membuat rakyat semakin panik.

Transparansi rekam jejak pasien Covid 19 juga tidak dipublikasikan. Akan sangat rumit ketika petugas melacak satu persatu individu yang pernah melakukan kontak dengan penderita Covid 19 tanpa ada transparansi. Peluang kasus tidak terdeteksi akan semakin besar, karena masyarakat merasa sedang baik-baik saja. Alangkah lebih mudah ketika ada transparansi rekam jejak pasien kepada media massa. Sehingga  yang pernah melakukan kontak dengan kesadaran diri akan melapor kepada pihak terkait. Dengan demikian masyarakatnya akan lebih waspada.

Begitupun mengenai pelaksanaan tes Covid 19 yang awalnya dilakukan terpusat. Adanya monopoli dari pemerintah tentu sangat disayangkan. Sebagai komandan task force, presiden seharusnya tanggap dalam menyikapi hal ini. Sangat memalukan ketika WHO telah mengirimkan surat kepada pemerintah baru kemudian diambil kebijakan. Menjadikan wabah sebagai bahan bisnis adalah sebuah ironi. Harga nyawa dipandang sangat rendah.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari negara lain yang sudah lebih dulu mampu mendeteksi virus corona. Rupanya pemerintah tidak bisa mengambil sinyal positif sehingga tidak adanya upaya preventif. Akibatnya, death rate Covid 19 sangat tinggi.

Sejak awal kasus ini muncul, Indonesia sudah sangat diragukan dalam mempersiapkan diri menghadapi virus Corona.

Ketika negara-negara di Asia tenggara bahkan Eropa telah mendeklarasikan bahwa ada beberapa orang dari warganya positif Covid 19, Indonesia justru dengan sombongnya mengatakan kebal dengan virus Corona. Sangat dipertanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut belum ada satupun dari WNI yang positif korona atau karena Indonesia tidak mampu mendeteksi adanya nya virus tersebut.

Sehingga dari awal sudah terlihat bahwa keseriusan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini sangatlah kurang.

Nyatanya, pandemi tidak terjadi hanya sekali dalam kehidupan umat manusia. Sebelum teknologi secanggih yang kita temukan saat ini, wabah penyakit menular sudah ada sejak zaman kejayaan Islam, Rasulullah dan para sahabat. Pada kepemimpinan Umar bin Khattab misalnya. Sebagai seorang khalifah beliau dengan tegas memerintahkan kepada seluruh penduduk kota terjangkit wabah  agar tidak keluar baik yang sakit maupun sehat. Serta dengan tegas melarang penduduk yang berada di luar kota agar tidak masuk daerah terserang wabah. Bahkan social distancing yang disuarakan saat ini mengadopsi dari perintah Umar kepada rakyatnya agar berpencar dan tidak berkumpul.

Islam akan selalu sukses menjadi solusi ketika diemban oleh sebuah negara. Karena dengan begitu, ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah swt melandasi setiap tindakan dan keputusan yang di ambil seorang Khalifah. Sehingga yang dihasilkan adalah keputusan yang membawa kepada kemaslahatan umat seluruhnya.[]

Oleh Rofi'ah Khoirunnisa

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar