Mengapa Ramai Penolakan RUU Ketahanan Keluarga


Dewan Perwakilan Rakyat berancang-ancang membahas regulasi anyar yang disebut Rancangan Undang-Undang tentang Ketahanan Keluarga. Isi dari Undang-Undang Ketahanan Keluarga ialah ancaman pidana bagi pendonor sperma dan ovum hingga peraktek sewa rahim, mengatur urusan rumah tangga dengan serangkai tugas dan kewajiban untuk suami dan istri, sampai wajib lapor buat orang-orang yang berprilaku seks menyimpang.

Tujuan yang paling mendasar perumusan RUU Ketahanan Keluarga untuk melindungi keluarga-keluarga demi mewujudkan peradaban Indonesia. Ketahanan Keluarga yang bermuara pada ketahanan Nasional ujar Netty Prasetiyani anggota lima DPR.

Sayang, mendapat penolakan dari staf khusus Presiden Jokowidodo, Dini Purnomo menilai RUU Ketahanan Keluarga terlalu menyentuh ranah peribadi. Seharusnya pemerintah terlebih dahulu mempelajari rancangan RUU Ketahanan Keluarga dan sama-sama mendiskusikannya. Karena bangsa Indonesia bangsa yang besar, besar penduduknya, masalahnya banyak, pengangguran banyak, orang yang bercerai juga banyak, akibat percerain, pengangguran, kemiskinan itu berdampak pada kejahatan terhadap anak-anak dan perempuan.

Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga akan memberantas masalah LGBT akibat masalah LGBT dapat merusak moral bangsa, seperti hubungan sesama jenis ialah lesbian, gay, biseks dan transgender. Masalah tersebut sangat berbahaya bagi masa depan anak bangsa. Transgender yang diusung oleh pengiat paham liberal berdasarkan HAM memperjuangkan hak perempuan setara laki-laki dalam ranah publik akan menggerus tugas utama seorang ibu dan istri dalam ketahanan keluarga. Fakta sekarang permpuan lebih suka berkerja diluar rumah dibanding mengerjakan kewajibannya didalam rumah alsan yang klise faktor ekonomi. Mengakibatkan lemahnya ketahanan keluarga yang berimbas tingkat perceraian meningkat tajam. Tahun 2018 terdapat 420 ribu meningkat dua kali lipat di tahun 2013 hanya 200 ribu perceraian.

Ditengah arus liberalisasi dan makin banyaknya wujud keberhasilan kampanye liberal, RUU seperti ini dianggap ide mundur dan menggugat kemapanan (kesetaraangender, peran publik perempuan, perlakuan terhadap LGBT) serta terlalu mencampuri ranah pribadi.  Harapan terwujud Ketahanan Keluarga dari pembakuan relasi suami istri, pendidikan dalam rumah untuk mencegah kekerasan seksual dan mengobati peyimpangan seksual justru dipersoalkan.

Sistem sekuler pemisahan agama dari kehidupan, agama hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang pencipta dan aturan publik diatur dengan aturan yang dibuat oleh manusia mustahil menghasilkan Undang-Undang regulasi keluarga berdasarkan islam karena dianggap melanggar perinsip-perinsip sekuler liberal yang dianut.

Cara jitu Islam menghapus kekerasaan dan penyimpangan seksual serta hasilkan generasi harapan dari ketahanan keluarga dengan menjadikan islam sebagai sumber aturan yang Paripurna.

Dalam Islam, negara dan agama tidak mungkin dipisahkan. Agama syariat yang terwujud dalam bentuk negara. Negara wadah penerapan syariat islam, rwpresentasi islam adalah negara. Islam menetapkan negara sebagia penaggung jawab utama untuk kebaikan bangsa, masyarakat termasuk keluarga. Ketahanan keluarga adalah isu penting dalam islam sebagai madrasah ula, keluarga ditempatkan berdasarkan pembentukan identitas bangsa antara negara dan keluarga mempunyai ikatan sinergi kuat dan strategis. 

Kesuksesan keluarga mewujudkan keluarga sholih-mushlih (baik dan memberi kebaikan pada masyarakat dan negara) wajib ditopang oleh kepemimpinan ditingkat negara. Negara menciptakan suasana masyarakat tempat generasi menimba pengalaman hidup dan menempa mental dengan syrita islam. Menyediakan pendidikan formal dengan kurikulum yang bertarget melahirkan calon orang tua sholih-mushlih dan siap membina rumah tangga. Negara menebar nilai-nilai kebaikan melalui sistem media massa yang bermanfaat menguatkan keyakinan masyarakat dan mencerdaskan. Mencegah munculnya informasi negatif di media massa yang kontra produktif dengan akidah dan ahlak.

Hanya sistem Khilafah yang dasar syariat islam yang mampu mewujudkan Ketahanan Keluarga bagi massa depan bangsa Indonesia menuju peradaban Islam yang akan memimpin dunia. Aamiin.[]

Oleh Ratna sari dewi

Posting Komentar

0 Komentar