TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menelisik Penyebab Runtuhnya Khilafah 3 Maret 1924

Kekhilafahan bagaimanapun juga merupakan bagian dari sejarah peradaban dunia yang tidak bisa dihapuskan. Keberadaannya telah terekam dalam berbagai literatur sejarah hingga ketiadaaanya sejak tahun 1924 M silam. Dengan kata lain ketiadaanya dimulai sejak runtuhnya kekhilafahan yang terakhir di turki usmani. 

Berkaitan dengan perihal tersebut maka An Nabhani (2009: 163) dalam kitab daulah islam menyatakan bahwa setelah Rosululloh SAW wafat, para sahabat bersepakat untuk membaiat seorang khalifah bagi mereka dalam kepemimpinan negara. Kaum muslim terus menerus mengangkat seorang pemimpin bagi negara hingga tahun 1342 H/1924M. Mereka menamakan pemimpin negaranya dengan sebutan khalifah, amirul mukminin, imam atau sulthan dan tidak seorang pun menjadi khalifah kecuali dengan baiat. 

Kekhilafahan telah berhasil menyatukan kaum muslimin dalam satu kesatuan yang utuh dalam sebuah negara islam. Perbedaan warna kulit, asal suku, asal wilayah dan sebagainya bukan menjadi faktor pemisah dan pelemah kaum muslimin. Selama mereka berakidah satu dan sama yaitu aqidah islam maka mereka adalah saudara yang bagaikan satu tubuh yang saling menguatkan. 

Persatuan kaum muslimin dalam satu kepemimpinan negara berlangsung cukup lama hingga kurang lebih 1300 tahun lamananya. Tentu dengan dinamika yang menyertainya. Kadangkala pada masa tertentu menjadi kuat dan pada masa yang lain melemah. Pada masa berikutnya bangkit kembali dan mampu kembali kuat hingga akhirnya dengan ketentuan Alloh SWT semata, yaitu munculnya berbagai permasalahan termasuk andil dari kaum kafir penjajah, daulah islam berhasil dihancurkan dan dihilangkan eksistensinya melalui Kamal Attatruk laknatulloh alaihi. 

Penghilangan eksistensi kekhilafahan dimulai dengan upaya pelemahan terhadapnya. An Nabhani (2009: 203) dalam sub bab faktor-faktor kelemahan daulah islam menyatakan bahwa musuh-musuh Islam mengetahui hal itu (kelemahan daulah islam). Mereka sadar Daulah islam tidak dapat dilemahkan selama Islam masih kuat dalam jiwa kaum muslimin, baik dalam pemahaman dan penerapannya. Oleh karena itu mereka berusaha menciptakan sarana-sarana yang dapat memperlemah pemahaman kaum muslimin terhadap Islam dan penerapan hukum-hukum Islam. 

Pada akhirnya mereka menemukan sarana-sarana yang tepat yang dapat digunakan untuk melemahkan pemahaman Islam secara banyak dan efektif. Secara garis besar berikut upaya-upaya yang mereka berhasil lakukan termasuk sarana-sarana yang dipakai oleh kaum kafir munafiqun dalam meruntuhkan daulah Islam Turki Ustmani.

a. Pelemahan Pemahaman Islam melalui

1) Menyusupkan hadits-hadits palsu yang tidak pernah Rosul SAW ucapkan agar kaum muslimin terjauh dari islam

2) Memisahkan bahasa arab dari islam. Hal ini sangat efektif terutama setelah abad ke 6 hijriyah dimana kekuasaan kaum muslimin berada di tangan orang yang tidak mengetahui nilai bahasa arab. Bahasa arab disia-siakan sehingga ijtihad terhenti dan pemahaman aktual negara melemah. Contoh: kebingungan mengahadapi revolusi industri pada abad ke 18 M dengan mengharamkan mesin pengganda buku produk dari Barat.

3) Menyelaraskan antara filsafat dengan Islam. 

4) Mendatangkan sistem-sistem yang bertentangan dengan Islam. Mereka menggambarkan bahwa sistem yang mereka bawa sesuai dengan hukum-hukum islam. Contoh: undang-undang perbankan ribawi, nasionalisme, demokrasi

b. Buruknya penerapan islam (efek domino dari pelemaham pemahaman Islam), sarana yang mereka lakukan melalui:

1) Keberadaan partai politik yang berpedoman hanya pendapat partainya yang harus dilaksanakan.

2) Pergantian Khalifah dengan metode putra mahkota yang dimulai sejak Khilafah Umayyah. Pengangkatan Khalifah tetap dengan bai’at, hanya saja metode pemilihannya dengan putra mahkota.

Dari pemaparan di atas dapat diketahui bahwa upaya kafir penjajah dalam meruntuhkan daulah Islam dilakukan dengan propaganda pemikiran dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam hingga kebangkitan Islam.[]

Oleh Ika Mawarningtyas
Analis Muslimah Voice

Posting Komentar

0 Komentar