Menanti Pasti Langkah Strategis Pemerintah dalam Menangkal Corona


Ditengah merebaknya Wabah Corona, kualitas pemimpin negeri ini diuji.  Per tanggal 20 maret 2020 kasus pasien positif mencapai 369 orang. Ini mengalami peningkatan 61 kasus dari hari sebelumnya 308 orang. Dari total 369 pasien Covid-19, sebanyak dinyatakan sembuh. sementara 32 orng menitasa. (kompas.com 20/03/2000).


Sementara dari data yang dihimpun Worldormeter, Johns Hopkins University per 20 Maret 2020 kasus Corona Dunia tercatat 271.692 positif, 87.403 dinyatakan sembuh, dan 11.280 meninggal. Indonesia berada di posisi pertama dengan persentasi kematian 8, 67%. Angka ini lebih tinggi dari persentasi dunia yakni 4, 15%.

Perlu diingat bulan lalu kita pernah takabur dikarenakan orang-orang  yang seharusnya menjadi panutan dinegeri ini justru mengangap remeh wabah corona yang sudah dinyatakan pandemik oleh WHO. Kita dengan banga diri menyatakan bahawa  Indonesia Zero Case, padahal langkah preventif belum maksimal dilakukan. Bahkan dengan santainya promosi pariwisata dengan diberikannya diskon penerbangan. Padahal negara lain sudah banyak yg melakukan Lockdown untuk mencegah virus Corona. Hasilnya bisa kita lihat sekarang sudah mencapai 300 kasus lebih. Bahkan Ring 1 pun tidak luput dari wabah Corona yang menggila, selain itu satu kepada daerah juga terdata positif Covid-19.

Kita harusnya belajar dari pengalaman negara-negara lain dalam megalami pandemik ini. hingga saat ini pemerintah belum melakukan Lockdown, hanya sebagian daerah yang memberlakukannya, itu pun atas inisiatif Kepala Daerah sendiri.

Kalimantan Selatan yang sudah meningkatkan status dari siaga darurat menjadi tanggap darurat, hanya sebagain wilayah saja yang mengeluarkan kebijikan untuk Bejalar Dirumah. Sementara yang lainya belum ada kebijakan untuk Belajar di Rumah. Padahal saat ini tercatat ada 285 Orang Dalam Pengawasan (ODP) (Banjarmasinpost 21/03/2020). Sedangkan PDP (Pasien Dalam Pantauan) ada 5 orang dan 1 orang meninggal dari PDP (Gugus Tugas Covid-19 20/03/2020).

Namun sungguh disayangkan sikap pemerintah masih belum tegas dalam melihat kasus ini. Memang di Kalsel belum ada yang positif, tapi apakah harus menunggu ada yang positif baru mengambil langkah strategis? Padahal di provinsi yang bersebelahan langsung dengan Kalimantan Selatan sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Kalimantan Tengah 2 Orang Positif, dan Kalimantan Timur 9 orang positif.

Padahal dari berbagai kasus pasien positif, ada beberapa kasus yang tidak menimbulkan gejala yang seperti di sampaikan WHO. Seperti di China tempat awal wabah merebak, dan juga kasus yang dialami aktor Hollywood yang sama sekali tidak menimbulkan gejala, tetapi setelah dilakukan tes ternyata hasilnya positif. Artinya baik ODP atau pun PDP itu bisa saja berpotensi positif Covid-19. Namun pemerintah masih lamban dalam mengambil langkah strategis melakukan upaya preventif dalam melindungi rakyatnya.

Tabalong sendiri adalah kabupaten yang bersebelah langsung dengan wilayah terdampak Covid-19. Dinas Kesehatan Tabalong sendiri mencatat 63 Orang berstatus ODR 11 diantaranya ODP Covid-19 (Klikkalsel.com 20/03/2020). Namun juga belum mengambil langkah strategis dalam menangkal corona, hanya sekedar himbauan untuk menjaga kebersihan tangan dan menggunakan masker. Sekolah-sekolah belum dirumahkan, warga masih banyak wara-wiri di jalan, meski juga banyak yang khawatir. Para pekerja masih beraktivitas seperti biasa. Tempat-tempat wisata masih dibuka. Padahal Tabalong juga seharusnya patut waspada melihat adanya pekerja asing yang bekerja di Tabalong dan bahkan Perusahaan milik Cina juga ada di Tabalong.

Selain itu mayoritas pekerja tambangnya adalah non-lokal, yang juga bisa berpotensi membawa virus corona dari asal daerahnya. Dan bahkan juga ada Mahasiswa yang mendapat beasiswa kuliah di Cina yang pada saat mewabahnya virus corona mereka dipulangkan, meski ada yang sudah dilakukan screening dari pemerintah pusat dengan diisolasi selama 14 hari di Natuna, namun ternyata ada juga yang hanya melakukan karantina mandiri dirumah masing-masing.

Mengenai peristwa ini, banyak pihak yang meminta untuk dilakukan Lockdown. Namun pemerintah sepertinya masih takut untuk memutuskan hal tersebut. Pertimbangannya tak lain adalah karena faktor ekonomi negara. Tentu saja negara yang berasas Kapitalisme akan sulit untuk mengatasi wabah seperti ini.

Lockdown sebenarnya sudah pernah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW, itu berarti sudah 14 abad yang lalu. Memang wabah pandemi belum terjadi di zaman Nabi, tetapi Nabi Muhammad shalla-Llahu 'alaihi wa sallama sudah mengajarkan, kalau itu terjadi, bagaimana umatnya menyikapi.

Nabi bersabda “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini menjelaskan larangan memasuki wilayah pandemi, agar tidak tertular. Begitu juga bagi yang sudah di dalam tidak boleh keluar, agar tidak menularkan kepada yang lain. Kecuali, keluar dari wilayah itu untuk berobat.

Ketika pandemi ini terjadi di zaman Khalifah 'Umar, saat itu wilayah pandeminya adalah Amawash, dekat Palestina, wilayah Syam. Umar ketika itu tiba di Saragh, tapi sahabat-sahabat yang dari wilayah Syam mengingatkan beliau untuk tidak ke sana.

Sesungguhnya Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Muslim)

Umar kemudian menugaskan Abu Musa al-Asy'ari agar menjadikan Saragh sebagai wilayah transit, untuk pengobatan, bagi korban pandemi yang terjadi di Amawash. Termasuk Abu Ubaidah al-Jarrah, dan beberapa sahabat.

Selain itu ada hadits lain yang memerintahkan lari dari wilayah pandemi, dan menjauhkan diri dari orang yang terkena pandemi. Semua ini adalah ikhtiar, terkait dengan halah (kondisi). Bukan sebab. Karena sebabnya adalah Allah.

Syekh Hafiz Abdurrahman menjelaskan terkait hadits di atas sebagaimana mencari rizki. Bekerja itu bukan sebab, tetapi halah (kondisi). Kadang rizki datang, kadang tidak. Karena sebab rizki adalah Allah. Menghindari wabah ini bukan sebab sehat atau sakit, karena sebabnya Allah. Tapi, inilah ikhtiar yang diwajibkan. Islam tegas dalam hal ini. Mencegah mudarat, tak ada toleransi!

Kunci lain dalam manangani wabah adalah peran umat. Umat yang mempunyai  pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara, mudah diatur. Bahkan, ketika negara dalam kondisi kesulitan, umat dengan suka rela mengasuh, mendukung, menjaga dan membantu negara. Bisa kita bayangkan, jika negara yang selama  ini memusuhi umat, pemahaman, standarisasi dan keyakinan mereka, tentu akan sangat sulit didukung dan dijaga oleh umat. Apalagi, jika negara itu terus-menerus melakukan tindakan yang diskriminatif terhadap rakyatnya.

Maka disinilah pentingnya membangun negara dengan kekuatan umat. Karena dibangun dengan keyakinan dan pandangan yang sama, yang dimiliki oleh umat. Krisis dan pandemi sudah terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia, termasuk era kejayaan Islam. Tapi, semua berhasil dilalui oleh kaum Muslim, dan dalam kondisi krisis, umat berdiri menjadi penjaga dan penopang utama kekuasaan negara.

Karena pada masa itu, negara mengurusi urusan mereka. Memberikan apa yang menjadi haknya. Baik sandang, papan, pangan, pendidikan, keamanan dan kesehatan dengan sempurna. Negara dan umat bergandengan tangan. Inilah rahasia, mengapa peradaban Islam bisa bertahan hingga 14 abad. Semua karena dukungan umat.[]

Oleh Gusti Nurhizaziah


Posting Komentar

0 Komentar