Kritik Cantik dan Self Love


Seorang aktris berinisial TB mengunggah foto tanpa busana di akun media sosialnya dengan caption yang mengkampanyekan body positivy. Ia mengajak masyarakat mencintai tubuhnya sendiri, walau ada lipatan perut, strech mark. Mencintai dan menerima tubuh yang tak indah dan tak sempurna jika ditimbang oleh standar cantik saat ini. Apalagi jika dinilai oleh dunia modeling. Foto tanpa busana yang akhirnya diganti dengan foto minim busana oleh TB dengan caption yang sama ini dinilai mengkritik standar cantik dan mengedukasi masyarakat untuk mencintai diri. Sehingga banyak yang mendukungnya dan menilainya tidak melanggar aturan ataupun norma. 

Cantik

Cantik yang identik dengan tubuh yang langsing tanpa lipatan, tinggi semampai, kulit putih mulus, rambut panjang tergerai, dan lainnya, adalah definisi cantik menurut orang Barat. Cantik yang kini dibahasakan dengan 'bening' ini sukses membuat para pengusaha berlomba membuat produk pemutih, pelangsing, peninggi badan, dan semisalnya. Dan faktanya, standar cantik ini memang sengaja dibuat untuk mendongkrak penjualan produk kecantikan, untuk keuntungan materi bagi para pengusaha. 

Larisnya produk-produk tersebut jadi bukti banyak wanita yang insecure bahkan anxious atas bentuk tubuhnya, warna kulitnya, tinggi badannya, dll. Merasa rendah diri, merasa tak cantik, merasa tak nyaman dengan diri sendiri. Bukti bahwa para pengusaha sukses dengan iklan berbagai produk kecantikannya. 

Padahal, standar cantik di berbagai tempat itu berbeda. Misalnya, di Mauritania, cantik bagi mereka adalah wanita yang memiliki tubuh yang gemuk atau tambun. Karena besarnya tubuh jadi lambang kemapanannya, berkecukupan untuk makan. Bahkan, tak jarang anak-anak perempuan dipaksa makan banyak sampai muntah. Di Cina, cantik menurut mereka pada jaman dulu adalah memiliki kaki runcing dan kecil. Maka, sejak kecil hingga tua, mereka tak pernah mengganti sepatu. Bahkan, sengaja membentuk kakinya sehingga kakinya berbentuk menyesuaikan dengan sepatu kecilnya. Di Kalimantan, salah satu sukunya menganggap cantik itu jika telinga wanita panjang. Sehingga mereka memakai anting dari logam berat setiap tahunnya yang membuat telinganya panjang. Dan masih banyak standar cantik dari berbagai daerah lainnya. Tapi, satu yang sama, para wanita rela melakukan hal yang membuatnya masuk kategori cantik, walau itu menyakitinya. 

Bagaimana dengan Islam? Sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia, dan juga sebagai ideologi, Islam memiliki pandangan khas tentang cantik. Dalam Islam, bentuk tubuh, warna kulit, bentuk dan warna rambut, bentuk hidung baik itu mancung atau kurang mancung, wajah bulat, oval, semuanya adalah ketetapan Allah. Semuanya pemberian Allah pada diri yang harus disyukuri. Tak perlu operasi plastik, potong tulang sana sini, suntik sana sini agar bisa masuk standar cantik orang, menderita demi dipanggil cantik. Karena Allah yang memberi, Allah tak akan meminta pertanggungjawaban atasnya, tak akan ada hisab tentangnya. Yang akan dihisab adalah bagaimana sikap kita atasnya. Apakah bersyukur atau justru kufur nikmat? Apakah sabar atau malah mencela bahkan mengubahnya? Salah satu cara bersyukur atas pemberian Allah adalah dengan merawatnya, menjaganya, bukan dengan mengubahnya. 

Self Love 

Juga, sebagai bentuk mencintai diri, bukan dengan membuka dan menunjukkannya pada orang-orang. Berani menampakkan yang tabu menurut standar cantik orang. Bukan. Mencintai diri, berarti menjaga diri dari semua keburukan, baik itu penyakit atau keburukan lainnya. Maka, cara mencintai diri itu bisa dilakukan dengan memakan makanan yang halal dan thayyib, berolahraga, mengolah stress, membaca buku untuk memperkaya wawasan, berteman dengan orang yang memberi pengaruh baik, dan lainnya. Ini yang bisa kita lakukan untuk menjaga diri di dunia. 

Sebagai muslim yang percaya akan adanya hari penghisaban, maka kita juga harus menjaga diri kita di akhirat nanti. Menjaga agar jangan sampai satu jengkal pun bagian tubuh kita dijilat api neraka. Caranya? Memperlakukan diri sesuai dengan maunya Pencipta diri. Karena sejatinya, tubuh kita adal amanah dari Nya. Menutup aurat menjadi satu hal yang wajar dilakukan. Bukan karena malu dengan bentuk tubuh lantas menutupinya dari ujung rambut hingga kaki. Tapi, ini bentuk ketaatan pada Pencipta diri. 
Menjaga diri dari api neraka dengan memupuk iman, mendatangi kajian, berkumpul dengan orang sholeh/ah, beribadah, menjalin ukhuwah, dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan. 

Wallahu'alam bish shawab.[]

Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

Posting Komentar

0 Komentar