Khilafah Perisai Umat

Palestina, India, Uyghur, Suriah, Yaman, dan seluruh ummat Islam di dunia mengalami kedzaliman yang tiada hentinya. Pembunuhan dan pembantaian seakan manjadi never ending episode dalam catatan kehidupan ummat saat ini. Kemrosotan aqidah pun tengah dialami generasi muda Islam, pergaulan bebas dimana-mana, narkoba, dan sebagainya. Tentu muncul dalam benak kita, apakah gerangan yang menjadi akar permasalahan itu semua?

Tepat tanggal 3 Maret lalu, 96 tahun sudah kaum muslimin hidup tanpa naungan syariat Islam. Mengalami kemunduran peradaban yang luar biasa, kehilangan identitas mereka sebagai khairu ummah. Bak anak ayam kehilangan induknya, ummat saat ini hidup terombang-ambing. Runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah pada 3 Maret 1924, menjadi mimpi buruk bagi ummat Islam seluruh dunia. Khilafah itu luluh lantak di tangan antek Inggris bernama Mustafa Kemal Ataturk. Mengganti seluruh syariat Islam dengan aturan sekular. Menjauhkan ummat dari kehidupan Islam.

Setelah keruntuhan Khilafah, wilayah-wilayah yang dahulunya bersatu dalam satu naungan yakni Khilafah, terpecah belah menjadi berbagai negara-bangsa (nation-state). Kaum muslimin menjadi sangat lemah tak berdaya. Menjadi santapan empuk bagi para imperialis.

Kita lihat Yaman, dahulu negeri itu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi gemilangnya peradaban Islam. Memiliki peran yang krusial dalam penyebaran Islam di seluruh dunia. Namun kini, Yaman mengalami konflik yang tek berkesudahan, kemiskinan yang luat biasa, rakyat mengalami kelaparan akut. Rata-rat setiap 10 menit, 1 anak di Yaman meninggal. Sekitar 400.000 anak kelaparan, 1,5 juta kekurangan gizi akut, dan tercatat 85rb balita tewas akibat kelaparan.

Di India, kaum muslimin mengalami pembantaian oleh kelompok Hindutva. Masjid dihancurkan, Al-Qur'an dibakar. Bahkan seruan jihad pun dikumandangkan melalui salah satu masjid di India, artinya kondisi disana sangat parah dan mencekam. Pembantaian habis-habisan.
Ummat menjerit meminta pertolongan, namun tak ada satupun yang mampu untuk membebaskan mereka dari kedzaliman yang luar biasa itu. 

Kemanakah para rais daulah Islam? Agaknya mereka telah menutup mata dan telinga atas kondisi ummat saat ini. Meminta bantuan pada PBB pun, hasilnya nihil. Saat ini, ummat Islam pun terkungkung dalam ide nasionalisme yang menjadikan mereka apatis tak peduli dengan saudara seaqidah di belahan bumi lain. Sistem nation-state membatasi gerak kaum muslimin.

Runtuhnya Khilafah pun menjadi penyebab para generasi muda kehilangan identitasnya sebagai seorang muslim. Semakin jauh dari syariat. Negara yang menjadi benteng pertama dalam menjaga aqidah generasi, abai terhadapanya. Media dengan segala tontonannya yang merusak, berhasil menjadi tuntunan bagi generasi. 

Sudahlah negara abai, keluarga yang menjadi benteng terakhir generasi muda pun dilemahkan dan dihancurkan. Orang tua dituntut sibuk mencari materi, daripada sibuk menanamkan aqidah Islam pada anak-anaknya. Terutama perempuan yang memiliki peran krusial dalam tatanan keluarga, mereka dijauhkan dari peran utamanya sebagai madrasah al ula dan ummu wa rabbatul bayt. Bagaimana tidak? 

Dalam sistem kapitalis yang diterapkan saat ini mengusung konsep kesetaraan gender yang menyatakan bahwa perempuan tak hanya memiliki hak untuk bekerja, namun juga diharapkan untuk bekerja. Menjadikan materi sebagai orientasi tertinggi dalam kehidupan, bukan membangun keluarga ideal yang siap mencetak generasi pembangun peradaban Islam.

Dalam Islam, seorang suamilah yang wajib untuk menafkahi keluarga, hal ini termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 33. Maka negara Khilafah wajib untuk menyediakan lapangan pekerjaan, dan khalifah akan menindak seorang suami apabila ia tidak memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan alasan yang tidak dibenarkan syara'. Khilafah akan memastikan setiap individu menjalankan aktivitasnya sesuai dengan syariat.

Namun, para musuh Islam berusaha menanamkan kepada ummat bahwa aturan Islam adalah aturan yang tak sesuai dengan jaman. Akibatnya generasi pun mengekor ide sekular-liberal yang diusung oleh Barat. Kebebasan menjadi asas kehidupan generasi saat ini, syariat diabaikan.

Pernyataan bahwa syariat tidak sesuai dengan perkembangan jaman adalah pernyataan yang tak masuk akal, sebab tak seperti ideologi yang diterapkan saat ini, yakni kapitalis-sekular yang terbukti justru membawa kehancuran, Islam sebagai agama sekaligus ideologi memiliki segala solusi untuk menuntaskan hingga ke akar seluruh problematika kehidupan manusia. Hal itu bukan sekadar isapan jempol belaka, namun telah tercatat dalam tinta emas sejarah.

Will Durant, seorang sejarahwan Barat dalam bukunya, Story of Civilization, mengatakan “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa tak ada aturan yang dapat membawa kemashlahatan bagi seluruh manusia, kecuali aturan Islam. Aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta, yang Maha Mengetahui tentang kehidupan manusia, Allahﷻ.

Maka ketika syariat Islam tidak ditegakkan di muka bumi, pasti akan menimbulkan kerusakan. Seperti firman Allahﷻ, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm : 41) 
Hanya Khilafahlah satu-satunya pelindung ummat, Junnah(perisai) yang menjaga agama, darah, dan harta kaum muslimin. 

Rasulullahﷺ bersabda, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
Laa izzata illa bil Islam, wa laa Islama illa bissyariah. Tiada kemuliaan kecuali dengan Islam, dan tiada Islam kecuali dengan penerapan syariah.

Saatnya kaum muslimin bangkit, bersatu di bawah satu kepemimpinan. Segala penderitaan yang dialami ummat saat ini, hendaknya menyadarkan kita bahwa penegakkan Khilafah Islamiyyah sebagai Junnah(perisai) ummat adalah kebutuhan yang sangat mendesak.

Tiada yang bisa menolong kaum muslimin, kecuali dengan ditegakkannya syariat Islam secara kaffah melalui institusi Khilafah. Wallahua'lam bisshawab.[]

Oleh : Aisya Brilia S

Post a Comment

0 Comments