Ketika Muslim India Dibantai Hindu India, Karena Mereka Muslim


Aksi protes atas disahkannya Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan  baru di India (The Citizenship Amandement Act (Bill) atau disingkat dengan CAA),  akhirnya berujung kerusuhan. Undang-undang tersebut dianggap akan mendiskriminasikan kaum Muslim India karena akan dapat menghilangkan status kewarganegaraannya di India. Undang-undang Kewarganegaraan itu merupakan amandemen undang-undang tahun 1955 yang akan memberikan kewarganegaraan yang merasa terisolasi seperti, Hindu, Sikh, Budha, Parsi, Jain atau Kristen. Para kritikus menyatakan Undang-undang CAA adalah upaya terang-terangan Perdana Menteri Narendra Modi untuk mengimplementasikan visinya tentang negara yang didominasi Hindu. Menopang dukungan dari kalangan mayoritas non Muslim dan meningkatkan ketegangan sektarian.


Menurut sumber yang didapat, saat aksi protes sekelompok Hindu menyapu kota dan bentrokan tidak terelakkan dimana Muslim India dan Hindu India berhadap-hadapan hingga terjadi pembantaian. Menurut keterangan para saksi dan aktivis hak sipil dan jika dinyatakan benar, dikabarkan bahwa kepolisian di Meerut dan kota Uttar Pradesh lain telah mengambil peran dalam menghasut dan menyulut kekerasan. Dan bahkan polisi diam saat terjadi kekerasan, terkesan berpihak kepada warga Hindu.


Meerut adalah salah satu kota di bagian India, dan hampir 40% dari 1,2 juta penduduknya adalah Muslim, termasuk banyak Muslim Dalit. Menurut sejarah, nenek moyang mereka telah berpindah agama dari Hindu ke Islam untuk menghindari penindasan yang tidak tersentuh dibawah kasta Hindu. Karena merupakan bagian dari struktur etnis dan agama yang rumit di India. Dan dikabarkan bahwa komunitas-komunitas tersebut sebagian besar telah hidup damai sejak Partisi 1947. Namun perdamaian kadang diwarnai dengan kekerasan komunal. Kejadian di Meerut pada 20 Desember, memiliki kualitas berbeda, karena mereka tidak melibatkan bentrokan dengan mayoritas Hindu. Menurut sumber, jika tuduhan itu benar, ada anggapan Muslim dengan sengaja dijadikan sasaran oleh Polisi. Kekerasan dimulai pada 23 Februari dan selama beberapa hari masih berlangsung. Setidaknya 46 orang dinyatakan tewas di New Delhi. Mayoritas korban adalah Muslim. (Hidayatullah.com).


Peristiwa kerusuhan dan pembantaian di India bukanlah yang pertama. Mengutip dari laman Historia Id, akar konflik jauh membentang ke belakang di abad ke-8 (th. 712-740), saat kampanye penaklukan Asia Selatan yaitu Afghanistan, Pakistan dan India oleh kekhalifahan Umayyah, yang telah terjadi konflik antar kelompok agama di India. Sampai di abad ke-16 telah terjadi konflik antara kekhalifahan dari jazirah Arab dengan dinasti Hindu India.Konflik terjadi selain dari kampanye penyebaran agama Islam dari jazirah Arab ke India, juga disebabkan dengan sejumlah kolonial Inggris sejak abad ke-19. Salah satu akibatnya yaitu terjadinya pemisahan India dengan Pakistan pada tahun 1947. Saat itu terjadi kekerasan Sporadis Muslim dan Hindu yang tidak pernah hilang. Dan di abad ke-20 terjadi konflik dan sejumlah aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam, dan disuburkan oleh islamofobia.
Saat di Asia Selatan hegemoni yang dilakukan adalah lewat penaklukan. Dan hal itu berjalan selama enam abad sejak berdirinya kesultanan Delhi di awal abad ke-18, yang disertai penaklukan Inggris dari 1765 - 1818. Sejak terpisahnya India dan Pakistan, kerusuhan yang terjadi tutur Thurby, karena ditunggangi isu-isu politik. Kaum Muslim kendaraan politik All India Muslim league masih mempertahankan hegemoni politik masa lalunya. Sementara mayoritas kaum sayap kanan nasionalis Hindu berusaha mengikisnya.
(INDOPOLITiKA. Com).


Konflik di India juga ada kaitannya dengan ritual agama. Menurut G.R. Thursby dalam Hindu-Muslim Relations in British India, menguraikan seringnya terjadi konflik di era kolonialisme Inggris karena ritual agama. Dimana antara Muslim dan Hindu hidup berdampingan tapi tidak menunjukkan keharmonisan. Sebagai mana ritual Hindu yang menjadikan sapi sesembahannya. Dan menjadikan sesuatu yang sakral bagi Hindu India. Namun sebaliknya dalam Islam, sapi atau lembu merupakan sesuatu yang halal untuk dikonsumsi. Apalagi ketika masa idul Adha, kaum Muslim yang tergolong mampu dianjurkan untuk berkurban sapi atau kambing. Dan mendapatkan ganjaran pahala yang luar biasa dari Allah SWT. Namun hal itu dianggap menistakan ajaran Hindu.


Sederet peristiwa yang menimpa kaum Muslim baik minoritas maupun mayoritas bukti dari berkuasanya sistem sekulerisme, sehingga kebebasan bertindak yang lahir dari sistem sekulerisme  tidak lagi sesuai dengan fitrah manusia. Pembantaian yang berakhir dengan kematian sudah kerap terjadi. Perasaan bersalah pun sudah hilang ditengah rangkulan manusia yang tidak punya nilai kemanusiaan.


Semua itu terjadi karena faktanya umat Islam di seluruh dunia sudah tidak punya perisai/junnah lagi. Karena telah dicabik-cabik oleh tangan penjajah, Mustafa Kemal Attaturk pada Maret 1924 M. Kaum Muslim yang dulu hidup dalam satu kepemimpinan yaitu khalifah, telah tercerai-berai hingga menjadi 60- an negara kecil yang sudah tidak lagi terikat dengan hukum Islam. Kaum Muslim setelahnya diikat dengan ikatan nasionalisme dan kebangsaan. Sehingga dengan mudahnya penjajah memerangi dan membasmi kaum Muslim beserta aqidah nya. Karena ikatan nasionalisme hanya bertumpu pada tempat dimana dia tinggal.


Seharusnya Muslim yang satu dengan Muslim lainnya bersaudara. Tidak boleh saling membiarkan dan menzalimi. Apalagi ketika non Muslim yang menzalimi Muslim yang lain, hal ini adalah suatu penghinaan yang seharusnya dapat membangkitkan ghirah Umat Islam untuk balas memerangi mereka. Banyak sudah kaum Muslim yang teraniaya seperti, Muslim Palestina, Uighur, Kashmir, Myanmar dan banyak lagi yang lain yang sering tidak terungkap kebenarannya karena ditutup-tutupi dunia. Palestina di negerinya sendiri, masih tidak dapat hidup dengan tenang akibat kebiadaban zionis Israel yang membombardir wilayah Palestina dengan serangan rudalnya. PBB yang seharusnya memainkan perannya dalam melindungi HAM, faktanya hanya sekedar sebuah lembaga saja untuk mengumpulkan negara yang ada. Uighur yang telah bertahun-tahun hidup di kamp-kamp konsentrasi yang dianiaya dan dicuci otaknya agar meninggalkan agama mereka. Walaupun kini, balasan atas kezaliman mereka telah dibalas Allah dengan diturunkannya wabah Corona. 



Warga Muslim India saat ini juga sangat membutuhkan pertolongan saudara Muslimnya di dunia. Indonesia tampak pada pemimpinnya yang tidak bergeming menyikapi pembantaian yang dilakukan Hindu India terhadap Muslim India. Walaupun berbagai masukan dan nasihat ditujukan kepada pemerintah agar dapat menghentikan kebiadaban Hindu India terhadap Muslim India, seperti yang di ungkapkan Pengamat Politik dan Sosial, Muhammad Yunus (Suara nasional, Ahad (1/3/2020).


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya:
" Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya, "Apakah karena sedikitnya jumlah kami?",   Rasul menjawab, "Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian, dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn,"
Seorang bertanya," ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda," Cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Dawud).


Sudah saatnya Umat Islam menyadari bahwa pentingnya penegakkan khilafah dimuka bumi Allah, yang aturannya berasal dari yang menciptakan seluruh manusia dan semua makhluk yang ada dimuka bumi. Dengan bersatunya Umat Islam di seluruh penjuru dunia akan menjadi sebuah kekuatan yang tiada bandingnya karena persatuan didasari atas keimanan dan keridhaan Allah SWT sebagaimana yang telah diperintahkan-Nya.
Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh Anja Sriwahyuni

Posting Komentar

0 Komentar