Janji Manis Kesetaraan Gender, Meninggalkan Harapan Pahit

Siapa yang tidak menginginkan kesejahteraan, semua orang pasti menginginkannya apalagi para wanita dengan 1000 mimpinya. Kesuksesan dalam rumah tangga, mendidik anak serta karier yang cemerlang bukan hanya para lelaki yang mendambakannya tetapi para wanita pun bergotong gotong meraih pencapaian itu. 

Di zaman dulu wanita hanya memikirkan bagaimana membangun keluarga yang harmonis dan mendidik anak agar menjadi generasi yang baik, waktunya pun hanya habis di rumah untuk keluarga, tetapi zaman sudah berubah para wanita bagaikan haus akan mimpi-mimpi manis, beranggapan kalau wanita harus mempunyai karir agar bisa berdiri sendiri.

Ironinya kesejahteraan yang mereka dambakan bukanlah kesejahteraan yang sebenarnya, terbukti dari tujuan mereka yaitu hanya mendapatkan materi. Inilah kesejahteraan semu yang didambakan oleh para wanita tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka dijajah lewat pemikiran dan disetir untuk keluar dari syariat Islam oleh para kapital. Banyaknya wanita yang berpikiran bahwa mereka sama dengan para lelaki, bebas untuk bergaul, bebas untuk berkarier bahkan harus mempunyai penghasilan, inilah pemikiran-pemikiran yang ditanamkan oleh para kapital kepada para wanita sehingga mereka mendukung ide kesetaraan gender.

Hal ini pun berdampak kepada mereka yang mempunyai keluarga, kehidupan yang keras, ekonomi menurun, harga melonjak naik membuat para wanita berpikir harus ikut andil dalam peran ekonomi keluarga. Mirisnya mereka terpaksa melakukan tugas laki-laki yaitu mencari nafkah, bahkan ketika mereka harus di rumah menjaga suami dan anak-anak pun tetap dipaksa oleh keadaan dalam mencari nafkah. 

Tak luput pula para wanita akan melupakan kodrat mereka sebagai seorang ibu dan istri, bahkan ketika penghasilannya melebihi pasangannya tidak sedikit pemikiran yang membuat para wanita mampu secara finansial walaupun hidup sendiri.

Pendidikan yang akan diberi kepada anak-anak pun akan ikut terdampak, seorang ibu yang berpikiran kapitalis dan liberalis akan menurun kepada anak anaknya karna orang tua adalah contoh yang nyata, menilai sebuah kesejahteraan adalah materi akan mengakar dalam dirinya, bayangkan betapa sedihnya melihat generasi bangsa apabila pendidikan dikuasai pemikiran kapitalis dan liberalis secara turun temurun. Banyaknya dampak kesetaraan gender ini sangat merugikan para wanita tapi tidak disadari oleh mereka karna iming-iming kesejahteraan yang dapat membuat mereka lupa akan segala kerugiannya.

Dalam Islam sebenarnya tidak melarang wanita untuk bekerja, Islam menghukumi mubah seorang wanita bekerja, tetapi dibalik kemandirian seorang wanita dalam bekerja ialah pemikiran yang kapital dan liberal ini, para wanita beranggapan bahwa mereka tidak mau dikekang dan ingin dibebaskan dalam berekspresi, mereka memandang ajaran Islam hanya untuk membatasi kegiatan mereka sebagai wanita. Tentu saja pemikiran seperti ini yang membuat para wanita mengelu elukan kesetaraan gender. Padahal syariat Islamlah yang membuat wanita menjadi mulia.

Islam telah mengajarkan konsep kesamaan pria dan wanita lengkap dengan peran dan posisinya dalam kehidupan. Jika di masa sebelum Islam wanita dipandang sebelah mata, di era Islam justru derajat dan martabatnya diangkat dan dijunjung mulia sesuai dengan kodratnya. Oleh karena itu, kita perlu kembali mengetahui bagaimana konsep Islam dalam meletakkan pria dan wanita sebagai hamba Allah SWT di ranah pribadi maupun publik, seperti kesamaan dalam bertakwa, beramal, beribadah, bersosial, berdakwah serta dosa dan pahala tidak ada bedanya antara pria dan wanita, Allah SWT menyamaratakan semuanya, yang membedakan hanyalah ketakwaan. 

Konsep kesetaraan gender antara pria dan wanita dalam pemahaman di luar Islam sangat bertentangan dengan konsep kesetaraan dalam Islam. Kesetaraan dalam Islam bukan untuk mengekang atau membatasi, tapi ia hadir untuk memuliakan wanita dalam bingkai kehidupan yang berorientasi pada kehidupan di akhirat setelah berkiprah di dunia.[]

Oleh : Yaumil Khairiah

Posting Komentar

0 Komentar