Islam Solusi Ketahanan Keluarga


Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Jika membahas topik terkait  keluarga, yang terlintas dan terpikirkan adalah dengan ayah, ibu,suami atau istri, anak, dan kehangatan rumah tangga. Siapa yang tak menginginkan keluarga yang bahagia,  rumah tangga yang rukun, harmonis, penuh cinta dan kasih sayang? Semua pasti menginginkan hal yang demikian. 
Lantas, bagaimana jika rumah tangga yang tak sedikit orang mengidam-idamkan menjadi rumah tangga yang harmonis, penuh kebahagiaan, cinta dan kasih sayang berujung pada perceraian?  

Nyaris setengah juga pasangan suami istri (pasutri) di Indonesia cerai sepanjang 2019. Dari jumlah itu, mayoritas perceraian terjadi atas gugatan istri.
Berdasarkan Laporan Tahunan Mahkamah Agung (MA) 2019 yang dikutip detikcom, Jumat (28/2/2020) perceraian tersebar di dua pengadilan yaitu Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Pengadilan Agama untuk menceraikan pasangan muslim, sedangkan Pengadilan Negeri menceraikan pasangan nonmuslim.
Dari data Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, hakim telah memutus perceraian sebanyak 16.947 pasangan. Adapun di Pengadilan Agama sebanyak 347.234 perceraian berawal dari gugatan istri.Sedangkan 121.042 perceraian di Pengadilan Agama dilakukan atas permohonan talak suami. Sehingga total di seluruh Indonesia sebanyak 485.223 pasangan.

Angka yang fantastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan mengalami peningkatan pada tahun ini. Tren perceraian di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Pada 2018, angka perceraian Indonesia mencapai 408.202 kasus, meningkat 9% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Penyebab terbesar perceraian pada 2018 adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus dengan 183.085 kasus. Faktor ekonomi menempati urutan kedua sebanyak 110.909 kasus. Sisanya faktor kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 
Masih hangat RUU Ketahanan Keluarga ramai diperbincangkan karena menuai pro  dan kontra ditengah masyarakat. Banyak yang menilai jika RUU Ketahanan Keluarga  dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi. Diantaranya ialah mengatur tentang kewajiban suami dan istri dalam pernikahan hingga wajib lapor bagi keluarga atau individu pelaku LGBT. 

Aktivitas seksual sadisme dan masokisme juga dikategorikan sebagai penyimpangan seksual dalam RUU tersebut sehingga wajib dilaporkan.

Rumah tangga dalam kacamata Islam
Pernikahan yang islami adalah pernikahan yang dilandasi akidah dan keimanan semata-mata karena Allah. Sama-sama memiliki tujuan untuk mencari ridho Allah. Menjadikan ketaqwaan sebagai pondasi didalam sebuah rumah tangga. Didalam rumah tangga baik suami maupun isteri sama-sama memiliki tanggung jawab. 

Sama-sama memiliki hak dan kewajiban. 
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, seluruhnya diatur dalam islam, termasuk dalam hal rumah tangga. Dalam hak dan kewajiban, baik suami maupun isteri memiliki tanggung jawab yang berbeda,  dimana kewajiban suami   terhadap istrinya adalah memimpin, mendidik serta memenuhi kebutuhan istrinya dan mencari nafkah sementara kewajiban istri terhadap suami adalah dengan melayani, memenuhi kebutuhannya dan menjaga keluarganya saat suami mencari nafkah.
Rumah tangga yang memiliki managemen serta tugas yang baik dapat mengurangi konflik dalam rumah tangga. Sehingga rumah tangga bisa berjalan baik dan harmonis. 

Berbanding terbalik dengan fenomena perceraian yang ada di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan, faktor ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga.
Pertengkaran dalam rumah tangga bisa disebabkan karena tidak tepatnya dalam pembagian tugas antara suami dan istri. Lebih tepatnya adalah terbalik nya tugas suami dan istri seperti seorang isteri yang seharusnya taat terhadap suami, melayani suami,  menjaga keluarga dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak justru sering berada diluar dalam hal ini bekerja atau mencari nafkah. Begitupun sebaliknya suami yang semestinya mencari nafkah justru merasa asyik dirumah karena sudah ada isteri yang mencari nafkah. 

Rezim sekuler Liberal seolah menjadi angin segar bagi wanita yang haus akan kebebasan, Fenomena ini juga tak terlepas dari musuh-musuh islam yang telah menghembuskan "Kesetaraan Gender"  yang beranggapan wanita sama derajatnya dengan laki-laki dan wanita dapat melakukan apapun seperti halnya bekerja dan menjadi wanita karir. Jika peran wanita menjadi pencari nafkah, lantas siapa yang akan mendidik anak-anak sebagai penerus peradaban? 
Faktor ekonomi juga menjadi pemicu perceraian yang ada di Indonesia, harga bahan pokok melambung, PHK besar-besaran, biaya  pendidikan mahal, biaya kesehatan mencekik.  Pantas saja jika faktor ekonomi berpengaruh dalam perceraian rumah tangga. Dalam hal ini peran pemerintah sangatlah penting. Dalam islam, negara harus memastikan dan memerintahkan kepala keluarga untuk bekerja, jika tidak, negara wajib menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. 

Yang terakhir adalah kekerasan dalam rumah tangga yang memicu terjadinya perceraian dalam rumah tangga.  Dalam hal ini,  perempuan sangat rentan akan kekerasan dalam rumah tangga, tercatat banyak kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan ke komnas perlindungan perempuan. Bukan tidak mungkin banyak kasus yang belum tercatat. 

Khilafah satu-satunya sistem yang dapat melindungi perempuan, seperti halnya yang dilakukan oleh khalifah Al mu'tashim billah yang telah mengirimkan ribuan pasukannya untuk menyerang Romawi karena telah melecehkan seorang perempuan. Begitupun halnya dengan kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi didalam rumah tangga,  negara wajib memberikan sanksi kepada pelaku kekerasan. Jika negara negara tidak memberikan sanksi, maka akan mengakibatkan runtuhnya ketahanan rumah tangga akibat problematika rumah tangga yang diabaikan oleh negara. Bukan tidak mungkin, kekerasan demi kekerasan akan terjadi dalam rumah tangga karena negara telah abai.

Sistem sekuler Liberal adalah akibat dari runtuhnya ketahanan rumah tangga, sistem yang telah melahirkan kebebasan, tanpa melibatkan agama didalam kehidupan.  Jika rumah tangga senantiasa dibangun diatas pondasi agama, senantiasa melibatkan Allah dalam situasi apapun, akan melahirkan keluarga yang penuh ketenangan, Keharmonisan dan penuh kasih sayang karena standar kehidupan semata-mata atas ridho Allah Subhanahu Wata'ala. 
Wallahu a'lam.[]

Oleh : Rahmawati Isya 

Posting Komentar

0 Komentar