Islam dalam Mengatasi Wabah

Kehadiran Corona virus atau covid-19 sejak dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO, maka saat itu pula kekhawatiran serta akses gerak masyarakat menjadi terbatas, namun masih ada yang 'ngeyel' beraktivitas di ruang publik tanpa menggunakan masker. Tetap saja wabah ini menjadi momok yang menakutkan bagi  masyarakat. 

Meski pemerintah tidak mengeluarkan 'press release' terkait 'Lockdown' terhadap semua aktivitas publik, masyarakat sebahagian menjadi sadar diri melakukan social distancing di rumah masing-masing untuk meminimalisir pemutusan penyebaran mata rantai virus. 
Banyak langkah nyata yang telah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah dalam menanggulangi wabah khususnya pemerintah daerah DKI Jakarta. 

Pemutusan mata rantai penyebaran di ruang publik pun dilakukan,  sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu, seperti  masyarakat tidak melakukan aktivitas sholat jum'at di masjid, anak sekolah dirumahkan,  instansi publik di rumahkan, dan social distancing lainnya dilakukan, akhirnya kesemuanya dikembalikan ke rumah. 

Namun, di sisi lain karena ini adalah wabah virus, maka kontak yang disengaja ataupun tidak menjadikan virus terus bermutasi mencari inangnya. Telah banyak korban berjatuhan, semua paramedis bersinergi menjalankan tugasnya sedemikian maksimal,  namun sayangnya standar APD (alat pelindung diri) yang ada tidak sebagaimana mestinya.

Mirisnya, banyak paramedis yang berinisiatif sendiri menyiapkan peralatan seadanya, meski pada akhirnya mereka menjadi korban yang harus tertular. Siapapun yang melihat keberadaan paramedis sebagai garda terdepan dalam mengatasi korban covid akan 'terenyuh' melihat pengorbanan dan kerja mereka melakukan pelayanan medis.
 Beberapa dokter telah berjatuhan,  namun sayangnya,  pemerintah tetap tak bergeming menstandarisasi alat pelindung diri bagi paramedis. 

Tugas negara

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan,  semua pihak tidak hanya memberikan simpatinya namun empatinya dengan sama-sama berjibaku memberikan sumbangsi moral dan materiil yang mereka bisa. 

Seharusnya hal ini menjadi tugas negara. Negara bukan tidak memiliki pilihan,  namun negara tidak menentukan pilihan dengan melakukan 'Lockdown sebagaimana negara lainnya yang lebih dulu mengalami epidemi. Setidaknya dengan kebijakan 'lockdown' akan memutus mata rantai penyebaran wabah sekitar 70%, sebagaimana langkah yang telah dilakukan negara cina sebagai negara sumber wabah, jumlah korban yang jatuh tak sebanyak Italy. Jumlah korban Italy lebih besar sekitar 400 orang perhari karena terlambatnya dilakukan kebijakan tersebut. 

Pemerintah hanya mengedepankan sisi penguatan 'herd immunity,  yang seyogianya menurut pemerintah dengan adanya virus ini akan membentuk kekebalan pada tubuh pasien,  dan pasien akan melakukan pertahanan diri pada tubuh mereka karena telah terbentuk imunitas. Namun,  benarkah kerja covid-19 berakhir demikian? Padahal menurut para peneliti virus covid ini tidak memiliki vaksin untuk menangkal penyebaran virus tersebut,  sebagaimana virus lainnya. 

Kebijakan yang seharusnya dilakukan pemerintah,a justru diambil alih oleh rakyat dengan masing-masing bahu membahu mengerahkan segala daya dan upaya  menyalurkan segala bantuan yang dibutuhkan paramedis. Warga Indonesia dari kalangan biasa, pengusaha, artis hingga Teknokrat memberikan sumbangsinya dengan maksimal dalam bentuk materi. 

Langkah real islam mengatasi wabah
Melihat fakta di lapangan akibat virus ini, jumlah kematian dari hari ke hari semakin meningkat, maka seyogianya pemerintah wajib untuk melakukan langkah pasti dalam mengatasi wabah tersebut. 

 Jajaran pemimpin dalam pemerintahan wajib bersikap sama untuk melakukan langkah nyata memutus mata rantai virus dengan melakukan Lockdown atau karantina. Langkah ini pernah diterapkan oleh Amru bin Ash sebagai gubernus Syam kala itu menangani wabah di syam, beliau memerintahkan kepada seluruh penduduk syam untuk menyebar di pegunungan dan menghindari untuk berkumpul. 

Seangkuh apakah kita sehingga tak mau menerima syari’at sempurna yang datang dari Sang Maha Benar, Allah melalui Rasul-Nya? Sehebat apakah kita menangkis serbuan makhluk kecil tak kasat mata sehingga pemerintah masih jumawa tak bersegera melakukan 'Lockdown? 
Sekebal apakah manusia Indonesia sehingga pemerintah masih menengadahkan tangannya untuk membuka kran pariwisata?
 “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”. (Alhadist) 

Apakah penguasa siap dengan pertanggungjawaban akhirat atas meninggalnya rakyat akibat lalai dalam menangani virus corona?. Wallahu 'alam bis shawwab.[]

Oleh Hana Ummu Karimah

Post a Comment

0 Comments