Indonesia Lockdown, Saatnya Counting Down


Lockdown, jadi kata paling populer hari Ini. Beberapa negara, seperti Italia, Filipina dan Arab Saudi, telah menerapkan kebijakan lockdown. Hal itu dilakukan guna mengurangi penyebaran kasus virus corona atau Covid-19 di negara mereka, termasuk Indonesia (REPUBLIKA.CO.ID, 14/3/2020).

Banyak Negara terserang virus Covid-19. Nama yang cantik namun mematikan. Negara-negara tersebut setiap harinya mengupdate jumlah korban dari warganya masing-masing. Beda negara beda reaksi dan penanganan. Namun sebagian besar mengeluarkan kebijakan Lockdown. 

Berdasarkan kamus Bahasa Inggris, lockdown artinya kuncian. Maksudnya, negara yang terinfeksi virus corona mengunci akses masuk dan keluar sebagai pengamanan ketat untuk mencegah penyebaran virus corona. Lockdown juga dilakukan dengan larangan mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang, penutupan sekolah, hingga tempat-tempat umum. Dengan begitu, risiko penularan virus corona pada masyarakat di luar wilayah lockdown bisa berkurang.

Lockdown memiliki arti yang sama dengan isolasi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, isolasi berarti pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia yang lain.

Lockdown Saatnya Counting Down

Indonesia sendiri negara yang terbilang lamban dalam penanganan. Jika bukan warning WHO dan pemerintah Arab Saudi, bisa jadi presiden Jokowi terus melanjutkan dustanya dihadapan masyarakat Indonesia. Dan disaat beliau mengakui, Virus Covid-19 sudah merajalela. Bahkan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sebarannya merata dan Solo ditetapkan sebagai KLB Corona. 
Bagaimana pemimpin bagaimana pula rakyatnya, satu bagian masyakarat menuntut lockdown sebab pemerintah masih menerima kedatangan turis asing dengan alasan ekonomi. Menutupi data pasien pengidap yang sebenarnya sehingga berujung  pada kepanikan. Harga sembako, masker dan handsanitizer melonjak tak bisa dinalar. 

Di daerah banyak terjadi penimbunan barang. Salah satunya, kepolisianpun ikut menjadi penjual masker sitaan. Alasannya guna menstabilkan kepanikan dan juga tidak melanggar UU. Dan sejak hari ini, Senin, 16 Maret 2020 ketika secara serentak seluruh wilayah Indonesia dinyatakan diliburkan untuk anak sekolah dan beberapa instansi pemerintahan fenomena lain muncul, yaitu libur nasional plus pelesir nasional. 

Sepertinya masyarakat tak terlalu peduli tentang alasan apa hingga negara di Lockdown. Bandara, stasiun dan terminal sibuk dengan manusia yang keluar dan masuk. Tempat-tempat wisata malah membludak, dibanjiri wisatawan dalam dan luar negeri. Tidak tahukah mereka bahwa sejak Indonesia menyatakan Lockdown maka sejak itu pula kita sedang Counting Down dengan waktu? berburu cepat dengan masa inkubasi Covid-19 selama kurang lebih 14 hari, setelahnya, entah kejadian apa yang menanti.


Alasan ekonomi masih menempati tempat alasan terkuat di negeri ini untuk mereka yang menolak Lockdown, sebagaimana pendapat peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Ia menolak apabila Jakarta melakukan lockdown alias isolasi wilayah. Bhima menyebutkan 70% pergerakan uang nasional berada di Jakarta.
Mulai dari bursa efek hingga bank sentral pun berada di Jakarta. Bhima menyimpulkan bahwa langkah lockdown terlalu beresiko, karena aktivitas ekonomi akan berhenti. "70% uang juga berputar di Jakarta, ada bursa efek, ada bank sentral. Terlalu berisiko kalau kita mengambil langkah lockdown," kata Bhima . Skenario terburuk menurut Bhima, bisa saja Indonesia krisis ekonomi apabila Jakarta melakukan lockdown. Benarkah demikian? (detikcom,15/3/2020).



Negara sebagai Junnah dan Ra:in
Disinilah titik kritis itu terjadi dan harus dicermati, bahwa kita butuh kehadiran negara yang tak sekedar mengumumkan suatu bencana namun kedodoran ketika harus mendahulukan kepentingan kesehatan umat. Faktanya negara disibukkan dengan perolehan ekonomi yang merosot akibat virus ini. 

Fungsi negara sebagai Junnah ( perisai) dan rain ( pengurus umat) mandul sebab landasan berpikir mereka bukan syariat, melainkan manfaat. Dimana segala hal yang berhubungan dengan hak masyarakat tidak dihandle secara langsung namun dilelang kepada investor. 

Dibentuklah kebijakan yang pro investor agar menjadi payung kemudahan beroperasi. Tak terkecuali ekonomi. Selama ini Indonesia hanya mengandalkan utang dan pajak sebagai kantong pendapatan terbesar. Sehingga rentan jatuh dan bangkrut ketika diguncang bencana maupun isu politik. 

Kepanikan yang muncul justru bukan bagaimana bisa menyelamatkan rakyat Indonesia dari virus namun bagaimana mengupayakan setiap diri pemodal dan penguasa terhindar dari virus kelaparan dan kekurangan akses ekonomi.

Sungguh! Seharusnya menjadi penyesalan yang mendalam jika kita tetap mempertahankan mekanisme buruk ini. Manusia ditempatkan pada posisi Tuhan, mampu mengalihkan takdir sehingga membuat aturan sendiri. 

Kebijakan Lockdown jika itu dalam negara Daulah jelas akan menerapkan tindakan preventif dan kuratif. Pelayanan cepat, terorganisir dan efektif. Sebab setiap jihaz ( struktur) pemerintahan orientasinya adalah kemaslahatan umat. 
Preventif diantaranya adalah pemastian hanya makanan halal dan toyyib yang dikonsumsi umat, dari sisi produksi, distribusi maupun ketika rakyat harus mengaksesnya. Kemudian penataan kota, tempat tinggal, industri maupun pelestarian alam akan sangat diperhatikan sehingga masyarakat bisa hidup lebih bersih dan tertata. Edukasi dengan pentingnya kesehatan dan lingkungan.
Sepanjang yang dikerjakan negara untuk mensejahterahkan , tak boleh ada alasan ekonomi sebagai alasan kendornya karantina / isolasi suatu wilayah, sebagaimana apa yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. Apalagi pariwisata hanya untuk menggenjot pendapatan daerah. Sementara keselamatan rakyatnya menjadi taruhan 

Apa yang dilakukan Umar bin Khattab ketika wilayah Syam terserang wabah Tha' un , pada tahun 18 Hijriyah. Pada saat itu korban dari  kaum muslimin mencapai 25 ribu, termasuk para sahabat diantaranya Yazid bin abu Sufyan, Muaz bin Jabbal, Abu Ubaidah, Syarbil bin khasanah dan Al Fadl Al Abbas. Perintah Umar ketika itu adalah tinggal berpencar dan menghindari mendatangi wilayah tersebut. Isolasi inilah  yang akhirnya membawa kepada terselesaikannya muslim yang lain dan berakhirnya wabah mematikan itu. 

Umar senantiasa menyerukan bagi mereka untuk bersabar dan banyak mendekat kepada Allah. SWT. Wallahu a'lam bish showab.[]

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Posting Komentar

0 Komentar