TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hijab Syar'i Wahyu Ilahi


Pakaian adalah kebutuhan utama bagi manusia. Majunya suatu peradaban masyarakat bisa ditentukan oleh Bagaimana cara berpakaian masyarakat tersebut. Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh tidak mungkin tidak mengatur tentang hal ini. Bahkan dalam Islam pakaian menunjukkan identitas atau jati diri seorang muslim. 


Islam secara detail mengatur bagaimana cara muslim berpakaian. Sayangnya pada zaman liberalisasi seperti sekarang ini banyak muslim khususnya muslimah yang tidak mengetahui bagaimana detailnya syariat berpakaian yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Malah belakangan banyak orang yang menistakan syariat berpakaian syar'i, meskipun mereka dari kalangan muslim itu sendiri. Kita ambil contoh di gaungkannya hastag nohijab day. Yang tujuannya adalah untuk mengajak muslimah menanggalkan hijab nya secara terang-terangan, bahkan tanpa malu dan di upload di sosial media. Naudzubillah.

Karenanya  Melihat fenomena yang sungguh miris di negeri mayoritas muslim ini, maka Komunitas Muslimah Rindu Jannah menyelenggarakan majelis quran bertajuk Hijab Syar'i Wahyu Ilahi yang diadakan pada hari Sabtu, 29 Februari 2019, di kecamatan Panti, Jember.

Dalam majelis tersebut, pemateri, yaitu Ustazah Nur Afifah menjelaskan secara rinci bagaimana cara berpakaian seorang muslimah yang benar, yang sesuai dengan syariat Islam lengkap dengan nash dan dalil-dalil yang syar'i. Diantaranya kewajiban memakai mihnah (baju rumah sebagai baju lapisan pertama) kemudian pakaian luar atau jilbab, kerudung yang harus di panjangkan hingga bawah dada dan kewajiban menutup telapak kaki karena kaki juga merupakan aurat bagi perempuan. 

Bentuk jilbab yang benar adalah pakaian terowongan atau Terusan yang tidak terpotong. Pemateri juga menjelaskan tentang larangan-larangan dalam berpakaian bagi muslimah seperti memakai kerudung dengan model punuk unta ( ikatan rambut yang ditinggikan) dan bertabarruj (berhias berlebihan yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis). 

Ustadzah iffah juga menambahkan, bahwa kaum muslimah tidak boleh terbawa arus liberalisi yang mengarahkan muslimah untuk melanggar syariat terutama perintah mengenakan jilbab dan khimar

Puluhan peserta yang hadir tanpa antusias mendengarkan penjelasan dari pemateri. Beberapa pertanyaan dilontarkan peserta pada sesi tanya jawab, diantaranya tentang kesucian jilbab muslimah yang bagian bawahnya menyapu tanah ketika berjalan. Pemateri menjelaskan bahwa sesuai hadis yang syar'i setiap langkah kaki yang kita lakukan itu saling mensucikan. Jadi, Langkah kedua mensucikan langkah pertama dan seterusnya. 

Demikianlah Islam mengatur urusan umat nya secara detail dan terperinci tanpa tertinggal suatu urusan apapun bahkan hal yang sangat sepele.

Sebelum acara ditutup dengaan doa akhir mejelis , para muslimah membacakan sholawat dan saling bersalam-salaman untuk merekatkan ukhuwah islamiyah.[]

Rep: Dinda

Posting Komentar

0 Komentar