Hidup Berkah dengan Syariah Kaffah

Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk pada 2018 mencapai 270.054.853 jiwa. Dengan lebih dari 230 juta jiwa yang memeluk agama Islam, membuatnya menjadi negara mayoritas muslim terbesar di dunia.

Namun, besarnya populasi tidak berbanding lurus dengan kondisi perekonomian rakyatnya. Tercatat jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 24,97 juta jiwa (kompas.com/ 2020/01/15). Di antara dampaknya, terdapat  30,8% dari 60 juta anak kurang gizi dan mengalami stunting (beritasatu.com/2019/10/21). 

Dan, walaupun per 10 Pebruari 2020  Amerika Serikat mencabut status “negara berkembang” dan memasukkannya dalam daftar “negara maju”, nyatanya hutang Indonesia  mencapai 4.817,5 trilyun (liputan6.com/2020/2/17).

Kesejahteraan pun seperti api yang jauh dari panggang. Swasembada pangan yang ingin diwujudkan ternyata tidak sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. 

Alih-alih dapat meningkatkan kesejahteraan para petani, banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro petani. Dengan alasan kurangnya pasokan dalam negeri, impor berbagai kebutuhan seperti jagung, gula mentah, sampai garam pun dilakukan. 

Belum hilang dari ingatan sebanyak 20.000 ton beras dibuang di saat negara berada di peringkat ke-70 dari 117 negara menurut riset Indeks Kelaparan Global. 

Dengan skor 20,1 indeks kelaparan Indonesia masuk dalam kategori serius. Aksi petani cabe dan buah naga yang membuang hasil panennya menunjukkan kekecewaan terhadap kebijakan pmerintah.

Negara sedikit demi sedikit melepaskan perannya dalam mengurusi urusan rakyat. Komoditi-komoditi yang menjadi hajat hidup orang banyak diserahkan kepada swasta untuk pengurusannya. Akibatnya, pemenuhan terhadap berbagai kebutuhan pokok menjadi sulit dan menyengsarakan. 

Mulai dari pangan, air bersih hingga pemukiman.  Demikian juga layanan kesehatan, pendidikan, energi sampai transportasi. 

Tidak hanya harganya yang terus merangkak naik, namun ketersediaan dan kualitas juga menjadi masalah. Dan masih banyak lagi problematika lainnya.

Akar Permasalahan: Sekulerisme

Berbagai problematika yang mendera negeri ini sesungguhnya adalah karena mengambil sekulerisme sebagai asas ketika menerapkan kebijakan-kebijakan yang diberlakukan kepada rakyat. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sekulerisme adalah suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya. 

Singkatnya, sekulerisme adalah memisahkan agama dari kehidupan. Artinya agama tidak boleh ikut campur dalam politik, ekonomi, pendidikan, hukum dan semua interaksi sosial dalam bermasyarakat dan bernegara. 

Agama dibatasi oleh tempat dan waktu. Agama hanya diperbolehkan pelaksanaannya di tempat-tempat ibadah  dan waktu-waktu tertentu saja. Tidak selainnya. Agama hanya diperkenankan dalam pelaksanaan ritual ibadah, pernikahan dan hal-hal yang bersifat pribadi.

Bagi agama lain, mungkin ini bukan masalah yang besar. Karena agama-agama tersebut memang hanya mengatur tentang ritual peribadatan, pernikahan dan masalah privat lainnya. 

Berbeda dengan Islam. Islam adalah sebuah ideologi. Tidak hanya mengatur ibadah, Islam juga mempunyai aturan-aturan dalam masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pemerintahan. Aturan-aturan inilah yang lebih dikenal dengan istilah syariah Islam.

Berkah dengan Syariah Kaffah
Seorang muslim yang beriman kepada Allah swt hendaklah tidak sekedar mengakui Allah sebagai Al Khaliq (Sang Pencipta), tapi juga sebagai al Mudabbir (Sang Maha Pemberi Aturan). 

Melaksanakan syariah yang berasal dari Sang Pencipta merupakan bukti keimanan. Dan sebagaimana disebutkan dalam surat al Baqarah ayat 208, Allah swt memerintahkan untuk melaksanakan syariah Islam secara kaffah, seluruhnya.

Konsekuensi keimanan tidak mengijinkan seorang muslim memilih-milih pelaksanaan syariah hanya berdasarkan yang disukainya saja dan meninggalkan yang dibencinya. Tidak juga memperbolehkan melaksanakan syariah yang dipandang mendatangkan manfaat baginya saja sementara yang dianggap tidak menguntungkan bisa ditinggalkan. 

Belum dikatakan melaksanakan syariah kaffah jika hanya melaksanakan ibadah dengan benar tetapi mengambil riba. Juga belum bisa disebut Islam Kaffah jika sistem pendidikannya islami sedangkan sistem peradilannya masih memutuskan dengan hukum buatan manusia.

Pelaksanaan syariah Islam secara kaffah membutuhkan institusi negara sebagi penegaknya. Karena syariah tidak hanya diperintahkan kepada individu semata. 

Ada syariah-syariah yang hanya bisa diterapkan oleh negara. Tidak selainnya. Misalnya seruan jihad untuk menyelamatkan kaum muslimin yang tertindas dan penegakan hudud, jinayat dan sistem sanksi lainnya. 

Negara yang mampu menerapkan Isyariah Islam kaffah inilah yang kemudian dikenal sebagai Khilafah Islamiyah.

Rasulullah saw memberikan contoh pelaksanaan syariah kaffah setelah hijrah ke Madinah. Kemudian dilanjutkan oleh para sahabat ra setelah wafatnya Beliau saw. 

Dengan diterapkannya Islam secara keseluruhan, terwujudlah rahmat bagi seluruh alam. Kesejahteraan dan keadilan tidak hanya dirasakan oleh kaum muslimin saja tapi seluruh warga negara bahkan dari golongan orang-orang kafir sekalipun.

Allah swt berfirman:

• وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [TQS. Al A’raaf : 96]

Negeri ini pun insya Allah akan mendapatkan keberkahan jika mau melaksanakan syariah kaffah. Dimana penduduknya tidak hanya beriman kepada Allah, tapi juga bertakwa kepadaNya. Menjalankan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang oleh syariah. 

Jika sekarang belum semua syariah diterapkan, maka saatnya bagi kita semua berusaha untuk menegakkannya. Karena hanya dengan tegaknya syariah secara kaffah, ridha Allah swt  akan teraih.[]

Oleh: Alfiah mujahida
Muslimah Ideologis

Posting Komentar

0 Komentar