Game Online, Petaka Generasi Millenial

Bermain video game bukan hal yang kelewat sulit saat ini. Kalaupun tak punya perangkat seperti komputer, PlayStation (PS), atau Xbox, kita bisa menggunakan ponsel untuk memainkannya. Awalnya, bermain game dilakukan untuk mengisi waktu senggang, sebagai hiburan belaka. Kini, game beralih fungsi, tak hanya sebagai hiburan, tapi juga menjadi pilihan karier. Artinya, menjadi gamer profesional, mencari nafkah dengan bermain game.

Keberadaan kompetisi-kompetisi game berskala daerah maupun nasional  dengan hadiah berupa uang tunai dengan jumlah berlimpah menjadi hal yang tak asing lagi saat ini. Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan istilah khusus yaitu eSports. Mengacu kamus Oxford, eSports berarti kompetisi game atau permainan game yang bersifat kompetitif. Di kutip dari eportal.id, Kendari – Ratusan gamers dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) ikut bertanding pada turnamen E-Sport ‘Gubernur Cup Esport Battle’ yang dimulai pada Jumat hingga Minggu (21-23/2/2020) di Tugu Religi Kendari.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sultra, Drs Ashar. Event yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sultra, Drs Ashar, Jum’at (21/2/2020). Pada turnamen esport terbesar se – Sultra tersebut ada tiga game online yang dipertandingkan yaitu PUBG Mobile, Freefire dan Mobile Legend dengan total hadiah sebesar Rp50 juta.  Selain itu, terdapat game offline yang turut dipertandingkan diantaranya PES 2020 dan Wormzone dengan total hadiah Rp3 juta. 

Sebagai mana kita ketahui, bahwa game online amatlah berbahaya bagi generasi muda, karena dapat membuat anak menjadi bodoh, malas, serta melenakan  generasi untuk bangkit dari dunia nyata untuk meraih cita cita. Generasi yang seharusnya mempersiapkan diri untuk berprestasi justru tenggelam dalam dunia game yang tiada henti.

Terkait dengan hal itu, ada pemberitaan di laman Kompas.com pada Senin (18/6/2018) bahwa sebuah tulisan yang dikeluarkan oleh Word Healt Organitation (WHO), yang merupakan salah satu lembaga dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Setelah mempertimbangkan banyak hal, WHO resmi menetapkan kecanduan game (game disorder) sebagai penyakit gangguan mental.

Ini adalah masalah serius, game merusak generasi. Namun, rezim saat ini seolah tidak perduli dengan kondisi anak muda yang sedang  darurat dan tidak baik baik saja, negara yang seharusnya melindungi, menyelamatkan generasi kini  mereka justru  mendorong untuk lebih jauh lagi dalam dunia game dengan memberi peluang bahkan menjadikan game sebagai ajang kompetisi.

Namun, saat ini kita tidak bisa berharap pada negara yang berasaskan sistem demokrasi. Karena selama negeri ini berasaskan sistem demokrasi yang dinilai adalah nilai materi sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan dampak yang akan terjadi terhadap masyarakatnya. Sehingga negara hanya mementingkan keuntungan finansial dari pesatnya pengguna game online ini.

Adanya kompetisi game online tidak lepas dari kegagalan sistem kapitalis. Yang menjadikan industri game sebagai salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan. Industri games dikembangkan dengan melihat keuntungan materi semata lalu mengabaikan efek negatifnya, yang justru lebih besar kerugiannya. Proyek industrialisasi games ini diungkap oleh Presiden Joko Widodo pada debat pamungkas pilpres 2019, seperti yang dilansir oleh (m.liputan6.com. 13/04). Tidak hanya menyediakan ragam games dan perangkatnya, ajang perlombaanpun digenjot agar keuntungan materi diperoleh lebih besar lagi.

Tak hanya melahirkan generasi malas, ternyata game online juga merupakan perbuatan yang sia sia, jadi tidak selayaknya pemerintah menjadikan game online sebagai ajang kompetisi apa pun alasanya. "Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat" (HR. Tirmidzi no.2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani). Imam Syafi'i mengatakan " Sungguh kehidupan pemuda itu dengan ilmu. Jika tidak demikian maka matinya lebih diharapkan dari hidupnya "Pun juga, dengan kondisi para pemuda generasi bangsa saat ini yang telah terjerumus dalam perbuatan yang mubah - mubah bahkan sia sia.

Negara  yang memisahkan agama dalam sistem aturan kehidupan (kapitalis sekuler), salah satunya menjadikan game online sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan atau materi tanpa peduli generasi yang sudah rusak bertambah semakin marak.  Industri game, kompetensi game dan profesi game dianggap sebagai peluang bisnis dalam menyumbang perekonomian. Bahkan sistem pendidikan dalam negara sekuler menjadi tak jelas arah dan kental aroma bisnis berbasis proyek digitalisasi. 

Akhirnya, generasi rusak akibat negara sendiri yang merusak karena sistem kapitalis sekuler yang diterapkan.
Solusi kerusakan generasi harus sistemik. Sistem pendidikan sekuler, sistem sosial yang liberal, sistem ekonomi yang kapitalis, dan sistem hukum yang tidak manusiawi dan lemah semuanya menjadi sumber rusaknya generasi. Berbagai sistem tersebut berakar dari aturan kehidupan yang diterapkan. Orang tua atau keluarga merupakan pilar utama dan pertama dalam melindungi generasi. Namun, pilar keluarga tidak akan rapuh jika tidak disokong oleh negara. Negara berperan sebagai perisai( pelindung) yang menjauhkan para pemuda dari hal hal yang dapat merusak mental mereka. Semuanya ini memang membutuhkan negara dengan sistemnya yang luar biasa. Sejarah keemasan seperti ini pun hanya pernah terjadi dalam sistem khilafah. Wallahu Alam bisshawab.[]

Oleh: Dewi Sartika (Komunitas Peduli Umat)


 

Posting Komentar

0 Komentar