Feminisme Tak Cocok Bagi Perempuan

Pada 8 Maret 2020, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Kali ini PBB mengangkat tema “Saya Generasi Kesetaraan : Menyadari Hak Perempuan”. Kampanye genersai kesetaraan membawa bersama orang dari setiap gender, usia, etnis, ras, agama dan negara untuk mendorong aksi yang akan menciptakan kesetaraan gender dunia yang semua layak mendapatkannya. 

Tujuan dari kampanye tersebut untuk memobilisasi mengakhiri kekerasan berbasis gender, keadilan ekonomi dan hak untuk semuanya, otonomi tubuh, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, serta tindakan feminis untuk keadilan iklim. Selain itu, menginginkan teknologi dan inovasi untuk kesetaraan gender dan kepemimpinan feminis (Liputan 6.com).

Mengutip dari muslimahnews.com menyebutkan bahwa ide kesetaraan gender (feminisme) lahir sejak abad 18 seiring dengan kemunculan kapitalisme. Nasib perempuan tak lebih dari warga negara kelas dua. Dipandang sebelah mata. Namun, eksistensinya mulai muncul pada awal abad ke-20, yaitu dengan adanya gerakan Women's Lib yang berpusat di Amerika. 

Isu awal yang muncul adalah tentang persamaan hak dalam memilih, karena saat itu perempuan disamakan seperti anak-anak di bawah umur yang tidak boleh mengikuti pemilu. Inilah latar belakang  munculnya ide kesetaraan gender yang kini berkembang dalam beragam bentuk. 

Mempermasalahkan tentang karir, peran, bahkan merambah pada agama yang menganggap mereka tidak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.
Ide dasar feminisme ini, sejatinya lahir dari pola pikir yang liberal. Memandang kebebasan bagi tiap-tiap individu adalah hal yang lumrah. 

Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani kehidupan, menggapai kesuksesan, menaikkan perekonomian. Menganggap dengan diwujudkannya kesetaraan gender tersebut akan menyurutkan permasalahan pada perempuan. Justru sebaliknya, solusi yang diusung dari ide liberal ini malah akan memunculkan permasalahan baru pada perempuan. Contohnya saja, bagaimana mana mungkin pekerjaan perempuan disamakan dengan laki-laki? 

Sedang ia sendiri punya tanggung jawab dalam mengurusi keperluan rumah tangga dan anaknya. Jika laki-laki bisa bekerja lembur sampai larut malam, apakah perempuan pun harus sama dengan laki-laki? Sedang ia memiliki kewajiban memberi perhatian pada anak-anak dan suami mereka. Bukankah hal ini akan merusak keluarga mereka sendiri? Alih-alih mengobati permasalahan yang muncul, malah semakin memperkeruh keadaan.

Kasus-kasus yang terjadi hari ini pada perempuan hari ini seperti kekerasan pada pekerja perempuan, pelecehan seksual, diskriminasi, dan lainnya merupakan buah dari keluarnya perempuan dari fitrahnya. Ketika standar kesuksesan adalah tercapainya sebuah materi, maka perempuan berlomba-lomba mengejar karir hingga lalai akan kewajibannya sebagai perempuan. 

Apa-apa saja yang mampu menunjang karir dan mendongkrak perekonomian, maka tuntutan apapun yang diberikan perusahaan misalnya, harus dipenuhi tanpa memikirkan halal tidaknya hal tersebut dilakukan. Penggunaan pakaian feminim, menampakkan lekuk tubuh, bermake up berlebihan, semua dilakukan demi menarik pelanggan melariskan produk adalah contoh yang sering kita saksikan di kehidupan hari ini. Sehingga, permasalahan tadi pun tak terelakkan. 
Ide kesetaraan gender ini tidaklah sesuai dengan fitrah perempuan itu sendiri. 

Perempuan dan laki-laki diciptakan sama dari segi potensi dan akal sebagai insan. Namun, berbeda dari segi karakter dan sifat. Karenanya, kedudukan manusia sama di hadapan sang pencipta, yang membedakan adalah ketakwaannya. Di sisi lain, perempuan dan laki-laki memiliki beban yang berbeda disebabkan perbedaan karakter dan sifat yang dimilikinya. Keduanya memiliki kekhususan masing-masing yang membuat aktivitas mereka berbeda. Inilah salah satu bentuk keadilan sang pencipta bagi makhluknya. Ia menciptakan keseimbangan antara beban dan karakter masing-masing sehingga kehidupannya terarah dan terpenuhi dengan benar.

Wanita Barat, para pengusung ide feminisme yang merasa tidak mendapatkan haknya sebagai manusia perlu melihat dan mempelajari betapa istimewanya wanita dimuliakan dalam Islam.  Islam hadir mengangkat derajat wanita. Merincikan hak dan kewajiban bagi laki-laki dan perempuan berdasarkan karakter dan sifatnya. Tidak tertukar, tidak pula salah menempatkan. Sehingga, Islam mampu menekan permasalahan-permasalahan pada perempuan. Karena itu, perlu kembali kepada penerapan Islam secara keseluruhan dalam bingkai negara Islam kaaffah. Wallahua'lam bisshowab.[]

Oleh Qisti Pristiwani
Mahasiswi

Posting Komentar

0 Komentar