Ditengah Kepanikan Publik Merespon Virus Corona, Bagaimana Seharusnya Sikap Pemimpin?


Masker menjadi barang langkah dan berharga tinggi setelah wabah Corona atau Covid-19 menjalar. Masyarakat berbondong-bondong membeli karena menganggap barang ini dapat mencegah virus masuk ke tubuh. Tapi kelangkaan ini ternyata dimanfaatkan beberapa oknum yang sengaja membeli dalam jumlah besar, ditimbun lalu dijual lagi dengan harga yang semakin melambung.

Dilansir tirto.id pelaku penimbun masker berinisial HK dan TK baru saja ditangkap Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Utara dan Polsek Pademangan. Namun ditengah kepanikan publik merespon virus corona, polisi malah menjual masker hasil sitaan dari penimbun. Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto mengatakan masker-masker ini lantas mereka jual dengan harga normal. "Kami akan melakukan sesuatu yang mungkin agak melanggar, tapi demi kepentingan umum yang lebih besar. Yang kami jadikan barang bukti ini akan kami jual kembali ke masyarakat," jelas Budhi di kantornya, Kamis (5/3/2020). 

Disisi lain alih-alih memberi arahan yang dapat menenangkan rakyat, Menteri Kesehatan Terawan justru heran mengapa masyarakat begitu heboh dg kasus virus corona. Beliau juga menanggapi dengan santai seputar 2 WNI yang Positif terkena virus . Hal  ini menciptakan kesan bahwa Pemerintah seolah memandang kasus ini bukanlah persoalan besar.

Ditengah kekhawatiran masyarakat terkait virus corona rezim juga tetap memasukkan wisatawan dan pekerja asing Cina ke Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjitan bilang terhambatnya arus balik Tenaga Kerja Asing Cina di Indonesia memberi dampak negatif ke perekonomian.

Hal ini menjelaskan bahwa watak rezim korporatokrasi hari ini lebih berorientasi untung dibanding kemaslahatan rakyat. Seharusnya Pemerintah mengedepankan keselamatan rakyat dibanding kepentingan ekonomi dll. Kebijakan Pemerintah saat ini semakin menampakkan watak asli sistem yang dianut oleh negeri ini, negara berlepas tangan dalam mengatur hajat hidup rakyatnya.

Dalam sistem demokrasi negara hanya berfungsi sebagai lembaga eksekutif  yang menjalankan amanat rakyat. Dalam praktiknya, yang disebut "rakyat" tersebut hanyalah sebatas para pemilik modal dan kekuatan. Tak heran jika kemudian pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasai negara.

Sementara dalam islam, kepemimpinan memiliki dua fungsi yaitu sebagai raa'in (pengatur urusan rakyat) dan junnah (pelindung). Rasulullah Saw bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari). Dalam hadis tersebut jelas bahwa para Khalifah, sebagai para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurusnya dengan baik atau tidak.
Makna raa’in ini digambarkan dengan jelas oleh Umar bin Khaththab, ketika beliau memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada seorang ibu dan dua anaknya yang kelaparan sampai-sampai memasak batu.  Atau ketika beliau di tengah malam membangunkan istrinya untuk menolong seorang perempuan yang hendak melahirkan .

Begitu juga yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang berusaha keras memakmurkan rakyat dalam 2,5 tahun pemerintahannya sampai-sampai tidak didapati seorangpun yang berhak menerima zakat.

Nabi Muhammad SAW juga berkata bahwa pemimpin adalah junnah. ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). Fungsi junnah dari Khalifah ini tampak ketika ada Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi saw melindunginya, menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah. Selama 10 tahun, tak kurang 79 kali peperangan dilakukan Rasulullah Saw, demi menjadi junnah bagi Islam dan kaum Muslim.

Kedua fungsi ini tidak hanya dijalankan oleh Nabi tetapi juga para Khalifah setelahnya . Kedua fungsi ini ketika dijalankan sesuai apa yang digariskan syara’, terbukti membawa kesejahteraan dan kejayaan umat Islam.
Wallahu'alam bishawabb.[]

Oleh : Nurul Afifah
(Ibu Rumah Tangga)

Posting Komentar

0 Komentar