Disrupsi Politik: Bagaimana Nasibnya di Era 4.0?


Lafaz disrupsi sudah sangat sering hadir di ruang dengar kita. Saat ini, tak satu bidang pun yang tak terdisrupsi. Era kemapanan perusahaan taksi seperti blue bird didisrupsi keberlangsungannya dengan kehadiran jasa transportasi online seperti Grab, Gojek dan Uber. Matahari dan Ramayana Department Store kolaps didisrupsi Alibaba, Lazada, Tokopedia, Shopee dan lain sebagainya. Badai PHK pun melanda setelah dunia diterjang disrupsi, begitu banyak fungsi yang digantikan oleh robot. Efisiensi menjadi prasyarat perusahaan untuk bisa memenangkan persaingan bisnis di era disrupsi. 

Gerd Leonhard, pengamat masa depan, menilai disrupsi ini akan memasukkan kita ke sebuah era unlearned. Artinya, apa yang sebelumnya sudah dipelajari di masa lalu tiba-tiba menjadi berubah. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan teknologi yang terlalu cepat. Sehingga selanjutnya kita akan memasuki apa yang disebut Thomas Friedman sebagai age of acceleration, di mana kecepatan belajar manusia tidak akan mampu mengikuti kecepatan perkembangan teknologi.

Fenomena disrupsi ini juga menyerang dunia politik. Ini tercermin dari munculnya para pemimpin baru yang cenderung lebih populis. Muncul isu-isu yang (yang akan ) dinilai menjadi dagangan politik yang akan membahayakan bangsa di masa depan. Karena membagi masyarakat dalam kelompok kami dan mereka. Pilkada Jakarta adalah salah satu bukti keberhasilan strategi populisme tersebut. Populisme tidak hanya subur di Indonesia. Presiden AS Donald Trump dengan slogan Make America Great Again adalah salah satunya. Demikian juga Vladimir Putin (Rusia) dan Recep Tayip Erdogan (Turki). Akibatnya, masyarakat menjadi terkotak-kotak. 

Ada yang menilai, kalau di Indonesia isu agama yang dijadikan dagangan, tapi di Eropa dan AS yang dijual adalah isu migrasi dan Islamophobia. Tapi pada intinya, isu-isu tersebut dinilai menjadikan masyarakat dihadapkan pada ketakutan. Para pemimpin populis hadir untuk memenuhi kebutuhan rasa aman akan ketakutan tersebut dengan janji-janji merebut kekuasaan dari kaum mapan. 

Oleh karena di era ini politik terdisrupsi oleh isu agama, mari kita lihat bagaimana dengan bidang agama sendiri. Apakah turut pula terdisrupsi? Para agamawan dan budayawan dalam saresehan Reaktualisasi Relasi Agama dan Budaya di Indonesia, ternyata melihat pula bahwa agama pun terdisrupsi. Dan itu dinilai berpotensi mengganggu iman umat. Di samping juga hubungan sosial antara keyakinan dan kenyataan sosial serta kultural lokal di mana umat berada. Mereka membahas radikalisasi agama yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 

Tampaknya, tersebarnya informasi via internet telah membuka mata banyak orang di berbagai penjuru dunia. Kini kejadian pengeboman di Palestina, misalnya, bisa langsung dilihat di Banda Aceh hanya dalam hitungan menit. Kepiawaian penyampaian informasi dalam persepektif tertentu dinilai akan sampai ke pihak lain dalam perspektif yang dia yakini pula. Masyarakat tampak terbelah menjadi yang pro versus kontra. Ada yang menilai, ini bisa menjadi berbahaya karena ada kaum populis yang berkeinginan membagi masyarakat menjadi kami dan mereka. Seperti pada masa Pilpres 2019 kemarin. 

Mungkin ini tantangan bagi dunia IT dan dunia informasi. Hingga ada yang memimpikan adanya suatu engine yang bisa masuk otomatis ke media sosial untuk memberikan referensi terhadap kata kunci tertentu. Jadi, siapkan diri untuk menghadapi kondisi ini. Siap?[]

Oleh Ummu Afkar (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar