Covid 19 Membuka Mata Masyarakat Soal Wajah Pemimpin Kapitalis


Sejak awal masyarakat ragu terhadap keseriusan pemerintah menangani Covid 19. sampai WHO bersurat pada Jokowi akhirnya diputuskan sebagai Bencana Nasional. Namun keraguan masyarakat tidak hilang karena masih banyak hal yang terkesan ditutupi oleh pemerintah. Apalagi, lambatnya penetapan status dan penyerahan langkah tindak pada masing-masing daerah (bisa berbeda penanganan antar pemerintah daerah) terbukti membuat warga terjangkit Covid meningkat berlipat ganda.

 Jumlah kasus positif virus Corona di Indonesia terus bertambah. Kini sudah ada 369 per 20 maret kasus positif Corona di Indonesia. Jumlah korban meninggal dunia dan yang sembuh masih konstan.

Data terbaru COVID-19 berikut ini dihimpun dari keterangan juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, yang menyampaikan keterangan lewat siaran langsung di akun YouTube BNPB Indonesia, Selasa (17/3/2020) sore, ditambah keterangan dari situs Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, dan berita mancanegara terkait perkembangan WNI yang terpapar COVID-19 di luar negeri.

 

Menelisik di Kalbar daerah tempat tinggalku saat ini ! Berdasarkan laporan kasus di kabupaten/kota se Kalimantan Barat sampai dengan tanggal 17 maret 2020, tercatat 110 orang dalam pantauan dan 15 orang dalam pengawasan, yaitu Kota Pontianak 4 orang, Kabupaten Mempawah 2 orang, Kabupaten Kayong Utara 1 Orang, Kabupaten Ketapang 1 Orang, Kabupaten Sambas 2 Orang, Kabupaten Bengkayang 4 Orang dan Kabupaten Landak 1 Orang dan entah akan bertambah seberapa banyak lagi.

Dalam kasus yang besar seperti ini,  pemerintah pusat berlepas tangan dan memberikan arahan yang tak masuk akal dan membahayakan masyarakat untuk tidak menanggap serius tentang Covid-19 ini padahal korban sudah berjatuhan. 

Akhirnya kepala daerah memiliki inisiatif masing-masing untuk menyelamatkan warganya,  dengan arahan meliburkan sekolah anak-anak dari tingkat paud sampai Kuliah,  menutup cafe-cafe tempat tingkrongan, menutup masjid untuk sholat lalmengarahkan untuk sholat di rumah dan melarang masyarakat berkeliaran di luar rumah dan jalan-jalan. Para PEMDA bergerak bukan karna satu komando yang di arahkan oleh Presiden namun mereka bergerak sendiri dan tidak ada tanggung jawab penuh dari presiden.

Berdasarkan laman muslimahnews.id menuliskan sikap yang harus diambil penguasa yaitu sebagai berikut,

1. Butuh Satu Komando

Penanganan corona memang bukan hanya beban pemerintah. Semua komponen masyarakat harus ikut andil menjadi bagian dari solusi. Namun, masyarakat tak boleh dibiarkan bertindak sendiri, mengingat beragamnya pengetahuan masyarakat.

Pemerintah harus bersikap sebagai raa’in (pengurus) dan mas’ul (penanggung jawab) untuk menyelesaikan masalah corona. Negara tak boleh menjadi autopilot, di mana rakyat dibiarkan mencari solusi sendiri-sendiri. Fenomena panic buying akhir-akhir ini membuktikan bahwa masyarakat bergerak sendiri mencari solusi.

Dalam sistem Islam yang diemban melalui Negara Khilafah, baik pemerintah maupun rakyat, semua saling mendukung dalam ketaatan pada syariat. Wabah diyakini sebagai musibah yang dapat ditimpakan kepada siapa pun, baik orang yang beriman maupun tidak.

Bagi kaum beriman, haruslah meyakini bahwa wabah ini adalah makhluk Allah, tentara Allah. Maka sikap pertama adalah menguatkan keimanan kepada Allah dengan berserah diri kepada-Nya. Tak lupa introspeksi, bertobat hingga terus meningkatkan hubungan kepada Allah. Di samping terus memaksimalkan ikhtiar.

Pemimpin Indonesia harus bisa membaca peta politik internasional ini. Termasuk bagaimana sikap negara besar seperti Amerika Serikat (AS), negara-negara Eropa, Jepang, dan Cina dalam menyikapi corona. Trump telah mengumumkan darurat nasional untuk AS. Cina telah lebih dulu melakukan isolasi terhadap Provinsi Hubei yang Wuhan menjadi ibu kotanya.

Rasulullah SAW dan para khulafa’ur rasyidin mencontohkan, meski saat mereka memimpin umat Islam masih kecil wilayahnya, namun pandangannya level internasional. Meski tinggal di Arab, para sahabat banyak berdiskusi dengan Rasulullah SAW tentang persaingan antara Romawi di Barat dan Persia di Timur. Ketika tahu ada wabah di wilayah lain, Rasulullah SAW menyerukan pada umat Islam untuk menjauhi wilayah itu.

2. Tepat, dan bersikap tegas.

Penyebaran virus corona sangat cepat. Setiap hari ada penambahan pasien baru. Seorang negarawan harus mampu berpikir dan bertindak cepat, sekaligus tepat. Pemimpin tak boleh berpikir lambat, yang berakibat jumlah korban makin banyak. Apalagi sampai menunggu arahan pembisik di sekitarnya.

3.Haruslah Beriman kepada Allah

Bekal utama untuk melawan penyakit adalah akidah, yakni yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya, yakin Allah SWT adalah Yang Maha Menyembuhkan, yakin takdir Allah SWT pasti baik, dan tetap memaksimalkan ikhtiar untuk kesembuhan.

4. Pemimpin tak boleh menganggap sepele terhadap urusan apa pun.

Apalagi terhadap corona yang telah ditetapkan menjadi pandemik dunia. Ketika terjadi wabah kolera di Syam, khalifah Umar bin Khaththab memutuskan untuk tidak ke Syam dan kembali ke Madinah. Amirul Mukminin tidak meremehkan penyakit yang terjadi di Syam, meski tidak terjadi di Madinah.

5. Menjadi Raa’in (pengurus umat).

Dalam kondisi normal, pemimpin harus menjadi pengurus rakyat. Dalam kondisi darurat, lebih-lebih lagi. Pemimpin harus optimal dalam mengurusi rakyat, bekerja siang malam demi mencukupi kebutuhan rakyat. Pemimpin tak boleh bersikap sebagai pedagang yang selalu menggunakan hitung-hitungan untung rugi materi ketika mengurusi rakyatnya. Allahualambisawaab.[]

OLEH : FITRI KHOIRUNISA,A.Md (AKTIVIS BMI)

Posting Komentar

0 Komentar