Corona Bukan Faktor Ekonomi Merana


Corona Mempengaruhi Kondisi Lingkungan Ekonomi Dunia Menjadi Tidak Kondusif Untuk Pertumbuhan Yang Baik

Sebelum Corona menyebar, beberapa lembaga internasional memprediksi laju ekonomi dunia melemah karena beberapa faktor global, seperti perang dagang, geopolitik, dan lainnya. 

Kehadiran Corona sekarang ini dianggap sebagai dampak tambahan yang akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia. 

Pertanyaannya, apakah Corona bisa melumpuhkan ekonomi dunia? Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah mengatakan potensinya sangat sedikit. Sebab, beberapa negara sudah merespons gejala tersebut dengan kebijakan-kebijakannya.

Menurut Piter, virus Corona bisa melumpuhkan ekonomi dunia jika dikategorikan pandemik. Pandemik di sini maksudnya penyakit menular yang mengancam banyak orang di dunia secara bersamaan.

Pengusaha Sandiaga Uno mengatakan Corona membuat ekonomi dunia melemah 0,5-0,9 persen. Pelemahan itu juga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya, dirinya menilai ekonomi dunia tidak akan lumpuh karena Corona. Jadi kalau sebelumnya pertumbuhan ekonominya 4,9 persen bisa turun ke 4,5-4,3 persen, tergantung perkembangan kasus Corona ini dan penanganan yang dilakukan seperti apa. 

Syaikh Hamad Thabib dalam tulisannya "Virus Corona dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Global" mengungkapkan berbagai pendapat dari para ekonom dunia mengenai gangguan yang diakibatkan penyebaran virus Corona. 

Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics mengatakan, "Penyebaran virus yang cepat berarti tidak ada lagi keraguan bahwa itu akan mengganggu perekonomian selama kuartal ini". Edward Moya, analis pasar senior di Awanda mengatakan, "Kekhawatiran bahwa larangan perjalanan akan berdampak signifikan pada ekonomi menjadi meningkat, pada saat yang sama sebagian orang khawatir PDB China akan turun 1% atau bahkan lebih pada kuartal pertama 2020".

Penyebaran wabah virus ini juga memiliki dampak negatif yang besar terhadap maskapai penerbangan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan: (Total pendapatan global untuk maskapai penerbangan yang hilang mungkin mencapai $ 29,3 miliar, disebabkan virus Corona). Dalam pernyataannya, Etihad menambahkan bahwa penilaian awal tentang dampak wabah virus (menunjukkan potensi kerugian 13% permintaan penumpang untuk maskapai-maskapai di wilayah Asia Pasifik).

Epidemi virus Corona ini juga berdampak pada harga minyak. Karena harga minyak mencatat level terendah sejak Januari 2019, dikarenakan kekhawatiran para investor tentang dampak virus Corona pada permintaan minyak di Cina. Harga minyak mentah Brent turun menjadi $ 53,3 per barel. Harga minyak mentah AS juga turun di bawah lima puluh dolar per barel. Harga minyak turun lebih dari 20% dibandingkan dengan harga tertinggi yang tercatat bulan lalu. Prediksi Lembaga-lembaga internasional menunjukkan bahwa virus Corona mengurangi permintaan sebanyak 260 ribu barel per hari di dalam negeri China. Dan prediksi itu juga menunjukkan kekhawatiran akan semakin melemahnya permintaan minyak, seiring dengan tidak adanya akses untuk mendapatkan vaksin yang bisa mengatasi penyakit tersebut. Cina adalah importir minyak mentah terbesar di dunia dengan rata-rata impor harian mencapai 10 juta barel. Dan China merupakan konsumen terbesar kedua dengan konsumsi rata-rata harian mencapai 13,2 juta barel.

Adapun dampak terhadap harga emas, emas mencatatkan level harga tertinggi dalam satu pekan, mengingat upaya para investor mencari tempat yang aman di tengah berlanjutnya kekhawatiran megenai dampak ekonomi penyebaran virus Corona yang jumlah korbannya bertambah setiap hari mencapai lebih dari 2.000 orang hingga sekarang.
Mushthafa Nashar, seorang ahli ekonomi mengatakan, “masih ada banyak ketidakpastian berkaitan dengan dampak virus terhadap pasar. Kita melihat pertumbuhan korban meninggal dan sakit tiap hari. Ada konsekuensi-konsekuensi ekonomi yang masih belum jelas. Hal itu yang mendukung permintaan atas emas pada periode mendatang”.

Dampak Corona Terhadap Ekonomi Dunia

Penyebaran Corona sudah berdampak pada sektor pariwisata, transportasi, dan manufaktur. Dampaknya pun bisa dirasakan ke perekonomian di Indonesia. 

1. Mulai PHK masal karena industri melemah. 

Hal ini bisa terjadi karena industri melakukan efisiensi. Rantai pasok bahan baku industri manufaktur Indonesia mulai menipis lantaran produsennya di China tidak beroperasi. Dengan minimnya bahan baku, banyak perusahaan yang melakukan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja (PHK).

2. Konsumsi turun. 

Konsumsi turun karena ada disrupsi di suplai. Hal ini terjadi karena adanya gangguan dan kekacauan pada turunnya produksi dan distribusi arus barang dan jasa menjadi tidak lancar karena sebagian arus transportasi terhenti. 

3. Daya beli masyarakat terganggu. 

Masyarakat yang terdampak tidak lagi memiliki sumber penghasilan. Otomatis, daya belinya pun akan menurun.

4. Cabutnya modal asing. 

Kondisi ekonomi yang tidak kondusif di suatu negara akan menyebabkan investor menarik modalnya termasuk modal asing. 

5. Beban utang yang melebar.

Pertumbuhan ekonomi yang terganggu memberi kebutuhan bertambahnya utang dan adanya gejolak mata uang menyebabkan hutang yang sudah ada menjadi semakin besar nilainya. 

Namun kasus Corona bukan menjadi penyebab utama ekonomi merana. Sebelum munculnya kasus Corona ancaman resesi memang sudah ada. Peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan ancaman resesi ekonomi makin nyata. Bahkan diperburuk oleh mewabahnya Corona (COVID-19).

Jadi mewabahnya Corona menjadikan lingkungan ekonomi yang tidak kondusif untuk pertumbuhan ekonomi yang baik. Namun 'genetik' sistem ekonomi yang diterapkan saat ini yang sebenarnya menjadi sebab utama ekonomi merana. 

Syaikh Hamad Thabib menjelaskan bahwa perekonomian global di bawah sistem kapitalisme yang rusak adalah lebih lemah dari sarang laba-laba. Di mana, guncangan apapun, kuat ataupun lemah, berpengaruh negatif atau positif terhadap seluruh perekonomian dunia; berpengaruh pada harga-harga bursa, harga-harga barang-barang vital dan jasa, seperti minyak, emas, perusahaan maskapai global. Sebab yang membuat perekonomian tersebut memiliki sifat yang negatif dan buruk ini kembali kepada lebih dari satu perkara, di antaranya:

1. Bersandar kepada back up yang lemah untuk pertukaran perdagangan dan kurs mata uang, sebagai back up untuk kebanyakan simpanan devisa di negara-negara di dunia. Back up ini adalah Dollar, di mana Dollar tidak bersandar kepada pondasi yang tetap berupa emas atau perak, atau bahkan berupa barang-barang berharga yang memiliki nilai instrinsik. Kita telah melihat dampak dari ketidakseimbangan global ini lebih dari satu kali dalam bentuk guncangan-guncangan perekonomian di dalam perekonomian global; melonjak dan terpuruk. Kita juga telah melihat penderitaan negara-negara di dunia, khususnya negara besar karena kekuasaan Amerika ini dan upaya-upaya sejumlah negara untuk lepas dari pengaruh Dollar, tetapi tanpa ada hasil yang bisa disebutkan.

2. Interkoneksi antara pasar-pasar keuangan global, di mana guncangan apapun yang terjadi di pasar maka dengan secepat kilat akan bergerak ke seluruh dunia sesaat setelah terjadi. Sebab cacat ini kembali kepada fakta bahwa pasar-pasar ini tidak memiliki sesuatu yang bisa membuatnya stabil dalam bentuk back uang yang tetap. Sebagian besar saham dan obligasi yang diperoleh pasar-pasar ini merupakan ungkapan dari angka-angka dan sebagian besarnya merupakan angka-angka palsu. Guncangan-guncangan sebelumnya telah terjadi di beberapa negara besar dan kecil yang menimbulkan gelombang global yang menghancurkan yang hampir melenyapkan negara-negara dari peta.

3. Hegemoni Amerika dan kekuasaannya terhadap dunia secara ekonomi. Amerika seperti yang sudah diketahui, perekonomiannya menderita defisit besar dalam neraca perdagangannya dan APBN, disebabkan aksi-aksi politik dan militer yang dilakukannya yang jauh lebih besar dari skala perkonomiannya; dan disebabkan penerbitan surat-surat berharga Bank Sentralnya dalam jumlah besar, tanpa back up hakiki berupa emas dan perak atau barang-barang berharga yang setara. Juga disebabkan belanja dalam negerinya yang jauh melampaui PDBnya. Kekuasaan ini membuat Amerika menggunakan segala cara busuk dan perang menghancurkan, ancaman dan janji-janji, untuk mempertahankan kekuasaan ini. Sebab tanpanya maka Amerika divonis akan mati.

4. Amerika mengontrol komoditas vital seperti minyak. Amerika juga mengontrol pasar keuangan. Dan ada kebutuhan global secara industri terhadap komoditas-komoditas vital ini. Perkara ini memiliki pengaruh yang besar terhadap negara-negara industri dan negara-negara konsumen dan membuatnya berada di bawah belas kasihan kontrol Amerika.

5. Perang dagang menghancurkan yang sedang dialami dunia saat ini menimbulkan ketidakseimbangan di pasar, produksi dan ekspor. Juga menimbulkan fluktuasi di pasar uang dan menimbulkan dampak-dampak negatif terhadap komoditas vital semisal minyak dan emas.


'Genetik' sistem ekonomi kapitalis yang buruk juga terlihat efeknya terhadap ekonomi Indonesia. Hal ini karena beberapa sebab:

1. Ketergantungan kepada negara lain. 

Dengan melemahnya China, banyak negara yang bergantung pada perdagangan komoditas dengan China merugi. Negara yang ekspor ke China mengalami penurunan pendapatan, yang impor mengalami kesulitan bahan baku.

Hal ini karena China adalah produsen dunia yang besar. Banyak negara yang bergantung pada ekspor-impor komoditas ke sana. 

2. Pasar saham. 

Tanda resesi sudah jelas terlihat di pasar keuangan. Tanda utamanya adalah banyak orang yang melepas saham di pasar bursa, kemudian mengalihkannya ke instrumen yang aman alias safe haven.

sumber gambar: cnnindonesia.com

Sistem Ekonomi Islam Memberikan 'Genetik', Lingkungan dan Manajemen yang Baik Bagi Performa Ekonomi Negara

Sistem ekonomi Kapitalis telah terbukti menimbulkan krisis yang berulang. Hal ini merupakan persoalan tipikal dalam sistem Kapitalisme. 'Genetik'nya memang sudah buruk. Apalagi ditambah lingkungan yang tidak kondusif seperti adanya penyebaran Corona dan manajemen pemeliharaan kondisi ekonomi oleh penguasa yang asal-asalan akan menyebabkan ekonomi semakin merana. 

Fenomena tersebut tentu tidak akan dijumpai di dalam Islam. Pasalnya, karakter sistem ekonomi Ismam  sangat kontras dengan sistem kapitalisme. Dengan demikian, potensi krisis ekonomi dalam negara yang menerapkan Islam secara paripurna akan sangat kecil.

Secara singkat, terdapat beberapa pilar ajaran Islam yang menutup celah munculnya krisis ekonomi. Di antaranya:

1. Islam mengharamkan transaksi riba. Riba merupakan transaksi yang tidak sehat secara ekonomi. Alasannya, antara lain terciptanya kezaliman dalam masyarakat. Pasalnya, pemilik modal baik individu, institusi seperti bank, dan negara, mendapatkan pendapatan secara pasti tanpa harus menanggung risiko, Sebaliknya, peminjam harus membayar bunga meskipun mengalami kerugian dari uang pinjamannya. Ini berarti terjadi hubungan yang tidak seimbang. Dalam Islam, pinjaman dikategorikan sebagai aktivitas sosial (tabarru’at), yang ditujukan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Bahkan Islam mendorong pihak kreditor untuk memberikan tempo penundaan pembayaran dan bahkan penghapusan kredit jika debitur mengalami kesulitan. Pada level negara, Baitul Mal menyediakan pos khusus untuk memberikan bantuan modal bagi pihak yang membutuhkan, seperti para petani dan pedagang.

2. Islam mengharamkan pasar modal, keuangan, komoditas berjangka yang dibangun atas transaksi-transaksi yang bertentangan dengan Islam. Di dalam Islam, misalnya, transaksi di pasar komoditas dilarang. Alasannya, transaksi penjualan komoditas dapat berpindah tangan dalam waktu singkat sebelum dikuasai oleh penjualnya dan bahkan belum dimiliki oleh penjual tersebut. Selain itu, haram pula memperdagangkan surat-surat berharga yang melibatkan transaksi yang batil, seperti obligasi berbunga, produk keuangan multi akad, dan saham-saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Islam juga mengharamkan semua sarana perjudian dan manipulasi keuangan.

3. Islam menjadikan mata uang emas dan perak sebagai standar moneter. Mata uang yang beredar adalah emas dan perak atau mata uang kertas atau logam yang nilainya ditopang oleh emas dan perak. Dengan demikian kestabilan uang negara ditentukan oleh nilai emas dan perak yang sepanjang sejarahnya sangat stabil. Di tambah lagi, nilai tukar mata uang akan stabil karena basis transaksinya adalah emas dan perak yang nilainya stabil. Transaksi perdagangan, transfer modal dan biaya perjalanan lintas negara pun akan lebih lancar dan stabil. Saat yang sama, sistem mata uang tersebut menegasikan peran perbankan dalam menciptakan dan melipatgandakan uang (deposit money) melalui kredit dan pembelian surat-surat berharga, seperti pada perbankan yang tumbuh dalam sistem kapitalisme, baik yang konvensional ataupun yang bermerek syariah.

4. Islam mengharamkan konsep liberalisme ekonomi, termasuk dalam aspek kebebasan memiliki dan pasar bebas (free market). Kebebasan memiliki dalam kapitalisme berarti tiap individu bebas untuk menguasai atau menjual komoditas apa saja yang dianggap sebagai barang ekonomi. Akibatnya, saham-saham perusahaan yang memproduksi migas dan mineral seperti emas dan tembaga, misalnya, dapat dengan mudah dikuasai dan diperjualbelikan oleh para investor, termasuk asing. Dampak lainnya, indeks saham dan nilai tukar bergerak liar. Di dalam Islam, konsep kepemilikan diatur tegas. Secara ringkas, kepemilikan dibagi menjadi: kepemilikan swasta, publik dan negara. Barang-barang yang masuk kategori milik publik, seperti minyak, tambang, energi dan listrik hanya boleh dikuasai negara, yang hasilnya didistribusikan kepada rakyat yang menjadi pemiliknya. Dengan demikian, haram memperjualbelikan barang-barang milik umum kepada swasta.

5. Islam mewajibkan pemerintah untuk menjamin pemenuhan hak-hak dasar rakyat, yaitu pangan, pakaian dan perumahan; termasuk menyediakan layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis. Termasuk pula menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat yang menganggur. Dengan demikian, ketika terjadi kontraksi ekonomi yang disebabkan, misalnya, oleh kekeringan yang berkepanjangan atau bencana dalam skala besar, pemerintah tetap wajib menjamin agar kebutuhan dasar masyarakat di atas tetap terpenuhi. Ini berbeda dengan sikap pemerintah dalam sistem kapitalisme yang membiarkan rakyat mereka menggelandang dan mengemis, termasuk di saat ekonomi mereka diterpa resesi.[]

Oleh Tri Widodo
Dosol Uniol Diponorogo 4.0 

Post a Comment

0 Comments