Corona, antara Takdir dan Ikhtiar

Dunia kini tampak panik dengan meluasnya Covid 19 di 185 negara terlebih jumlah yang sakit serta yang meninggal terus melonjak tajam. Tak terkecuali di indonesia, jumlah terjangkit menembus angka 500 dan akan terus bertambah. Korban pun telah berjatuhan termasuk dari pihak medis. 

Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat yang tidak patuh pada aturan pemerintah untuk memutus rantai penularan dengan bertahan di rumah (social distancing). Pada sebagian masyarakat awam menganggap bahwa ketikapun mereka meninggal karena virus ini, itulah takdir Tuhan. Sehingga kerap kali abai dalam mentaati peraturan pemerintah. Ini akan berakibat fatal dan jumlah korban yang positif Corona terus bertambah. 

Ketika Pemerintah melarang untuk sementara tidak beribadah di masjid dan mengadakan pengajian karena resiko penularan akan semakin besar, hal ini disikapi berbeda oleh masyarakat. Ada yg sepakat tapi lebih banyak yang merasa hal tersebut mengusik keimanan mereka. Merasa dihalangi untuk beribadah bahkan dirampas Hak Asasinya.

Padahal perlu kita bedakan antara Takdir dan ikhtiar. Takdir adalah segala sesuatu yang hal itu diluar kekuasaan kita sebagai manusia seperti ajal, jodoh, rezeki itulah takdir. Allah telah tetapkan itu sejak ditiupkan ruh (nyawa) dalam rahim ibu kita. "..Kemudian diutus kepadanya malaikat lalu ditiupkan ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan dan kebahagiaannnya". (HR Bukhari no.6594 dan Muslim no.2643). 

Dalam perkara takdir tugas manusia adalah meyakini dengan keimanannya. Bukan area untuk dibahas tapi untuk diyakini sebagai konsekwensi keimanan kita kepada Allah SWT. Lain halnya dengan ikhtiar, disinilah area kekuasaan manusia. Manusia berusaha dengan sungguh sungguh untuk mencapai tujuannya dengan usaha maksimal yang dimiliki. Dalam proses ikhtiar inilah harus disertai tawakal sejak awal proses berusaha hingga akhirnya.  

Karena posisi kita sebagai hamba Allah SWT yang diutus kemuka bumi ini untuk taat dan meyerahkan segala daya upaya kepada Allah SWT semata. Sehingga ikhtiar ini menjadi jalan manusia untuk mendapatkan pahala dan mencapai tujuannya ketika disertai dengan tawakal kepada Allah SWT.

Jelas salah ketika kita abai terhadap virus yang mewabah dengan alasan bahwa ajal sudah takdir maka tak perlu takut dengan corona. Ini pernyataan yang keliru. Karena mencampur adukkan perkara takdir dan ikhtiar adalah keliru, keduanya berbeda dalam penyikapannya dan juga berbeda domain (area).

Sebaik-baiknya teladan kita adalah Rasululloh saw. Bagaimana Rasululloh dan para sahabat menyikapi virus yang menular? Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayarkan bahwa Nabi Bersabda ” Janganlah unta yang sakit itu didekatkan dengan unta yang sehat”.  Dari hadits Abu Hurairah beliau bersabda ” Hindarilah orang yg terkena lepra seperti halnya kalian menghindari singa”.

14 abad yang lalu Rasululloh saw telah menggambarkan langkah yang seharusnya diambil dalam mengahadapi penyakit yang menular. Islam adalah agama yang paripurna dan menyeluruh. Islam memberikan solusi bagi setiap permasalahan termasuk untuk hal ini.

Bagaimana di Indonesia? Kondisinya tidak lebih baik karena kebijakan yang diambil tidak tegas dan terkesan lamban. Baik dari upaya pencegahan seperti belum ada kebijakan lockdown, hingga penanganan penyakit akibat keterbatasan dana, tes diagnostik, demikian juga ruang perawatan yang tidak memenuhi standar perawatan.

Persoalan semakin pelik, ketika penyelesaian wabah yang harus cepat dan menyeluruh dilakukan dalam bingkai sekat-sekat negara bangsa dan otomomi daerah. Sebab, faktanya wabah juga covid tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa dan kedaerahan. Bukti yang paling nyata adalah, imported case (orang yang datang ke suatu negara dan sudah terinfeksi) menjadi penyebab meluasnya wabah ke seluruh penjuru dunia hari ini, karena pemerintah Cina hanya melakukan lockdown (penguncian akses masuk dan keluar) untuk negara Cina saja. Bahkan, setiap negara dituntut menyelamatkan warganya yang sedang berada di pusat wabah untuk dibawa ke negaranya masing-masing. Dan ini mendukung mendunianya wabah melalui imported case.

Dengan demikian, jelaslah merupakan kebutuhan yang mendesak akan hadirnya otoritas tulus yang compatble (sesuai) tuntutan ilmu pengetahuan pembasmian wabah, yang bersifat cepat, sistemik, lagi tidak mengenal sekat sekat nsionalisme-kedaerahan. Yaitu, otoritas yang mendunia bersifat penyelamat kehidupan, penyejahtera  dan rahmat seluruh alam. Dialah kepemimpinan Islam, Khalifah berikut sistem politik Sunnah Khilafah. Oleh karena itu pandemi ini sudah pernah terjadi di masa Rasululloh saw dan masa Khalifah Umar Bin Khattab. Seperti yang telah Rasululloh contohkan ada proses ikhtiar yang harus dilakukan oleh sebuah negara yaitu dengan Lock down.

 "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah,maka janganlah kalian memasukinya.Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada maka jangan tinggalkan tempat itu".  Maka Islam adalah agama paripurna memberikan contoh sejak 14 abad yang lalu. Selayaknya kita taati sebagai konsekewsi keimanan kita kepada Allah SWT yang secara mutlak akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Karena tidak ada hukum yang lebih baik selain apa yang ada dalam Al Qur'an dan As Sunnah.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin.” (TQS. Al-Ma’idah: 50)
Allahu A'lam.[]

Oleh Cita Asih Lestari S. Pi.

Daftar Pustaka 
1.https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports. 
2.https://m.cnnindonesia.com/inte

Posting Komentar

0 Komentar