Cara Khilafah Menyerap Aspirasi Umat

Beberapa waktu lalu tepatnya pada tanggal 27/2/2020 kita melihat segenap influencer dan buzzer Jokowi diundang ke Istana Bogor. Jokowi memang dikenal ramah dengan para buzzernya. Setidaknya sejak Pilgub DKI Jakarta 2012, Jokowi kerap mengundang buzzer dan influencer. Apakah buzzer itu? Buzzer adalah kata bahasa Inggris yang berarti lonceng/alarm yang berfungsi memanggil/mengumpulkan orang orang. Semacam kentongan bila di Indonesia.

Ketika para buzzer dan influencer ini diundang ke Istana Bogor, mereka diajak bertukar pikiran dan ditugaskan untuk membantu mengantisipasi menurunnya geliat pariwisata di Indonesia akibat virus Corona.

Para buzzer ini juga menyampaikan pendapatnya,entah mewakili siapa. Disini terasa peran buzzer bukan lagi pada porsinya,apalagi bila mereka sudah sampai pada taraf diajak berdiskusi tentang langkah politik yang akan diambil,sebagai contoh mengajak Gerindra bergabung sebagai koalisi pemerintah. Ini adalah sebuah kesalahan dan terjadi pergeseran peran buzzer dari juru kampanye menjadi 'team pertimbangan Presiden'.

Ada yang lebih berhak untuk diajak berunding, dan dimintai masukan terkait dengan kebijakan politik. Buzzer bukanlah representasi dari aspirasi rakyat, karena pada faktanya mereka adalah orang orang pro rezim yang tidak akan pernah bersuara beda dengan penguasa. Ini tentu tidak adil dan dipertanyakan. Lantas bagaimana dengan sistem Islam yaitu Khilafah?

Khilafah memiliki institusi  bernama Majelis Umat. Majelis Umat ini tugasnya adalah sebagai penyalur aspirasi dan muhasabbah terhadap penguasa. Anggota Majelis ini dipilih dari rakyat dan anggotanya perwakilan dari Umat Islam dan Non Muslim, baik laki laki maupun perempuan.

Majelis ini tidak memiliki kekuasaan legislasi sebagaimana perwakilan dalam sistem demokrasi, namun mereka bisa menyuarakan aspirasi  secara bebas tanpa takut tekanan penguasa.Majelis Umat ini juga bukan bagian dari struktur pemerintahan.

Beberapa wewenang Majelis Umat adalah:

1.Dimintai masukan dan memberikan masukan kepada Khalifah.
2.Memberikan masukan terhadap penerapan hukum.
3.Mengoreksi Khalifah atas semua aktifitas praktid Daulah.
4.Berhak untuk menyampaikan ketidaksukaan terhadap Mu'awin,Wali,maupun Amil.
5.Membatasi calon calon Khalifah.
Jadi dari sini kita bisa melihat,dalam sistem Islam, penyampai aspirasi dan yang menjadi team pertimbangan penguasa(Khalifah) adalah Majelis Umat, bukan segolongan orang pro pemerintah, dan yang tentu saja tidak akan melakukan koreksi/muhassabah karena sifatnya yang pro rezim.

Bisa kita simpulkan, Majelis Umat adalah representasi aspirasi Umat yang sesungguhnya.[]

Oleh : Ummu Shabbiyah

Posting Komentar

0 Komentar