Benarkah Islam menjadi Sumber Masalah Bangsa?

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sekaligus Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yudian Wahyudi tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataannya soal agama adalah musuh terbesar Pancasila.

Yudian mengklarifikasi soal pernyataannya tersebut. Menurut Yudian penjelasannya yang dimaksud adalah bukan agama secara keseluruhan, tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila.  Karena, menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religius atau agamis. "Karena kelima sila itu dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci keenam agama yang telah diakui secara konstitusional oleh negara Republik Indonesia," tegas Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta seperti yang dikutip dari republika.co.id, Rabu (12/2).

Pernyataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila sudah sangat jelas terlihat. Menurutnya ketika Islam dijadikan sebagai asas, sama halnya dengan membunuh Pancasila secara perlahan. Jelas pernyataan ini nampak sangat menyusahkan dan menyakiti hati umat Islam. Menyebut agama sebagai musuh, mengingatkan kita pada pernyataan kalangan sosialis komunis, yang menganggap agama sebagai candu. Sungguh, menghadap-hadapkan Islam dengan Pancasila atau melecehkan Islam di hadapan Pancasila, justru bisa kian menguatkan tuduhan bahwa rezim ini adalah rezim anti Islam.

Selain menganggap Islam sebagai musuh ideologi Negara, rezim juga menyatakan bahwa para penceramah /khatib jumat harus bersertifikat dengan standard agar tidak menimbulkan masalah kebangsaan. seperti yang dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengimbau para khatib dalam khutbahnya untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan umat.

Ma'ruf berpesan agar khatib tidak memberikan materi dakwah yang justru mengobarkan permusuhan di antara umat. Pernyataan itu disampaikan Ma'ruf saat membuka Rakernas ke-II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (14/2). "Karena itu harus membangun narasi kerukunan, dalam khotbah itu jangan bangun narasi konflik dan permusuhan, jangan ada perasaan seperti perang melawan Belanda," ujar Ma'ruf dalam sambutannya. 

Pernyataan-pernyataan ini menegaskan bahwa rezim sekuler akan selalu menempatkan Islam sebagai musuh saat  dorongan umat menghendaki Islam menjadi rujukan mencari solusi masalah bangsa yang kian kompleks dari segala sisi. Padahal di dalam Al-qur’an sudah sangat jelas bahwa kita harus menjadikan hukum Allah sebagai solusi setiap urusan, bukan malah sebaliknya. 

Seperti firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 109 :
وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلْأُمُورُ
Artinya : Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan.
Semestinya Muslim menyadari bahwa Islam adalah din yang sempurna sebagai sebuah ideologi dan sekularisme tidak akan bisa berkompromi dengan Islam. Islam bukanlah musuh sebuah negara. 

Seperti firman Allah pada potongan Surat Al- Maidah ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Artinya : “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …”[]

Oleh : Indriana R. Nasution

Posting Komentar

0 Komentar