TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara Rasa Takut & Virus Corona


Saat manusia dilahirkan ke dunia, secara fitrah, ia telah memiliki apa yang disebut dengan al thaqah al hayawiyah atau potensi kehidupan. Potensi kehidupan yang telah Allah berikan tersebut berupa dua jenis kebutuhan, yakni kebutuhan naluri atau yang dikenal dengan gharizah, dan kebutuhan yang kedua yang disebut dengan kebutuhan hidup atau yang disebut dengan Hajat al-'udhawiyah.

Kebutuhan atau tuntutan naluri (al Gharizah) yang dimiliki oleh manusia ada 3 (tiga) :

1. Naluri beragama -mengagungkan sesuatu- (Gharizatut Taddayun)

2. Naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa’)

3. Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau’)

Rasa takut adalah satu bentuk manifestasi dari naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa').  Rasa takut pasti ada dalam diri manusia, karena ia merupakan bagian dari penciptaannya dan secara fitri ada bersama keberadaan manusia.

Seperti halnya manifestasi-manifestasi naluri mempertahankan diri lainnya, misalnya cinta kekuasaan, membela diri, kasih sayang dan sebagainya, maka manifestasi ini tidak akan muncul kecuali jika ada sesuatu yang mempengaruhinya.  Jika tidak ada sesuatu yang mempengaruhinya, maka rasa takut ini tidak akan muncul. Misalnya perasaan marah, ini muncul karena ada sesuatu yang membuatnya marah, tidak mungkin ia akan marah jika tanpa ada sesuatu.

Berbeda dengan potensi kehidupan yang berupa hajat al ‘udhawiyah, maka pemenuhan terhadap potensi ini tidak memerlukan sesuatu untuk mempengaruhinya, atau sesuatu untuk merangsangnya. Contohnya rasa lapar, maka ini akan muncul dengan sendirinya, tanpa harus melihat sesuatu.

Di dalam buku yang berjudul Fikrul Islam, karangan Muhammad Ismail, ada satu bab yang khusus membahas rasa takut. Menurut penulis buku tersebut, rasa takut termasuk salah satu masalah kehidupan yang berbahaya yang mendominasi bangsa-bangsa atau umat yang rendah dan lemah, yang pada gilirannya akan menimbulkan kehinaan dan keterbelakangan bangsa atau umat tersebut.  Apabila rasa takut ini menimpa seseorang, maka akibatnya lenyaplah kelezatan hidup dan keluhuran budi pekerti orang tersebut, disamping menimbulkan kekacauan berpikir dan hilangnya kemampuan untuk memutuskan sesuatu, yang pada akhirnya menghilangkan konsentrasi dan kemampuan mengidentifikasi sesuatu.

Di dalam buku tersebut, perasaan takut dibagi menjadi 3. Pertama rasa takut yang diada-adakan (ilusi). Misalnya seseorang yang berjalan di tengah malam, ia kemudian memunculkan bayangan hantu di fikirannya, sehingga ia takut berjalan di jalan tersebut. Kedua, rasa takut akibat dari salah penginderaan. Misalnya ia melihat seekor anjing mendengkur, tapi dikiranya sebagai anjing gila hanya karena ia pernah melihat anjing gila serupa itu.  Maka iapun takut melewati jalan tempat anjing itu berada dan berusaha menghindarinya. Akan tetapi kalau orang itu cermat menelitinya tentu ia akan tahu bahwa anjing itu adalah anjing jinak yang lagi tidur dan tidak menakutkan, bahkan tidak merasakan kalau ada yang lewat.

Hanya saja pada kondisi-kondisi tertentu rasa takut itu berguna dan bermanfaat, sehingga memang harus ada dan diadakan. Bisa juga sebaliknya, kadangkala rasa takut bisa berbahaya dan membinasakan, sehingga tidak boleh ada dan harus segera dihilangkan.  Rasa takut terhadap bahaya yang memang benar-benar membahayakan adalah sesuatu yang bermanfaat dan harus ada.  Tiadanya rasa takut dalam kondisi seperti ini atau karena meremehkannya adalah suatu hal yang membahayakan dan tidak boleh terjadi, baik itu membahayakan individu ataupun seluruh ummat.  Sebab rasa takut semacam ini berfungsi sebagai penjaga dan pengekang.

Dalam hal ini bisa kita masukan terkait rasa takut terhadap virus Corona. Virus yang telah mewabah ke berbagai negara di dunia ini telah mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Tentu perasaan takut harus ada dalam hal seperti ini, agar tidak ada sikap meremehkan terhadap suatu wabah yang tengah terjadi.

Takut yang ketiga yakni rasa takut hanya kepada Allah. Takut saat Allah murka. Takut akan tidak mendapatkan ridhaNya Allah. Takut bahwa semua musibah yang telah terjadi adalah bentuk adzab dari Allah. Sebagai bentuk peringatan dari Allah, agar manusia kembali kepada Islam. Kepada menjadikan aqidah Islam sebagai landasan di dalam berfikir. Kembali menjadikan syariah Islam sebagai standar dalam melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan.

Disini pula pentingnya keimanan yang kokoh bagi setiap mukmin. Yakni memiliki pemahaman bahwa sungguh kematian itu penyebabnya hanyalah satu, yaitu berakhirnya ajal, bukan karena sebab lain seperti karena virus corona, dan lainnya.

Ayat-ayat al-Quran yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah menyatakan secara pasti bahwa Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan mematikan. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (QS Ali Imran [3]: 145).

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya (QS al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)

Dengan memiliki pemahaman keyakinan yang demikian, maka mukmin tersebut tidak akan memiliki rasa takut terhadap kematian, karena perkara tersebut telah Allah tetapkan, dan penyebabnya hanyalah karena ajal yang sudah berakhir. Sehingga ia hanya akan fokus kepada upaya agar terhindar dari wabah penyakit tersebut, sebagai bentuk kewajiban untuk tidak memudharatkan dirinya sendiri. Wallahu a’lam bisshowab.[]

Oleh : Adi Victoria (Penulis & Aktivis Dakwah)




Posting Komentar

0 Komentar