Wabah Global L68T Tidak Bisa Dihentikan Dengan Ketahanan Keluarga


Masih segara dalam ingatan bagaiman peristiwa L68T yang terjadi dinegeri ini, seperti insiden penggerebekan 141 pria diduga homoseksual, di ruko yang diduga sebagai lokasi pesta seks gay di Kelapa Gading, Jakarta Utara menjadi sorotan dunia. Pada September 2015, warga Bali dihebohkan dengan pernikahan pasangan dua pria di sebuah hotel di daerah Ubud Kabupaten Gianyar, Bali. Pada awal Mei masyarakat Surabaya dikejutkan dengan pesta gay yang diduga dilakukan di dua kamar di Hotel Oval Surabaya. Pesta seks gay di Ruang 203 dan 314 itu digerebek jajaran unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, Minggu 30 April 2017. Satreskrim Polresta Surabaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menggelar tes Infeksi Menular Seksual (IMS) terhadap belasan peserta pesta itu. Lima dari 14 orang peserta pesta seks gay itu positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). (liputan6.com)

Dang yang paling mengehebohkan dunia, kasus pemerkosaaan ratusan laki-laki di Inggris terkuak, kasus tersebut dilakukan oleh Reynhard Sinaga, warganegara asal Indonesia, dan ini menjadi sebuah catatan penting dimana penyebaran paham lesbian, gay, biseksual dan transgender (L68T) sudah sangat mengkhawatirkan.

Pembiaran yang terjadi di berbagai belahan dunia hingga saat ini, justru jadi celah yang cukup besar bagi eksistensi kaum LGBT untuk bergerak bebas dan semakin memperbanyak Komunitasnya. Dan banyak lagi kasus L68T lainnya yang melanda dunia, dan eksistensinya semakin mengglobal.

Dan bagaimana dengan negeri ini?

Sejatinya kasus yang terjadi yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga menunjukkan bahwa keniscayaan adanya Reynhard Sinaga yang lain. Namun seolah pemerintah tutup mata dalam menyikapinya bahkan tindakan preventifpun sangat minim. Ini disebabkan tidak adanya aturan yang mengatur tentang L68T dan ketakutan tudingan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Padahal sudah sangat jelas bagaimana maraknya penyebaran L68T menjadi ancaman serius dan bencana yang dapat memusnahkan nilai-nilai moral agama dan kehidupan.

Meroketnya angka LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) harus menjadi keperihatinan juga kewaspadaan kita sebagai orangtua. Tak bisa dipungkiri, LGBT ini bagaikan fenomena gunung es. Mengutip dari kpi.go.id, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawaty, mengatakan, kasus kejahatan seksual sesama jenis pada anak kian mengkhawatirkan dimana angka kasus tersebut terus meningkat tajam. Seperti di Tangerang dengan korban sebanyak 41 anak.

 

LGBT adalah penyimpangan prilaku yang begitu merusak. Bahkan ironisnya, kini semakin menyasar anak-anak, baik secara langsung maupun melalui media buku dan film.

Di Indonesia, film ini tayang sejak 2016 melalui salah satu televisi nasional. Dalam tampilan visual yang didominasi warna pastel berhasil melahirkan interaksi secara intensif antara anak-anak dan tayangan ini. Bisa dibayangkan dampaknya kepada anak-anak penontonnya. Menjadikan orientasi seks yang keliru yang bertentangan dengan fitrah manusia dianggap boleh-boleh saja. Selain itu secara kesehatan, LGBT merupakan salah satu penyumbang tingginya angka HIV/ AIDS di Indonesia. Umumnya, para pelaku LGBT memiliki gaya hidup seks bebas dengan berganti-ganti pasangan sehingga sangat berisiko.

 

Data menunjukkan, LGBT tidak berdiri sendiri. Mereka adalah gerakan global dengan dukungan dana yang besar.  Lihat saja, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghapus LGBT dari daftar penyakit mental (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders).  Mereka menyebut, LGBT adalah perilaku normal bukan kelainan mental.

Bahkan sebagai wujud pengakuan terhadap eksistensi kaum LGBT, kini telah ditetapkan hari Gay Sedunia dan ada 14 negara yang membolehkan pernikahan sejenis, dan hanya tiga negara yang menganggap LGBT sebagai kriminal. (Republika, 12/2/2016).

Munculnya perilaku menyimpang dominan disebabkan oleh faktor lingkungan. Misalnya saja karena salah pergaulan. Jadi, lingkungan dan kebiasaan menjadi faktor pemicu paling besar terjadinya LGBT di Indonesia. Adanya pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia juga bisa menyebabkan penyimpangan perilaku ini terjadi. Keadaan ini ditambah dengan budaya kebebasan dan hak asasi yang di dengungkan oleh barat. Dari sini bisa disimpulkan bahwa memang LGBT itu berasal dari faktor eksternal.

Maraknya LGBT tidak terlepas dari khitthah (strategi) penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara penjajah di negeri Muslim terbesar ini. Strategi ini melengkapi strategi lain, yang bertujuan untuk melemahkan ketahanan negeri Muslim terbesar ini, dengan merusak SDM-nya. Selain liberalisasi di bidang pemikiran, perilaku, politik dan ekonomi. Namun, strategi ini tidak akan berjalan, jika tidak ada kongkalikong di antara para agen penjajah, baik yang duduk di pemerintahan, NGO maupun yang lain. Bagaimana tidak, Rusia saja, yang bukan negeri Muslim, melarang LGBT.

Singapura, yang kehidupan sosialnya lebih liberal, juga melarang LGBT. Anehnya, Indonesia, yang mengakui lebih religius, berketuhanan, berkeadaban dan berperikemanusiaan, ternyata membolehkan perilaku menyimpang yang tidak dilakukan oleh hewan sekalipun.

Cukupkah dengan memaksimalkan ketahanan keluarga

Kita tahu bahwa ibu Reynhard menggambarkannya sebagai "anak yang baik, rajin beribadah, rajin ke gereja." Kurang taat apa coba? Namun mengapa masih bisa berperilaku demikian?

Tak kalah penting perhatian keluarga. Apalagi saat ini keluarga dengan maksimal melindungi anak dengan membekali pondasi agama yang kuat, iman dan takwa menjadi bekal utama bagi anak menghadapi dampak negatif era teknologi informasi. Salah satunya makin masifnya pergaulan bebas, termasuk LGBT.

Sinergi dalam pengasuhan ayah dan bunda yang solid. Mampu menjadikan ayah dan bunda sebagai sahabat anak, mampu memahami psikologi anak, dan bersikap bijak terhadap anak.

Memantau pergaulan dan memilihkan lingkungan yang baik.dan memberikan informasi edukasi dan pengarahan Penting memberikan informasi dan edukasi sejak dini.

 

Menyeleksi tontonan dan bacaan anak Menghindarkan anak dari tayangan-tayangan yang mendukung LGBT serta bacaan yang mendukung LGBT.

 

Namun apakah semua itu cukup? Dalam Islam peran keluarga sebagai benteng terakhir pertahanan dalam perlindungan anak, namun ia tidak bisa bertahan jika tidak ditopang oleh peran masyarakat yang sangat besar dalam memberikan pengaruh terhadap kehidupan anak, dalam islam masyarakat didefinisikan sebagai kumpulan dari individu yang memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama. Namun dalam sistem kapitalis peran itu seakan pudar, masing masing individu disibukkan dengan kehidupannya sehingga sikap individuaistis menjadi corak masyarakat kapitalis yang liberalis saat ini.

 

Masyarakatpun tak mampu bertahan dengan kekuasan besar terhdap mereka yakni negara. Mengapa? Karena negaralah yang berperan dalam membuat aturan yang mampu mengikat masyarakat agar senatiasa taat kepada Allah. Dan itu tidak kita temui dalam negara yang menerapkan sistem kapitalisme, aturan yang dbuat manusia meniscayakan bagaimana peran manusia dalam membuat aturan yang memuaskan hawa nafsu, maka wajar tidak ada aturan yang mampu menjerat para pelaku L68T saat ini bahkan didunia.

 

Allah sudah memberikan peringatan kepada kita

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

 

Islam mengatur kehidupan sosial dengan sempurna. Melarang wanita berpakain pria dan pria berpakaian wanita. Serta melarang kampanye LGBT dalam ruang publik baik di TV atau di film. Dan paling penting adalah menghukum pelaku LGBT dengan hukuman yang tegas. Dengan itu akan menjadi pencegah bagi lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Tanpa peran serta negara untuk menghentikan teror LGBT ini adalah mustahil. Dan berharap negara sekuler seperti Indonesia yang justru memberikan ruang kepada mereka juga bak pepesan kosong. Maka negara harus memandang LGBT ini sebagai tindakan kriminal, dan dihukum dengan hukuman tegas. Itulah peran penting negara dimana negara secara mandiri mengatur kehidupan masyarakatnya dengan hukum Islam. Bukan bergantung dengan pihak asing. Wallahu ‘alam.[]

Oleh : Noor Sri Melani

Posting Komentar

0 Komentar