TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Virus Corona Mewabah Membuat Masyarakat Semakin Resah

sumber pict akurat.co


Jagat Raya kembali dihebohkan dengan mewabahnya virus corona di berbagai negara. Jumlah korban virus Corona hingga hari Minggu (2/2/2020) telah mencapai 305 pasien meninggal dan 14.568 kasus infeksi di seluruh dunia, terutama di China. (Kompas.com)

Dilansir dari South Morning China Post, satu korban meninggal berasal dari Filipina, dan ini menjadi kasus pertama yang terjadi di luar daratan utama China. Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan, di negaranya , angka kematian akibat virus Corona dilaporkan bertambah sebanyak 45 kasus dan 2.590 kasus baru untuk jumlah yang terinfeksi. Total infeksi di China saat ini mencapai angka 14.380 kasus, 9.074 diantaranya terjadi di Provinsi Hubei. Dari jumlah tersebut 1.118 diantaranya parah dan 444 lainnya dalam keadaan kritis.

Wabah virus corona juga menyebabkan kota Wuhan seperti kota mati. Sehingga tindakan mulai dilakukan oleh pemerintah berbagai negara untuk mengevakuasi warganya yang berada disana. Sebuah pernyataan di laman web resmi konsulat Prancis di Wuhan mengatakan bahwa Prancis sedang mempertimbangkan dan menyiapkan layanan bis yang memungkinkan warga Prancis, pasangan dan anak-anak mereka meninggalkan Wuhan.

Selain itu, Amerika Serikat merencanakan penerbangan carter pada Minggu (26/1/2020) untuk membawa warga negara dan diplomatnya kembali dari kota Wuhan di China, pusat penyebaran virus corona, surat kabar Wall Street melaporkan pada Sabtu (25/1/2020).

Namun,Mewabahnya virus corona di China tidak membuat Pemerintah Indonesia membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke negeri panda tersebut.

Saat ini, Dari data yang terhimpun, sebanyak 93 warga negara Indonesia berada di Wuhan dan mayoritas adalah mahasiswa. KBRI Beijing mencatat 428 WNI yang tinggal di Provinsi Hubei dan 200 di antaranya di Wuhan. Namun sebagian besar sudah pulang ke tanah air untuk mengisi liburan musim dingin yang bertepatan dengan masa libur Tahun Baru Imlek dan libur semester.

Kementerian Kesehatan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan perjalanan dari dan ke Daratan Chuan melalui jalur udara, laut dan darat.

"Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti," Kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam.

Ketika banyak negara melakukan tindakan pencegahan terhadap wabah virus Corona dengan mengupayakan evakuasi warganya untuk kembali ke negara asal mereka, pemerintah Indonesia justru tidak segera tidak segera mengambil tindakan pencegahan total dg kebijakan travel warning atau larangan masuknya turis Cina.

Virus corona yang mewabah dari Wuhan, Hubei, China, hingga ke beberapa negara telah menjadi sorotan netizen. Mereka menggaungkan penolakan turis China yang akan bertandang ke RI. Netizen kemudian meminta Pemerintah Indonesia untuk mengisolasi Indonesia dari turis-turis asal China untuk mencegah wabah virus Corona.

Pernyataan pejabat negara yang tidak akan membatasi masuk dan keluarnya wisatawan Cina karena bisa merugikan bisnis menujukkan bagaimana prioritas negara yakni pemerintah lebih memikirkan untung rugi bisnis dibanding perlindungan total terhadap rakyat.

Negara yang berlandaskan dengan Sistem Sekuler Kapitalis meniscayakan hal tersebut. Sistem ini akan melahirkan para pemimpin yang abai terhadap tanggung jawabnya sebagai kepala negara yang mengayomi dan mengurusi rakyatnya, melahirkan pemimpin yang senang melayani para kapitalis ketimbang memenuhi hak rakyatnya.

Pemimpin harusnya berdiri bersama rakyat melindungi mereka dari berbagai bahaya yang ada termasuk dari wabah virus yang mengancam keselamatan mereka. Melakukan upaya maksimal dalam mencegah virus tersebut menyebar. Namun, pemimpin yang lahir dari sistem ini memiliki orientasi berupa nilai profit ketimbang mengurusi kehidupan rakyat. Memilih mencari pemasukan kas negara yang recehan, sementara pos pemasukan yang besar berupa sumber daya alam dengan suka rela diserahkan kepada para kapital.

Wabah atau penyakit menular, sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, wabah yang cukup dikenal adalah PES dan lepra. Nabi pun melarang umatnya untuk memasuki daerah yang terkena wabah, apakah itu pes, lepra, maupun penyakit menular lainya. Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalia meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hal itu merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad SAW untukencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Nani Muhammad mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah.

Di masa kekhalifahan Umar bin Khathab, pada masa Khalifah Umar Bin Khathab kolera menyerang Negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalananenuju Stam, terpaksa menghentikan perjalanannya.

Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan.

 

Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy. Yang kemudian menyarankan agar Kholifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit.

Keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan pun semakin yakin saat mendapatkan informasi dari Abdurrahman bin Auf. Bahwa suatu ketika Rasulullah melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang terkena wabah penyakit. Begitupun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya.  Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit tersebut tidak menular ke daerah lain.[]


Oleh Dina Evalina


Posting Komentar

0 Komentar