Ulat Berbulu vs Upaya Halu Dalam Mengentaskan Kemiskinan


Entah ini pemandangan yang ke berapa kali. Seekor ulat berbulu melintas di tengah jalan beraspal yang tidak bisa dibilang sepi. Subhanallah, dari tepi ke tepi tubuh mungilnya selalu saja selamat tanpa tergilas oleh roda-roda yang melintas. 

Akal dan hati seorang muslim tentu akan membenarkan, siapa lagi kalau bukan Allah Ar-Rozaaq yang mengilhami ulat ini, hingga dia bergerak sesuai perintah Rabb-nya. Seakan dibisikkan kepadanya, "Wahai ulat berbulu, berjalanlah ke seberang sana. Telah Kutetapkan rizqimu hari ini di sana."

Ya. Siapa lagi ? Karena Allah SWT lah berfirman:

وَمَا مِنْ دَاۤ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud 11: Ayat 6)

Untuk ulat yang tak berakal rizqinya telah dijamin oleh Rabb yang menciptakannya. Demikian pula. Akan tetapi kita telah dibekali Allah Ta'alaa dengan kemampuan berpikir (akal) dengan melibatkan seluruh komponennya. Sehingga kita tidak bisa berdiam diri, tanpa usaha hingga rizki kita datang.

Suatu hari, Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu melihat sekelompok orang duduk-duduk di masjid selepas shalat Jumat, sementara orang-orang sudah pada pulang, dia bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?”

Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal!” Kata Umar lagi, “Justru kalian adalah orang-orang yang sok bertawakal! Jangan sampai salah seorang dari kalian cuma duduk-duduk saja tidak mau mencari rezeki, lalu berdoa, :

‘Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku,’ padahal dia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak! Sesungguhnya Allah Ta’ala mengaruniakan rezeki kepada mereka yang berusaha dan bekerja. Apa kalian tidak membaca firman Allah, ‘Apabila shalat (Jumat) telah selesai dilaksanakan, maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah kemurahan (rezeki) dari Allah’.” (Al-Jumu’ah: 10)

Menyebarlah kalian di muka bumi, merupakan satu hal / faktor yang wajib kita lakukan. Adapun sebab datangnya rizqi adalah Allah Yang Maha Kaya.

Sehingga memang sangat tidak layak kita berdiam diri, sekalipun rizqi itu sesuatu yang pasti. Tidak ada gunanya pula kita galau ataupun meratapi ketika rizqi tak kunjung menghampiri.

Pun tidak pantas kita berbangga diri manakala demikian mudah dalam mencari, atau demikian melimpahnya kekayaan yang kita miliki. 

Lalu bagaimana kita mensikapi dalam hal ini ?

Kita hanya diminta bertaqwa kepada Allah. Dengan menjalankan apa-apa yang yang Allah perintahkan, baik perintah itu  jazm/ghoyru jazm. Juga meninggalkan apa-apa yang Allah larang, baik larangan iti bersifat jazm/ghoyru jazm. Selanjutnya memilih yang paling ahsan, di antara yang Allah perbolehkan untuk kita lakukan/tinggalkan.

Di antara yang Allah jamin adalah cukupnya seluruh kekayaan yang ada di bumi untuk seluruh makhluk-Nya. Dengan catatan cara perolehannya sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan.

Hadits tersebut menyatakan bahwa kaum Muslim (manusia) berserikat dalam air, padang rumput, dan api.  Dan bahwa ketiganya tidak boleh dimiliki oleh individu, ataupun sekumpulan individu.

Para ulama terdahulu sepakat bahwa air sungai, danau, laut, saluran irigasi, padang rumput adalah milik bersama, dan tidak boleh dimiliki/dikuasai oleh seseorang atau hanya sekelompok orang. 

Maka meski hadits itu menyebutkan tiga macam (air, padang rumput dan api), namun disertai ‘illat yaitu sifatnya sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh suatu komunitas. 

Sehingga sesuatu apa saja (air, padang rumput, api, sarana irigasi, dan selainnya) yang memenuhi sifat sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh komunitas atau masyarakat yang jika tidak ada masyarakat akan berselisih dalam mencarinya, maka manusia berserikat di dalamnya.  

Artinya sesuatu itu merupakan milik umum di mana manusia berserikat dalam memilikinya. Sesuatu itu tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh individu, beberapa individu ataupun negara sekalipun. Individu, sekelompok individu atau negara tidak boleh menghalangi individu atau masyarakat umum memanfaatkannya, sebab harta semacam ketiganya itu adalah milik mereka secara berserikat. 

Namun, agar semua bisa mengakses dan mendapatkan manfaat dari ketiganya, negara mewakili masyarakat mengatur pemanfaatannya, sehingga semua masyarakat bisa mengakses dan mendapatkan manfaat secara adil dari harta-harta milik umum itu. 

Bukan menyerahkan pengelolaannya kepada swasta, baik swasta pribumi/asing/pun aseng. Akan tetapi, inilah fakta  kinerja di dalam sistem pemerintahan halu yang terjadi di negeri +62 ini. Inilah perampokan kekayaan secara sistematik.  yang telah memiskinkan warga negaranya secara sistemik.

Isu kemiskinan terus menjadi hal menarik yang ramai dibicarakan hingga saat ini. Mulai dari kebijakan yang diambil pemerintah terkait kemiskinan, hingga data kemiskinan yang ada. Pada 15 Januari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan nasional September 2019 yang telah mencapai angka 9,22%. (detikNews, 29/02/2020) 

Namun, di sisi lain Bank Dunia mencatat ada 115 juta penduduk yang masuk dalam kategori 'Aspiring Middle Class'. Kategori ini bisa diasumsikan sebagai kelas menengah 'tanggung' atau di ujung jurang. (katadata.co.id, 02/02/2020)

Sedangkan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eni Sri Hartati memaparkan bahwa bansos dan bentuk bantuan lainnya hanya membantu secara angka statistik. Sehingga kunci memberantas kemiskinan adalah lapangan kerja. 

Sementara itu, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengkritisi bahwa turunnya jumlah penduduk miskin utamanya hanya pergeseran dari miskin menjadi rentan miskin. Mereka masih sangat rentan yang artinya bila terjadi shock ekonomi akan kembali miskin. (cnnindonesia.com, 31/01/2020)

Dari fakta di atas menunjulkan bahwa pengentasan kemiskinan total adalah hal mustahil dalam system demokrasi. Terbukti upaya penurunan angka kemiskinan lebih banyak mengotak-atik angka melalui pembuatan standarisasi/ukuran, bukan menghilangkan kondisi miskin secara nyata, yakni memastikan semua pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.

Kemiskinan massal adalah kondisi laten akibat kapitalisme, diakui oleh para ahli. Yang bisa dilakukan hanya menurunkan angka kemiskinan, bukan menghapus kemiskinan secara nyata tidak hanya sekadar data angka dan jauh dari realita.

Bandingkan dengan sistem islam yang memiliki Negara yang menghapus kemiskinan secara sempurna secara sistemik. Seperti yang di atas sudah kami utarakan. Yaitu dengan mengelola setiap sumber kekayaan milik umum oleh negara yang ada sebagaimana mestinya. 

Hal itu sekaligus sebagai peringatan bagi kita, agar kita mengikuti tuntunan-Nya. Sekali kita mengabaikan peringatan Allah, maka sudah pasti kita akan mengalami kesempitan hidup.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 124)

WaLlâh a’lam bi ash-shawâb.[]

Oleh : Yanti Ummu Yahya

Posting Komentar

0 Komentar