Tren Hijrah Muslimah, Dihujat Tanpa Hujjah


Tren hijrah semakin popular. Komunitas hijrah makin subur di tengah-tengah masyarakat.  Salah satunya adalah Komunitas Hijrah Indonesia yang dipelopori oleh Yasmine Mohammad. Namun anehnya, komunitas ini berbeda dengan komunitas hijrah lainnya. Bukan mengajak masyarakat untuk malakukan kebaikan, komunitas ini menggemparkan dunia sosmed dengan kampanyenya “No Hijab Day” yang digelar di sosial media setiap tanggal 1 Februari.

Dalam kampanye ini mereka mengajak perempuan Indonesia baik muslim dan non muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menanyangkan foto diri tanpa hijab di akun sosmed masing-masing. Aneh bin ajaib. Dengan dalih bahwa hijab adalah bentuk pengekangan, penekanan, dan diskriminasi Islam pada perempuan, komunitas hijrah ini malah mengajak masyarakat bangga bermasiat.
Dalih ini seiring sejalan dengan stigma negatif yang dialamatkan oleh Barat terhadap ajaran Islam. 

Dan anehnya, sebagian kaum muslimin yang telah kehilangan jati dirinya malah terpengaruh dengan pandangan-pandangan itu. Alih-alih membantah, mereka malah menjadi bagian dari penyebar pemikiran mereka. Dibawah kampanye emansipasi wanita dan kesetaraan gender, mereka ingin agar kaum muslimah melepaskan nilai-nilai harga diri mereka yang selama ini dijaga oleh Islam.

Padahal bagi seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [QS. Al-Ahzab: 59].
Selain itu juga dijelaskan dalam surat An Nur ayat 31 : Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” 

Ayat-ayat di atas menunjukkan wajibnya seorang muslimah menutup aurat secara sempurna sesuai dengan syariat Islam. 

Hijab menjadi identitas seorang Muslimah yang beriman. Dan kewajiban hijab tidak menunggu akhlak seseorang menjadi baik, justru dengan hijab menjadikan Muslimah termotivasi untuk mengubah akhlaknya sesuai syariat Islam. Adanya hijab melindungi perempuan dari kejahatan, sekaligus mengontrol diri dari perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan dan bertentangan dengan syariat Islam.

 Sungguh Islam memuliakan dan menjaga kehormatan perempuan dengan hijab tanpa membatasi perannya. Bagaikan mutiara yang terlindungi cangkang tanpa mengurangi sedikitpun keindahannya. Maka jelas kampanye “NO Hijab day” yang diklaim sebagai bentuk kebebasan perempuan, adalah kebohongan besar yang menyesatkan.

Selain kesalahan memahami syariah Islam terkait hukum berhijab bagi muslimah. Pasalnya komunitas ini juga salah paham, bahkan gagal paham tentang  makna hijrah itu sendiri. 

Berdasarkan pengertian hijrah, hijrah dibagimenjadi dua jenis. Pertama: Hijrah makaniyah hissiyah zhâhirah, yaitu hijrah yang berkaitan tempat, keluar dan berpindah dari wilayah kufur ke wilayah Islam; dari tempat yang banyak fitnahnya ke tempat sedikit atau tidak ada fitnah. (Lihat QS an-Nisa’ ayat 97). Kedua: Hijrah hâliyah ma’nawiyah bâthiniyah, yaitu hijrah yang berkaitan dengan kondisi, berubah dari kondisi tidak baik ke kondisi lebih baik, dari maksiat berubah menjadi taat kepada Allah. Ini adalah cakupan dari hijrah menurut bahasa. Dalilnya firman Allah SWT:
وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ  ٥
…dan perbuatan dosa (menyembah berhala), tinggalkanlah (QS al-Mudatstsir [74]: 5).

Tampak jelas sudah, bahwa hijrah adalah kata-kata khas yang berasal dari Islam dan memiliki makna yang khas pula. Sehingga tidak bisa bahkan tidak boleh, masyarakat, apalagi seorang muslim menakwilkan secara mandiri berdasarkan akalnya yang terbatas. Karena hal tersebut akan mengaburkan ajaran Islam.

Sungguh kaum muslimin tidak bisa diam melihat semua kemungkaran ini. Ada kewajiban atas dasar keimanannya untuk melakukan amar makruf nahi mungkar. Oleh karena itu, mari kaum muslimin, bersama menolak kampanye “No Hijab Day” yang disuarakan oleh orang-orang liberal, yang membahayakan aqidah Islam dan mengaburkan syariah Islam.[]

Oleh:
Miftah Karimah syahidah 
(Koordinator Back to Muslim Identity)

Posting Komentar

0 Komentar