Tafsir Moderat = Tafsir Selera Barat


Arus moderasi Islam begitu deras dialirkan. Salah satunya melalui wacana Tafsir moderat. Muktamar Tafsir Nasional 2020 yang diselenggarakan Universitas Nurul Jadid Probolinggo menghasilkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, mempromosikan moderasi Islam atau Islam moderat. 

Salah satu pembicaranya, Prof. Abdul Mustaqim, menawarkan sebuah metodologi untuk memahami dan menafsirkan Al Qur'an dan al Hadits secara moderat, yang dinamakan Tafsir Maqashidi. Menurutnya Tafsir Maqashidi tetap menghargai teks, tapi juga akan menangkap makna di balik teks. “Kemudian melakukan kontekstualisasi, sehingga kita bisa meraih dimensi moderasi di dalam menerapkan nilai-nilai al Qur'an dan Hadits dalam konteks keindonesiaan yang sangat multi agama, multi etnis, dan sebagainya,” kata Katua Prodi Ilmu al-Qur'an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

"Tafsir maqashidi itu adalah sebuah pendekatan tafsir yang mencoba menengahi dua ketegangan epistimologi tafsir antara yang tekstualis dengan yang liberalis,” ucap Pengasuh Pesantren Lingkar Studi Quran (LSQ) Arrahmah Yogyakarta ini. (republika.co.id, 12/1/2020)

Belakangan memaknai al-Qur'an dengan tafsir kontekstual juga disuarakan oleh Sinta Nuriyah, istri Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia yang selama ini berusaha mengartikan ayat-ayat al-Quran secara kontekstual (bukan tekstual) menyatakan bahwa setiap muslimah tidak wajib mengenakan jilbab. (tempo.co, 16/1/2020)

/Islam Moderat, Proyek Barat Menghadang Islam Kaffah/

Sejatinya, para pemikir Islam maupun para ulama fiqih selama berabad-abad tidak pernah memunculkan istilah Islam moderat. Demikian pula para ulama siyasiyah Islam. Sebab, Islam tetap modern diterapkan kapan pun. Islam tetap keren diterapkan dimana pun, termasuk di Indonesia.

Istilah 'Islam moderat' ini tak lain dimunculkan oleh para pemikir dan politisi Barat. Seorang pemikir Amerika Serikat, Noam Chomsky membuka kedok AS. Dia mengungkapkan bahwa AS memberikan predikat 'moderat' pada pihak-pihak yang mendukung kebijakan AS dan sekutunya. Sementara predikat 'ekstrimis, radikal, dan teroris' disandangkan pada pihak-pihak yang menantang, mengancam, dan mengusik kebijakan AS dan sekutunya. (Noam Chomsky dalam Parates and Emperors, Old and New International Terorism in The Real World, 2002)

Bahkan tahun 2007, Rand Corporation, sebuah badan kajian strategis yang disponsori Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), terang-terangan menerbitkan lagi dokumen Building Moderate Muslim Networks, yang juga didanai oleh Smith Foundation. Dokumen terakhir ini memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia.

Menurut Angel Rabasa (peneliti politik senior di RAND Corporation, penulis tentang ekstrimisme dan terorisme), sikap muslim moderat yang diinginkan Barat adalah menerima demokrasi dan menerima sumber hukum apapun, tidak fanatik pada hukum agama (syariat Islam). Jika syariat Islam dianggap tidak cocok dan melanggar HAM, maka mereka akan menghujatnya dan mempromosikan hukum positif ciptaan manusia sebagai pengganti syariat. Selanjutnya, muslim moderat harus menerima pluralisme, feminisme (kesetaraan gender), tidak membeda-bedakan manusia (humanis), dan memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Situs www.muslimagainshariah.com menambahkan sikap moderat yang diharapkan barat adalah tidak anti Yahudi, menentang khilafah, kritis terhadap Islam, menganggap Muhammad shallallahu alaihi wasallam bukan uswah hasanah, menolak jihad, pro atau netral terhadap Israel, tidak marah ketika Nabi dihina, juga menentang jilbab (syariat) dan terorisme.

Ini senada dengan pidato Tony Blair pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, saat dia masih menjadi PM Inggris. Blair mempromosikan wajah Islam yang dia sebut ‘moderat’. Dikatakan oleh Blair, bahwa yang memiliki prasyarat menjadi moderat adalah mereka yang menyetujui Israel, menolak syariah, menolak kesatuan kaum muslim dalam Kekhilafahan dan mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat. 

Padahal ciri-ciri yang disebut oleh Blair ini tidak satu pun bersumber dari ajaran Islam, tetapi justru bertolakbelakang dengan Islam. Islam jelas menentang penjajahan yang dilakukan oleh Israel atas Palestina, Islam menyeru penerapan syariat secara total (kaffah), dan juga menyerukan persatuan umat serta menolak ide yang bertentangan dengan syariat seperti liberalisme, pluralisme, feminisme, dll. Jadi, istilah Islam moderat serta berbagai ciri-cirinya murni bersumber dari sentimen ideologi Barat sendiri, yakni Kapitalisme sekular yang notabene bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Jauh-jauh hari Paul Reynolad (BBC 29/03/04), dalam artikelnya yang berjudul, Preventing a ‘Clash of Civilisations’, pernah menulis bahwa AS menggunakan Islam tradisional untuk membendung Islam ekstrem. Dan strategi yang digunakan Barat untuk menolak ‘Islam Ekstrem’ adalah dengan mendukung ‘Islam Moderat’.

Lalu apa kepentingan mereka mengkotak-kotak umat Islam seperti ini? Jelas, yaitu devide et impera (politik belah bambu), satu diinjak, yang lain dirangkul. Tujuan akhirnya, agar orang Islam bisa dijinakkan dan dikuasai oleh penjajah.

Inilah strategi yang juga diakui sendiri oleh George Tenet, mantan Direktur CIA. Bahkan, merupakan rekomendasi terakhir Donald Rumsfeld sebelum lengser. Dia tampak menegaskan, bahwa umat Islam tidak bisa dikalahkan oleh orang luar, kecuali oleh orang Islam sendiri. Maka diciptakanlah tokoh-tokoh muslim yang pro terhadap Barat.

/Tafsir Moderat, Bahaya Bagi Umat/

Demikianlah hakikat Islam moderat. Maka, gagasan tafsir pro-Islam moderat tentu berbahaya bagi umat Islam. Sebab, Tafsir moderat sejatinya adalah tafsir ala Barat. Dia akan merusak kaidah tafsir Al Qur'an, menyesatkan pemahaman umat dari mafhum yang benar dan menjauhkan dari pelaksanaan Islam secara kaffah (menyeluruh). Mereka akan senantiasa mengobok-obok dalil al Qur'an dan Sunah demi memuaskan nalar liarnya. Apa yang diharamkan menurut Allah, mereka perselisihkan. Apa yang dihalalkan menurut Allah, mereka perdebatkan.

Tentang larangan LGBT mereka bela habis-habisan. Terkait kewajiban memakai jilbab dan kerudung mereka perselisihkan. Tak ketinggalan kewajiban mewujudkan khilafah Islam pun mereka jadikan perdebatan. Akibatnya, umat ragu bahkan takut memperjuangkan syariat Islam kaffah dalam naungan Khilafah. 

Ide Islam moderat membentuk pribadi muslim yang akomodatif terhadap nilai-nilai kufur. Bila muslim memiliki karakter Islam moderat, maka tidak ada bedanya dengan kaum liberal dan sekuler.

Ide ini memang tidak menyerang fisik, tapi menyerang pemikiran. Sehingga, lambat laun umat Islam tidak menyadari bahwa Islam moderat telah mempengaruhi jalan berpikir mereka.

Inilah yang dilakukan kafir penjajah. Mereka memiliki kepentingan politik dan takut akan kebangkitan Islam, maka mereka tak hentinya mengaruskan Islam moderat supaya persatuan umat tak terwujud. Sebab persatuan umat Islam ini adalah lonceng kematian bagi peradaban Barat. 

Allahu a'lam bish shawab.[]

Oleh Kholila Ulin Ni'ma, M. Pd. I
Analis Mutiara Umat

Posting Komentar

0 Komentar