Sistem Sekuler Kapitalis Suburkan Masyarakat Stres


Kita kembali dihebohkan dengan munculnya berbagai kelompok aneh seperti Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah dan Sunda Empire di Bandung Jawa Barat. Kelompok semacam ini sudah yang ke sekian kali muncul, sebelumnya sudah ada beberapa kelompok aneh lainnya seperti Kerajaan Ubur-ubur, Lia Eden, Gafatar dan masih banyak lagi. 

Keraton Agung Sejagat dibuat Toto dan Fanni di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo. Mereka mengklaim sebagai penerus kemaharajaan Nusantara, Majapahit, yang muncul setelah perjanjian 500 tahun dengan Portugis berakhir. 

Sunda Empire (bahasa Indonesia: Kekaisaran Sunda, atau dengan nama lengkapnya Sunda Empire - Earth Empire adalah sebuah perkumpulan yang mendasarkan diri pada romantisisme sejarah pada masa lalu, di mana mereka mencita-citakan kerajaan Sunda akan kembali menjadi besar sebagaimana pada masa Tarumanegara. (wikipedia.org)
Fenomena ini bukan sesuatu yang baru, berangkat dari peristiwa Ratu Adil. Bahkan di dunia ada gerakan Milenarianisme, yang muncul setiap waktu tertentu.

Milenarianisme adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan, sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala sesuatu akan berubah ke arah yang positif (atau kadang-kadang negatif atau tidak jelas). Gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebuntuan zaman. 

Kemunculan berbagai kelompok atau gerakan ini akibat frustasi sosial dan ekonomi. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar menyebut kerajaan-kerajaan baru, seperti Keraton Agung Sejagat (KAS) dan Sunda Empire dikelola oleh orang yang tidak waras.  

Hal senada juga disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Beliau mengatakan, kepolisian tengah menelusuri keberadaan kelompok Sunda Empire-Earth Empire (SE-EE) yang hangat diperbincangkan di media sosial. Kata Ridwan, kemunculan Sunda Empire juga menunjukkan banyak orang stres saat ini. (cnnindonesia.com, 17/01/2020). 

Walaupun masyarakat sudah mengetahui latar belakang keberadaan kelompok ini, tetapi masih banyak yang tertarik bergabung karena mengalami kebuntuan mencari jalan keluar persoalan, gampang tergiur dengan tawaran irasional. Buktinya Keraton Agung Sejagat ini sudah merekrut 450 warga. Sedangkan Sunda Empire-Earth Empire menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Suhartiyono mengatakan, bahwa kelompok 'Sunda Empire" memiliki anggota dengan jumlah sekitar 1.000 orang. 

Bahkan ada pendapat beberapa pihak terkait latar belakang munculnya kelompok ini. Antara lain Edward Syah Pernong, salah satu anggota Dewan Kerajaan MAKN (Majelis Adat Kerajaan Nusantara) mengatakan "Mungkin jalan pikirannya [pencetus Keraton Agung Sejagat] bisa dianggap orang 'sakit' yang ingin menyembuhkan orang 'sehat'. 

Mereka ini dibawa oleh fatamorgana,"
Sementara itu, Sosiolog dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yusar menilai kemunculan Keraton Agung Sejagat dan fenomena sejenis tak lepas dari mitologi ramalan Jayabaya pada masyarakat Jawa yaitu akan datangnya ratu adil atau sang penyelamat. 

Menurut dia, Keraton Agung Sejagat memanfaatkan situasi di mana terdapat krisis sosial dan spiritualitas, semacam perbedaan antara yang seharusnya terjadi (kemakmuran dan ketenteraman) dengan realitas yang terjadi. 

Melihat fenomena ini, sayangnya pemerintah tidak mengambil tindakan tegas dan antisipatif meskipun terjadi berulang serta meresahkan masyarakat, bahkan mengalami kerugian harta. 
Ini terjadi di tengah carut marutnya kondisi perekonomian di Indonesia. Kemiskinan yang terus bertambah, pengangguran semakin meningkat, serta pemalakan terhadap rakyat yang terus berlangsung melalui kebijakan yang dibuat. 

Di sisi lain Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia hingga Mei 2019 mencapai US$ 368,1 miliar atau sekitar Rp 5.153 triliun (Kurs Jisdor akhir Mei Rp 14.313 ribu per dolar AS).(cnnindonesia.com, 17/07/2019).

Utang ini yang terus membebani rakyat, dengan menjadikan pendapatan utama negara melalui pungutan pajak. Lagi-lagi rakyat yang menanggung semua beban itu. 
Semuanya cukup sebagai bukti gagalnya sistem sekuler kapitalis dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sehingga sangat berpeluang menumbuhkan dengan subur masyarakat stres. 

Penguasa dalam sistem ini juga gagal dalam menjalankan fungsi kepemimpinan karena tidak memiliki landasan dan konsep yang benar. Selain itu mereka juga sangat anti Islam. Buktinya banyak ulama yang dikriminalisasi, ajaran Islam seperti jihad dan khilafah berupaya untuk dihapus dan pejuang Islam dipersekusi. 
Seorang Kiai yang menjadi orang nomor dua di Indonesia menyebutkan bahwa Keraton Agung Sejagat itu seperti khilafah karena melampaui batas-batas negara. “Itu seperti khilafah. Al-khilafatul udzma, ucap beliau. (nasional.tempo.co, 17/1/2020)

Lain lagi dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siroj menuding pihak Hizbut Tahrir Indonesia ada di balik fenomena munculnya kerajaan Sunda Empire di Jawa Barat baru-baru ini. (mediaindonesia.com, 28/1/2020). Tetapi tudingan itu langsung dibantah oleh petinggi Sunda Empire, Rangga. Dia mengatakan bahwa tudingan itu fitnah, dia mengaku dari NU. 

Kembali mereka berulah untuk menutupi kegagalan dalam mengurus rakyat dengan menimpakan kesalahan kepada khilafah dan para pejuangnya. Namun upaya yang mereka lakukan tidak akan membuat ajaran Islam dan pejuangnya hina, malah semakin membukakan pemikiran umat bahwa semua itu benar dan harus diperjuangkan saat ini. Ketika terbukti bahwa sistem sekuler kapitalis telah gagal dalam mewujudkan kesejahteraan, yang salah satunya memicu kepada tingginya stres masyarakat maka tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada sistem yang bersumber dari Yang Maha Benar yaitu Khilafah 'ala Minhajin Nubuwah. Sistem ini pernah berjaya sekitar 1.300 tahun, telah terbukti mewujudkan kesejahteraan. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Haryati

Posting Komentar

0 Komentar