TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Salam Pancasila, Mereduksi Syiar Islam di Ruang Publik


Sebuah tangkapan layar dari situs Demokrasi.co. id, berjudul “ Ketua BPIP ususlkan Ganti assalamu’alaikum  dengan pancasila?” dibagikan di media sosisal Instagram dan ramai menjadi perbincangan warganet. Ketua BPIP (Badan pengembangan  Idiologi Pancasila) Yudian Wahyudi diklaim mengusulkan untuk mengganti ucapan “ Assalamu’alaikum” dengan “ salam pancasila”. (AntaraNews, 26/02/2020).

Menurut Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Aris Heru Utomo , BPIP tidak mengusulkan penngantian Assalamu’alaikum dengan salam pancasila. Yang disampaikan adalah mengenai kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda dalam bentuk salam dalam pelayanan public, dalam kaitan ini kesepakatannya adalah salam pancasila. (Liputan 6, 23/02/2020).

Assalamu’alaikum Adalah Bagian Dari Syiar Islam Dan Menyebarkannya Adalah Menghidupkan Sunnah

Mengucapkan salam “Assalamu’laikum” adalah  menjadi bagian dari sy’iar Islam. Allah memerintahkan agar seorang mukmin mengagungkan syi’ar Allah. Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat  ayat 32, yang artinya, “ Demikianlah ( perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka seseungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”.  Dalam kamus al-Munawwir syi’ar berarti, alamat, tanda, tanda-tanda atau semboyan. Dijelaskan Syaikh Ali Assobuni dalam shofwatut Tafasir  bahwa syi’ar yang dimaksud secara tekstual adalah berhubungan dengan hukum yang telah dijelaskan di ayat sebelumnya misalnya tentang haji, hukum perbuatan syirik, dll. Sedangkan secara kontekstual syi’ar yang dimaksud adalah segala hal yang berhubungan dengan perkara dalam agama. Maka mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah adalah bagian dari perbuatan- perbuatan orang-orang yang bertakwa, yang timbul dari hati-hati yang disinari ketakwaan. Demikianlah keutamaan mengagungkan syi’ar agama Allah.    

Di ruang public yaitu di negara  dengan penduduk mayoritas Islam, symbol Islam, budaya Islam bisa tersebar bebas  tanpa adanya pelarangan. Di banyak tempat symbol dan budaya Islam akan mudah ditemui, termasuk sapaan salam “Assalamualaikum”. Di banyak  ruang public  termasuk di ruang pelayanan public juga di upacara-upacara kenegaraan, seorang muslim baik pejabat maupun non pejabat sudah terbiasa menggunakannya, bahkan sudah mendarah daging. Maka penggantian salam menjadi salam pancasila perlu diwaspadai akan menjadi langkah awal menghapus sedikit demi sedikit syi’ar Islam.

Dalam Islam, ucapan Asssalamu’alaikum juga bernilai sunnah, yaitu sebuah perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Amal yang bersifat sunnah merupakan amal yang dianjurkan untuk dilakukan. Disebutkan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud tentang perintah menyebarkan salam, yang artinya, “Salam itu termasuk salah satu dari nama-nama Allah ta’ala yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam. Sungguh seorang laki-laki jika melewati suatu kaum lalu mengucapkan salam kepada mereka kemudian mereka menjawab salamnya, maka baginya atas mereka keutamaan derajat sebab mengingatkannya kepada mereka dengan salam, jika mereka tidak menjawab salamnya, maka orang yang menjawab salam adalah orang yang lebih baik dan lebih bagus. (HR. Al-Baihaqi).

Selain mendapatkan pahala melaksanakan sunnah, ada keutamaan lagi bagi orang yang menghidupkan sunnah, yaitu akan dilipatgandakan pahala baginya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang artinya.”Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka ia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak  mengurangi pahala sedikitpun”. (HR. Ibnu Majah). Menurut ahli hadis Assunnah berarti segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw, baik perbuatan, perkataan maupun ketetapannya.  Adapun Assunnah menurut ahli fiqih adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhamamd Saw dan hukumnya tidak fardhu ataupun wajib, yakni hukumnya sunnah. Maka pengertian menghidupkan sunnah bisa berarti menghidupkan segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah Saw baik hukumnya wajib maupun hukumnya sunnah.

Bahaya Hilangnya syi’ar Islam

Hilangnya Syi’ar Islam di ruang public,  sedikit demi sedikit nantinya akan menghilangkan dakwah Islam selanjutnya sedikit pula Islam dikenal oleh masyarakat. Kebanggan-kebanggan kepada Islam juga akan terkikis. Selanjutnya akan menghilangkan Islam itu sendiri.  Dan ketika Islam hilang maka hanya akan ada dua kemungkinan yaitu makin menancapnya kapitalisme atau tumbuhnya kembali komunisme-sosialisme.

Kapitalisme tegak atas dasar sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Menurutnya manusia berhak membuat peraturan hidupnya. Mereka mendengungkan kebebasan manusia, yaitu kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan hak milik, dan kebebasan pribadi. Kapitalisme menginginkan kehidupan yang bebas dari agama, termasuk bebas dari agama Islam. Dampaknya sebagaimana saat ini adalah berkembangnya gaya hidup bebas yang menabrak hukum-hukum Islam, misalnya saja menebarnya perzinahan dan pergaulan bebas yang menjadikan manusia hilang sifat kemuliaannya.

Sosialisme tegak atas dasar penolakan kepada agama, penolakan akan adanya Tuhan, bahkan agama dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan. Agama dianggap sebagai candu yang meracuni masyarakat dan menghambat pekerjaan. Tidak heran bahwa agama juga agamawan adalah musuh baginya. Orang-orang yang beridiologi komunisme-sosialisme cenderung akan memusuhi agama dan orang-orang yang beragama. Sama halnya dengan kapitalisme, komunisme-sosialisme juga akan menjadikan manusia hidup tanpa aturan dan akan terjadi kekacauan dan kesengsaraan hidup manusia.

Khotimah

Syi’ar  dan dakwah Islam sangatlah penting bagi kehidupan Islam. Orang yang menancap iman didadanya tidak akan rela Islam dihilangkan dan diganti dengan yang lainnya. Orang-orang yang beriman dan bertakwa akan senantiasa mendakwahkan Islam dimanapun dia berada. Ia akan bangga memakai symbol Islam dan akan selalu mengagungkan syi’ar-syiar Islam dengan selalu melaksanakannya dan menyebarkannya di manapun tempat. Ia pun akan selalu berusaha sekuat tenaga menghidupkan kehidupan Islam di setiap tempat. Wallahu a’lam bis showab.[]

Oleh : Listiawati S. Th. I, M. Pd.I

Posting Komentar

0 Komentar