Pupuk Langka, Swasembada Pangan Mimpi Belaka

Setelah tahun lalu mangadakan pesta Hari Pangan Sedunia secara besar-besaran. Belum lama berselang, Kalsel mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi. Padahal pupuk merupakan salah satu bagian pokok dalam pertanian. Bagaimana hasil akan maksimal jika pupuk tidak tersedia? 

Ketua Komisi II Bidang Ekonomi DPRD Provinsi Kalsel, Imam Suprastowo mengatakan bahwa permintaan penambahan kuota pupuk bersubsidi belum terealisasi karena menunggu SK dari Kementerian Pertanian. Belum memungkinkan karena Menteri sudah masuk akhir masa jabatan dan sedang melakukan evaluasi. 

Menurut beliau stok pupuk non subsidi masih ada. Dengan kandungan jauh lebih bagus dan hasilnya juga lebih bagus. Tidak apa lebih mahal jika hasil lebih baik. Daripada bersubsidi tapi hasil rendah, ya percuma saja.  (wartaniaga.com, 27/1/020)

Kejadian ini sangat memilukan hati. Pertama, masyarakat Kalsel yang masih mau mengabdi di sektor pertanian sebagai salah satu lumbung pangan sama sekali tidak mendapatkan perhatian.

Alasan sedang masa pergantian jabatan justru memperlihatkan tidak jalannya periayahan umat dengan baik. Bukankah data luasan wilayah tani itu sudah ada sejak lama. Sebab Kalsel bukanlah lahan pertanian baru. Harusnya sudah bisa diperhitungkan kisaran pupuk yang dibutuhkan dan disediakan jauh hari sebelum masa tanam.

Kedua, jika ungkapan bahwa pupuk non subsidi bisa menghasilkan lebih banyak ini benar adanya. Maka apa makna dari subsidi selama ini? Bukankah di mana-mana barang murah itu untuk kualitas yang lebih rendah?

Ini artinya istilah subsidi selama ini bukanlah bantuan yang sebenarnya. Melainkan hanya klaim. Padahal harganya murah karena memang kandungannya beda. 

Ketiga, apalagi jika memang kandungannya sama saja. Tentu saja kasian petani. Yang biasa hanya 100 ribu menjadi 300 ribu. Dari mana petani menambah modal usahanya. Sementara kita bisa lihat sendiri para petani Indonesia apalagi Kalsel kebanyakan mereka bukan orang berada. 

Bahkan kebanyakan mereka lahan pertaniannya pun bukan milik sendiri. Hasil panen mereka terkadang habis sebelum panen berikutnya tiba. Untuk menyambung hidup saja terkadang sudah harus utang sana sini.

Keempat, ketidakmampuan petani membeli pupuk akan berefek pada hasil panen mendatang. Minimal terdapat dua kerugian yang harus dihadapi.

Minimnya penghasilan para petani dan terjadi lonjakan harga beras yang akan dirasakan masyarakat luas. Jelas ini akan memengaruhi perekonomian masyarakat secara umum. 

Kelima, satu hal yang perlu dicamkan baik-baik. Jika kesejahteraan petani masih saja tidak diperhatikan. Jangan harap ada regenerasi pertanian. Pemuda mana yang mau melirik bidang ini jika sama sekali tidak menjanjikan kemapanan ekonomi. 

Jika sudah begini, cita-cita swasembada pangan jauh panggang dari api. Jangankan untuk mensuplai derah lain. Kalsel sendiri saja bisa jadi kekurangan. 

Solusi Kapitalis VS Islam

Dari semua itu yang sangat dikhawatirkan adalah solusi pemberian pinjaman oleh pihak swasta. Dalam pandangan hidup sekuler kapitalis subsidi memang dianggap sebagai beban negara. Harus segera dihentikan. Maka solusi yang ditawarkan selalu saja dengan membuka pintu masuk pada para swasta. 

Yang namanya swasta pastilah mencari laba. Pada akhirnya bukanlah perbaikan kondisi yang terjadi. Melainkan beban rakyat semakin tinggi. 

Hal ini sudah menjadi tabiat sistem sekuler kapitalis. Penguasa terlarang ikut campur dalam ekonomi rakyat kecuali sangat sedikit.

Walhasil semua peran penting dimainkan oleh para kapital (pemilik modal). Jelas swasembada pangan negeri muslim tak akan pernah dibiarkan terwujud begitu saja. 

Bagai langit dan bumi dengan konsep pengaturan urusan umat dalam Islam. Apalagi urusan pertanian. Di satu sisi merupakan lapangan kerja bagi warha negara. Di sisi lain hasil pertanian adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karenanya Islam menaruh perhatian lebih di dalamnya. 

Intensifikasi, ektensifikasi, infrastruktur hingga dukungan langusng pada petani semisal pinjaman tanpa bunga bahkan pemberian lahan secara cuma-cuma dilakukan oleh negara. 

Sampai-sampai para ilmuwan termasuk dari Barat, memyatakan bahwa sistem pertanian pada era Spanyol Muslim merupakan sistem pertanian yang paling kompleks dan paling ilmiah, yang pernah disusun oleh kecerdikan manusia.

Joseph McCabe, cendekiawan berkebangsaan Inggris, mengungkapkan, di bawah kendali Muslim Arab (pada masa kekhilafahan), perkebunan di Andalusia dikerjakan langsung oleh petani, jarang dikerjakan oleh budak. Sementara di Eropa saat itu masih didukung oleh sistem feodal. (Menengok Kegemilangan Pertanian dinMasa Kejayaan Islam, globalmuslim.web.id, 9/2015)

Semua itu tidak mungkin terjadi tanpa peran besar negara sebagai penyedia semua sarana dan prasarana. Hasilnya, swasembada pangan bukan lagi wacana. Sudah terwujud nyata di sepanjang kehidupan di bawah aturan Islam. Sebagaimana yang terjadi di masa kekhilafahan Umar Bin Abdul Aziz, pertanian gandum melimpah ruah.

Sudah disalurkan ke berbagai penjuru masih juga menumpuk. Hingga Sang Khalifah pun bertitah, “Tebarkanlah gandum di puncak-puncak bukit, agar tidak ada orang yang berkata ada burung yang kelaparan di negeri kaum Muslimin…”

Masya Allah. Allahu Akbar!

Oleh: Umi Diwanti
Aktivis Muslimah Kalsel, Penulis, Pengasuh MQ. Khodijah Al-Kubro

Posting Komentar

0 Komentar