Perundungan Di Kalangan Pelajar, Buah Sistem Pendidikan Sekuler


Seorang siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Kota Malang, Jawa Timur diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya di sekolah. Siswa berinisial MS mengalami amputasi pada jari tengah tangannya akibat kasus perundungan.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan.

Kasus perundungan yang semakin mengkhawatirkan di lingkungan sekolah tampaknya menjadi persoalan yang tidak bisa di anggap ringan, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar mengajar yang aman dan nyaman bagi siswa dan guru.

Melansir pemberitaan Kompas.com, bullying adalah situasi di mana penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang.

Praktik bullying dikelompokkan menjadi bullying fisik (berupa tindakan fisik), bullying verbal (olok-olokan, ejekan) maupun bullying mental (mendiamkan, mengucilkan).

Faktor penyebab tindakan bullying  di kalangan anak-anak, diantaranya : Pertama pola asuh dalam keluarga adalah faktor utama permasalahan yang terjadi pada anak karena keluarga merupakan pendidik pertama dan utama. Sikap bullying merupakan pengembangan dari sikap anak yang agresif. Mereka yang mengembangkan perilaku agresif tumbuh dalam pengasuhan yang tidak kondusif, mulai dari kedekatan yang tidak aman dengan pengasuhnya, tuntutan disiplin yang terlalu tinggi dari orang tuanya dan bahkan masalah hubungan kedua orang tuanya: konflik suami-istri, depresi, antisosial dan bahkan melakukan tindakan kekerasan di rumah. Hal tersebut menyebabkan sang anak merasa pelampiasan terhadap tekanannya tersebut. Nah, depresi tersebut bisa jadi dilampiaskan kepada teman yang lemah.

Kedua ekspos kekerasan dari media, media memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, media juga menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Mulai dari televisi, surat kabar dan bahkan media online mengandung topik yang berkembang begitu pesat. Tidak heran, tindak kekerasan juga banyak ditemukan di media, seperti adegan dalam sinetron atau reality show yang menunjukan adegan kekerasan, bullying, game atau melalui sosial media. Pada dasarnya, anak-anak yang masih dalam tahap belajar dan memiliki rasa penasaran tinggi akan menirukan hal-hal yang mereka lihat tersebut tanpa menyaringnya.

Ketiga hilangnya peran sistem pendidikan yang mampu mengatasi berbagai kenakalan siswa baik dalam kelas maupun lingkungan sekolah. Sekolah menjadi salah satu tempat bertumbuhnya perilaku bullying. Sayangnya pihak sekolah kerap mengabaikan tindakan bullying, kurang ketegasan, dan minim sekali pemberian konsekuensi dari pihak sekolah terhadap tindakan ini. Akibatnya, pelaku tidak mendapatkan efek jera dan berani untuk mengulangi tindakan tersebut. Serta penerapan kurikulum pendidikan sekuler semakin menambah berat dampak tindakan perudungan, nilai-nilai agama hanya terdapat pasa mata pelajaran agama dan tidak didapatkan pada mata pejalaran umum seperti sains, berhitung, dll.

Dari beberapa faktor penyebab tersebut semua terjadi akibat semakin liberalnya sistem pendidikan di negeri ini,  kebebasan berperilaku dan berpendapat menjadi alasan menguatkan hak asasi manusia.

Tentunya berbagai perudungan tidak bisa lagi di harapkan mendapatkan solusi tuntas dari sistem kapitalisme dengan ide kebebasan nya yang berdasarkan sekulerisme. Islam sebagai agama yang paripurna yang berasakan akidah islam, memiliki solusi tuntas atas tindakan perudungan yang terjadi di kalangan pelajar.

Pandangan islam bahwa pentingnya peran keluarga dalam menentukan kepribadian anak, sebagaimana di dalam hadis Rasulullah saw. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang, dan orang tua sebagai kuncinya. Pendidikan dalam keluarga terutama berperan dalam pengembangan watak, kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan moral, serta keterampilan sederhana. Pendidikan dalam konteks ini mempunyai arti pembudayaan, yaitu proses sosialisasi dan inkulturasi secara berkelanjutan dengan tujuan untuk mengantar anak agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak luhur, tangguh, mandiri, kreatif, inovatif, beretos kerja, setia kawan dan lain sebagainya.

Karenanya tidak ada tontonan yang melenakan berupa  film atau games yang membuat kecanduan. Juga terlarang muncul di media konten pornografi dan kekerasan baik dengan pelaku manusia ataupun kartun/animasi. Tidak ada tokoh-tokoh khayalan dengan kekuatan super.  Demikianlah peran  hakiki media massa dalam Islam benar-benar mewujudkan fungsinya sebagai sarana informasi, edukasi, persuasi dan hak berekspresi publik dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan muhasabah lil hukkam.

Begitupun pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK); (4) Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Pembentukan kepribadian Islam harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa.

Dengan bersyaksiyah islamiyah maka generasi muda memiliki rasa saling empati, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu :

"Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur". [HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim].[12]

Penyelesaian kasus bullying  tidak hanya secara individual baik dari sisi pelaku maupun korban namun harus secara sistemik dan terintegrasi dalam sebuah aturan negara yang dalam sistem pemerintahannya menjadikan islam sebagai acuan. Baik dari sisi pembentukan keluarga, penataan media hingga persoalan kualitas pendidikan. Maka solusi tuntas adalah penerapan Sistem Negara Islam yang mampu menerapkan islam secara menyeluruh.[]

Oleh Sri Astuti Am.Keb (Aktivis Dakwah Islam)

 

 

 

Post a Comment

0 Comments