Peran Khilafah Mengatasi Wabah Virus Corona


Dunia tiba-tiba digemparkan dengan keberadaan Coronanvirus yang memakan banyak korban. Virus Corona baru yang dilambangkan 2019-nCoV (n = novel) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau dikenal dengan virus Corona Wuhan pada manusia pertama kali terjadi di awal Desember 2019. Wabah penyakit pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, kemudian virus ini menyebar ke Thailland (Bangkok), Jepang (Tokyo), Korea Selatan (Seoul), provinsi lain di Tiongkok Daratan, Hong Kong, Taiwan (Taoyuan), dan kemudian ke dunia internasional. Korban jiwa berjumlah 426 orang yang sebagian besar berada di Wuhan dan sekitarnya, dengan 20. 626 kasus per 4 Februari 2020. Pada 30 januari 2020, wabah akibat 2019-nCoV ditetapkan sebagai darurat kesehatan global oleh WHO. WHO menciptakan istilah sementara “penyakit pernapasan akut 2019-nCoV” untuk menggambarkan penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut.

Virus 2019-nCoV tergolong dalam genus Betacoronavirus (Beta-CoV) dalam keluarga Coronaviridae. Penyakit yang disebabkan Coronaviridae dapat berkisar dari pilek biasa (gejala flu, seperti hidung berair dan meler, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan demam) hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) dan sindrom pernapasan akut berat (SARS). 

Virus corona adalah keluarga virus yang luas, tetapi hanya enam virus (229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, dan SARS-CoV) yang sebelumnya diketahui menginfeksi manusia; 2019-nCoV merupakan jenis ketujuh yang menginfeksi manusia. Urutan genom betacoronavirus Wuhan menunjukkan kesamaan dengan betacoronavirus yang ditemukan pada kelelawar. Namun, virus ini secara genetik berbeda dari coronavirus lain seperti coronavirus terkait SARS dan MERS. Genus betacoronavirus terdiri atas empat garis keturunan (subgenus), 2019-nCoV bersama dengan SARS-CoV digolongkan dalam garis keturunan B (subgenus Sarbecovirus).

Virus corona baru ini (2019-nCoV) berada dalam kategori virus corona yang menyerupai SARS. Selama 17 tahun penelitian tentang asal-usul epidemi SARS 2003, banyak virus korona kelelawar yang menyerupai SARS (SARS-like) diisolasi dan diurutkan, kebanyakan dari mereka berasal dari genus Rhinolophus. Dengan genom yang cukup, rekonstruksi pohon filogenetik untuk mengetahui sejarah mutasi virus korona dapat dilakukan. 

Sementara itu, artikel pracetak di jurnal bioRxiv yang ditulis oleh peneliti dari Institut Virologi Wuhan, Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, Universitas Akademi Sains Tiongkok, dan CDC Provinsi Hubei menyatakan bahwa virus korona ini kemungkinan berasal dari kelelawar, karena analisis mereka menunjukkan bahwa nCoV-2019 memiliki kemiripan 96% dengan koronavirus kelelawar yang diisolasi dari kelelawar Rhinolophus affinis.
 
Memakan kelelawar sudah jadi budaya masyarakat China sejak lama. Media sosial yang viral sejak beberapa waktu lalu memperlihatkan bagaimana orang di China gemar menyantap sup kelelawar pemakan buah. Di dalam video tersebut digambarkan bahwa kelelawar ini disajikan utuh lengkap dengan sayap dan kepalanya. Tak hanya kelelawar, orang China gemar memakan hewan liar lainnya seperti ular dan luwak. Hewan-hewan liar ini bisa didapatkan di pasar. Di Wuhan - daerah yang menjadi episentrum wabah virus corona-, hewan-hewan ini bisa diperoleh di Huanan Wholesale Seafood Market. 

Di pasar ini terdapat lebih dari 100 varietas hewan dan unggas hidup mulai dari rubah, serigala, hingga musang. Pasar ini kini sudah ditutup lantaran virus corona semakin mewabah dan menyebabkan kematian dan orang sakit parah. Mengonsumsi makanan yang langka dan tak biasa sudah dianggap sebagai identitas tersendiri bagi kalangan masyarakat China. Orang yang makan hewan liar dianggap memiliki status sosial yang tinggi. Dikutip dari Mothership, masyarakat China juga percaya hewan liar merupakan makanan yang lebih bergizi dibandingkan hewan ternak. Filosofi di balik hewan liar itu juga jadi alasan masyarakat China suka makan hewan liar. Tak cuma itu, makan ular, yang juga diperdebatkan sebagai penyebar virus corona Wuhan ini juga menjadi tradisi warga China. Sejak 2 ribu tahun lalu, sup ular sudah dianggap sebagai kelezatan tersendiri dalam budaya China. Sup ular dianggap sebagai hidangan berstatus tinggi karena bahannya yang beragam macam dan persiapannya yang rumit. Sup ular ini menjadi simbol kekayaan, keberanian, dan kehormatan. Selain di Wuhan, pasar hewan hidup juga terdapat di beberapa area lain seperti Guangzhou dan Shandong.

Setahun yang lalu, tepatnya bulan Februari 2019, Peng Zhao, peneliti di Institute of Virology mempublikasikan artikel tentang potensi wabah yang diakibatkan oleh virus corona yang berasal dari kelelawar (Fan et al 2019). Alasannya, coronavirus penyebab SARS dan MERS berasal dari kelelawar yang sudah berubah genetiknya akibat rekombinasi. Cina memang dikenal memiliki biodiversitas kelelawar yang tinggi, dan habitat mereka pun dalam radius yang terjangkau manusia. 

“…it is highly likely that future SARS- or MERS-like coronavirus outbreaks will originate from bats, and there is an increased probability that this will occur in China.” – Peng Zhou (Wuhan Institute of Virology, China).

 “.. sangat mungkin terjadi bahwa wabah seperti SARS atau MERS akibat infeksi coronavirus akan bersumber dari kelelawar, dan ada kemungkinan besar akan terjadi di Cina” (Peng Zhou, Peneliti Wuhan Institute of Virology)

Dan di paper yang sama, peneliti mengatakan bahwa mengkonsumsi kelelawar yang merupakan tradisi di Cina menunjukkan ‘dekatnya’ interaksi antara manusia dan kelelawar di sana. Artinya risiko untuk paparan memang tinggi, apalagi membunuhnya untuk konsumsi pun dalam kondisi sesegar mungkin (Fan et al 2019). 

Sikap Seorang Muslim

Apa yang terjadi di Cina saat ini bisa menjadi ilustrasi bagi umat Islam, bagaimana seharusnya kita memahami takdir, sebagaimana pepatah yang berbunyi, “Belajarlah hingga pergi ke (atau, tepatnya saat ini mengamati apa yang terjadi di) Cina”. Dengan pemahaman yang benar, Islam yang Rahmatan lil Alamin bukan sekedar slogan tapi diamalkan sehingga hidup menjadi tentram, dinamis dan produktif. Umat islam meyakini takdir sebagaimana yang dikabarkan oleh hadist yang terkenal:

Ketika Jibril ‘alaihis salaam bertanya, “Kabarkanlah kepadaku, apa itu iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-Nya, (3) kitab-kitabNya, (4) para Rasul-Nya, (5) hari akhir, dan beriman kepada (6) takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk.” (HR. Muslim no. 8).

Bagi umat islam memahami ketentuan ini penting, karena tidak semua adalah ‘force majeur’. Kedhaliman dan kriminalitas bukanlah takdir, karena kita punya kapasitas untuk mencegah dan melawannya. Lalu bagaimana dengan wabah Wuhan akibat virus corona 2019-NCov? Korban yang tewas memang tidak punya pilihan dan tidak akan dimintai pertanggungjawaban terkait situasi yang menghantarkan ke kematiannya. 

Namun, manusia yang sehat masih memiliki pilihan yang pasti akan dipertanggungjawabkan. Apa saja kemungkinan pilihan itu? pilihan untuk apatis, pasrah; pilihan untuk mencari tahu penyebab wabah; pilihan untuk menghentikan wabah dengan seluruh aset yang dimiliki sebagai seorang muslim, pasrah bukan pilihan yang benar untuk hal-hal yang manusia secara kolektif memiliki pengetahuan. 

Semasa jaman kekhilafahan Islam dulu, Khalifah al Muqtadir dari Khilafah Abbasiyah memerintahkan investigasi mengapa ada satu pasien yang meninggal dunia ketika diterapi. Ketika diketahui adanya malpraktik seorang dokter, Khalifah mewajibkan semua dokter di Baghdad untuk melakukan uji kompetensi ulang di bawah pengawasan Sinan Thabit, seorang Ketua Dokter Kekhalifahan. Dari 860 dokter yang dites, 160 ternyata gagal (Miller A 2006). Meski bagi pasien yang meninggal, kematian tidak dia kehendaki secara sadar, bagi yang masih hidup terutama pemangku kebijakan adalah wajib untuk mencari tahu kenapa musibah bisa terjadi, supaya tidak terulang kembali. (Ahmad Rusdan Utomo, 2020)

Di masa Khilafah Islam, Negara mengerahkan segenap daya upaya untuk mengatasi pandemi. Semula, para ahli menduga pandemi cukup diatasi dengan kebersihan dan gaya hidup sehat. Namun ternyata, banyak orang yang sudah melakukan itu tetap saja tertular penyakit. Karena itu kemudian dicari cara untuk mencegah kuman atau virus menulari kita. Di zaman Nabi, suatu wilayah yang terkena wabah penyakit menular hanya bisa diisolasi. Penghuninya tidak boleh keluar, dan orang dari luar tidak boleh masuk. 

Sampai berapa lama? Tidak ada batasan yang jelas. Tentunya sampai wabah itu reda atau hilang. Di masa lalu, wabah tha'un bisa merenggut jutaan jiwa. Sebagian karena penyakitnya langsung. Sebagian lainnya karena kelaparan, akibat berkurangnya pasokan makanan setelah wilayah itu diisolasi. 

Sangat menarik untuk mengetahui, bahwa umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. Vaksinasi adalah proses memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh untuk mengaktifkan sistem kekebalan spesifik yang sebenarnya sudah ada didalam tubuh tapi belum aktif. 

Kekebalan itu tidak muncul sendiri meski saat baru lahir bayi ditahnik dan selama dua tahun mendapatkan ASI. Tanpa vaksinasi, kekebalan itu baru muncul setelah orang terserang penyakit, bila dia selamat. Namun yang sering terjadi, sebelum kekebalan itu muncul, pasien sudah telanjur meninggal atau cacat. Jadi vaksinasi ini cara merangsang kekebalan dengan risiko minimal. 

Tentu saja yang dirangsang hanya kekebalan untuk penyakit tertentu, yang dianggap sedang amat berbahaya karena fatal dan sangat menular, seperti cacar, polio, difteri. Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa ilmu vaksinasi ke Inggris untuk memerangi cacar. Namun Inggris perlu menunggu setengah abad, sampai tahun 1796 Edward Jenner mencoba teknik itu dan berhasil.

Cacar yang pernah membunuh puluhan juta manusia hingga awal abad-20, akhirnya benar-benar berhasil dimusnahkan di seluruh dunia dengan vaksinasi yang massif. Kasus cacar ganas terakhir tercatat 1978.
Sebagian muslim menganggap wabah virus Corona ini adalah teguran atas kesombongan China, atau balasan atas kebijakan mereka memenjarakan jutaan muslim Uyghurs di Turkistan Timur (Xinjiang). Kini belasan kota-kota China dengan puluhan juta penduduknya laksana penjara. 

Penduduknya tidak boleh keluar, karena dikhawatirkan menyebarkan virus. Padahal tetap di dalam kota terancam kematian. Sebagai muslim, kita semestinya waspada dan optimis sekaligus. Waspada, bahwa virus Corona ini bisa juga menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga optimis, bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya. Pencegahan yang dapat dilakukan saat ini ialah mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau dengan hand sanitizer, menggunakan masker saat beraktivitas, menjaga daya tahan tubuh, tidak pergi ke negara terjangkit dan tidak mengonsumsi hewan yang berpotensi menularkan coronavirus.

Kalau Khilafah tegak berjaya, ia akan mengintensifkan upaya menemukan vaksin Corona, lalu menawari China bantuan mengatasi pandemi Corona, baru kemudian memaksa China mengubah politiknya terutama atas muslim Uyghurs, sekaligus agar China membuka pintu untuk dakwah Islam yang seluas-luasnya. (Fahmi Amhar, 2020)

Wallahu a’lam bis-shawab.[]


Oleh Azkia Rizka Hakim

Post a Comment

0 Comments