Pengurangan Subsidi Pupuk, Bukti Sistem Kapitalisme telah Lapuk


"Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

 

***

 

Ketahanan pangan di suatu negara tergantung pada pasokan/ketersediaan bahan makanan pokok dan terpenuhinya kebutuhan tersebut yang merata bagi seluruh warganya. Tujuan mulia dari pemerintah ini bisa menjadi acuan para petani, padi khususnya, sebagai bahan makanan pokok mayoritas masyarakat di Indonesia, untuk lebih gigih meningkatkan kualitas dan kuantitas tanamannya.

 

Namun, agaknya tujuan ini tidak diimbangi dengan kebijakan yang mendukung. Seperti halnya keputusan pengurangan subsidi pupuk. Sebut saja di Madiunpos.com, dikabarkan bahwa pemerintah mengurangi alokasi pupuk bersubsidi secara nasional, termasuk di Kabupaten Madiun. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah mengurangi alokasi pupuk bersubsidi hingga 50%.

 

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Imron Rasidi, mengatakan pengurangan alokasi pupuk bersubsidi ini telah diinformasikan kepada para petani.

 

Secara umum, pengurangan subsidi pupuk akan mempengaruhi harga pupuk di pasaran. Padahal selama ini petani di daerah, sudah sering mengeluh sulitnya mencari pupuk pada saat dibutuhkan. Kalau subsidi dikurangi bahkan ditiadakan, secara otomatis akan berpengaruh terhadap pendapatan petani dan juga mempengaruhi kesejahteraan rakyat. Bahkan rakyat malah makin sengsara.

 

 Dengan adanya pengurangan subsidi pupuk, membuktikan bahwa pemerintah tidak serius untuk mengurusi (meriayah) para petani. Padahal jelas pangan merupakan salah satu yang terpenting dalam penyediaan kebutuhan pokok hingga tercipta ketahanan pangan.

Mengurai Subsidi dalam Negeri

Subsidi adalah suatu bentuk bantuan keuangan. Bantuan biasanya dibayar oleh pemerintah, dengan tujuan untuk menjaga stabilitas harga-harga, atau untuk mempertahankan eksistensi kegiatan bisnis, atau untuk mendorong berbagai kegiatan ekonomi pada umumnya. Istilah subsidi dapat juga digunakan untuk bantuan yang dibayar oleh non-pemerintah, seperti individu atau institusi non-pemerintah. Namun, ini lebih sering disebut derma atau sumbangan (http://en.wikipedia.org).

 Indonesia memiliki keterikatan perjanjian internasional. Hal ini menjadikan pemerintah tidak melaksanakan kewajibannya sebagai lembaga yang mengurus urusan rakyat. Nampaklah dalam sistem kapitalisme, negara hanya menjadi regulator bagi pemilik modal, dan mau tidak mau petani harus membeli pupuk dengan harga tinggi. Dengan pencabutan subsidi pemilik modal yang diuntungkan.

 Pencabutan subsidi sangat penting dalam sistem sekulerisme. Apalagi dalam perkembangannya, sistem ekonomi dalam sistem kapitalisme telah menganut sistem ekonomi neo-liberal. Sehingga subsidi dianggap sebagai bentuk intervensi pemerintah. Karakter sistem ekonomi neoliberalisme pada dasarnya adalah anti-subsidi.

 Sistem ekonomi neoliberalisme, pelayanan publik harus mengikuti mekanisme pasar, yaitu negara harus menggunakan prinsip untung-rugi dalam penyelenggaraan bisnis publik. Pelayanan publik murni seperti dalam bentuk subsidi dianggap pemborosan dan inefisiensi. (http://id.wikipedia.org). Jadi wajarlah, sedikit demi sedikit pemerintah mulai berlepas tangan terhadap urusan rakyat, termasuk subsidi pupuk. Inilah bukti hegemoni neoliberalisme sangat kuat. Dan inilah alasan mendasar mengapa Pemerintah sering mencabut subsidi berbagai barang kebutuhan masyarakat.

 

Subsidi dalam Pandangan Islam

 Dalam Islam subsidi diartikan sebagai bantuan keuangan yang dibayar oleh negara. Ini adalah bentuk riayah negara pada rakyatnya. Islam mengakui adanya subsidi dalam pengertian ini. Subsidi dapat dianggap salah satu cara yang boleh dilakukan negara, karena termasuk pemberian harta milik negara kepada individu rakyat (i’tha’u ad-dawlah min amwaliha li ar-ra’iyah) yang menjadi hak Khalifah. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah memberikan harta dari Baitul Mal (Kas Negara) kepada para petani di Irak agar mereka dapat mengolah lahan petanian mereka. (An-Nabhani, 2004: 119).

 Subsidi dari negara disalurkan pada sektor pendidikan, keamanan dan kesehatan. Sektor publik juga diberikan subsidi, yaitu telekomunikasi, perbankan dan transportasi. Subsidi kepada individu rakyat yang bertindak sebagai produsen, seperti subsidi pupuk dan benih bagi petan. Kemudian subsidi kepada individu rakyat yang bertindak sebagai konsumen, seperti subsidi pangan (sembako murah), atau subsidi minyak goreng, dan lainya. Juga subsidi dalam sektor energi, yaitu listrik dan BBM.

 

Sumber Dana Subsidi

 Dana subsidi diambil dari pengelolaan harta milik umum, yaitu kekayaan alam. Menyangkut tiga hal yang disebut dalam hadits Dari Ibnu Abbas RA berkata sesungguhnya Nabi saw bersabda; "Orang muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, rumput (pohon), api (bahan bakar), dan harganya haram."

Abu Said berkata:maksudnya: air yang mengalir (HR Ibnu Majah).

 Jadi, pada dasarnya kepemilikan umum mustinya yang di situ adalah sumber daya alam yang jumlahnya melimpah, dikelola oleh negara. Hasilnya diberikan kepada rakyat melalui penyediaan fasilitas umum dan berupa subsidi. Itupun setelah diambil biaya produksi.

 Namun sayangnya, ini semua tidak bisa dijalankan di dalam negeri yang menganut sistem kapitalisme sekuler. Karena dalam sistem ini, sistem ekonominya berbasis untung dan rugi. Jadi wajar saja, jika pengelolaan sumber daya alam diserahkan kepada pihak swasta dengan berbagai alasan. Dan akibatnya, rakyat yang mustinya dilindungi dan difasilitasi kebutuhan hidupnya, hanya sebatas sebgai konsumen.

 Tidak akan sejahtera jika sistem ini terus berlanjut dan dipertahankan. Pasalnya, kesejahteraan membutuhkan perubahan secara sistemik. Seperangkat aturan sekuleris-kapitalis, telah terbukti gagal dalam kurun waktu ini. Saatnya, masyarakat meninggalkannya dan mengubah kepada sistem Islam. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta. Wallahu alam bisawab.[]

Oleh : Sunarti

 

 

Posting Komentar

0 Komentar