No Hijab Day: Antara Selebrasi dan Dehijabisasi di Tengah Geliat Kesadaran Muslimah Berhijab Syar'i

    

“No Hijab Day.” Lepaskan Hijabmu! Jelang perayaan World Hijab Day (Hari Hijab Sedunia) 1 Februari 2020, publik di negeri ini dihebohkan oleh seruan melepas hijab bagi muslimah. Ajakan ini nampak bertendensi sebagai “kampanye tandingan” terhadap World Hijab Day (Hari Hijab Sedunia)  yang dirayakan pada tanggal 1 Februari. 

Dipelopori oleh Yasmine Mohammad bersama Komunitas Hijrah Indonesia, kampanye “No Hijab Day” digelar melalui media sosial. Mereka mengajak perempuan Indonesia baik muslim maupun non muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto berbusana nuansa Indonesia dan memperlihatkan kepala tanpa memakai hijab/jilbab/ niqab/cadar/ kerudung dan semacamnya di akun media sosial masing-masing. Disertai hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020. 

Menurut Hijrah Indonesia, alasan diadakannya kampanye ini adalah: (1) Hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir, niqabisasi marak satu dekade terakhir, (2) Tidak semua ulama, tarekat dan sarjana keislaman mendakwahkan dan setuju dengan hijabisasi maupun niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat berbeda-beda, (3) Kita berdiam di rumah, berada di habitat, berkebutuhan, bekerja, dan atau memiliki fisik, yang kesemuanya berbeda-beda, (4) Kebutuhan vitamin D, terutama yang mendesak.

Fenomena sama bahkan lebih ekstrim, terjadi di Iran. Sejak akhir 2017, terjadi gerakan lepas hijab yang digagas oleh Masih Alinejad. Para muslimah beramai-ramai melepaskan hijab. Dengan menarik perhatian publik, mereka melepas hijabnya di taman dan menggantungkannya di atas pohon. 

Tak lupa mereka mengunggahnya ke media sosial masing-masing. Ada pula yang melakukan atraksi dengan melepaskan hijabnya di dalam mobil. Kemudian, dengan menggunakan tongkat, ia kibarkan kerudungnya di kaca depan mobil setelah sebelumnya berkata dalam sebuah video, “This is my flag of freedom. As an Iranian women, I like to choose what I want to wear.” 

Dehijabisasi sebagai proses melepaskan perempuan muslim dari kewajiban berbusana muslimah kini marak terjadi. Berbagai alasan dikemukakan. Dari sisi selebrasi hingga terkesan mencari sensasi. Dalam sebuah wawancara di Youtube channel Deddy Corbuzier, Rabu (15/1), Ibu Sinta Nuriyah (istri almarhum Gus Dur) menyatakan bahwa muslimah tidak wajib mengenakan jilbab karena memang begitu adanya di Alquran jika memaknainya dengan tepat. 

Pendapat beliau didukung oleh pendapat lain bahwa yang mewajibkan jilbab adalah pengusaha fashion, bukan Alquran. Pun muncul Ustaz Miftah yang bangga bercerita bahwa ia meminta istrinya melepas jilbab demi menyelamatkan Indonesia dari pengaruh budaya Arab yang kian mewabah. Baginya, mempertahankan budaya adalah hal yang lebih penting daripada jilbab itu sendiri (redaksiindonesia.com, 17/1). 

Apalagi di tengah gaung Islam Nusantara yang menjunjung tinggi budaya, dehijabisasi kian mendapat panggungnya. Di tengah geliat kesadaran muslimah berhijab syar’i, wacana ini tentu sebuah ironi. Menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri jika fenomena dehijabisasi kelak terus bergulir bagaikan bola salju. Apalagi beberapa penyerunya juga dikenal luas dari kalangan beragama. Mampukah umat Islam membendungnya? 


Kampanye No Hijab Day Selaras dengan Arus Moderasi Islam
---------------------------------------

Salah satu dalih Komunitas Hijrah Indonesia menggelar kampanye No Hijab Day adalah tidak semua ulama mendakwahkan dan setuju dengan hijabisasi maupun niqabisasi. Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah. Pada faktanya, suara ulama dalam hal ini memang terbelah.  Bagi para ulama hanif, kewajiban berhijab adalah bersifat permanen yang tidak boleh diutak-utik lagi hukumnya. 

Di kubu lain, “ulama” yang telah menjual dirinya dengan kenyamanan dunia sesaat, justru menyerukan tentang tidak wajibnya jilbab, berjilbab hanyalah keutamaan, Islam tidak mengharuskan bentuk busana tertentu yang penting sopan, hingga jilbab adalah arabisasi dan islamisasi budaya Nusantara. “Wajar” jika dalam kampanyenya tahun ini, No Hijab Day mengajak perempuan meramaikannya dengan menayangkan foto berbusana nuansa Indonesia (Nusantara) tanpa hijab. 

Meski menghebohkan publik dan mendapatkan sikap kontra dari berbagai kalangan muslim di negeri ini, kampanye No Hijab Day tetap melenggang bebas. Pemerintah sebagai penjaga ketenangan masyarakat pun bergeming. Terkesan membiarkan proses pengaburan ajaran Islam dan pelecehan terhadap muslimah ini terjadi.  Bagi masyarakat muslim, sikap “cuek” pemerintah ini tentu disayangkan. 

Apalagi di sisi lain, kesadaran muslimah untuk berhijab syar’i sedang menggeliat. Tren hijab syar’i di masa kini makin menampakkan diri. Para muslimah tak lagi anti dengan yang namanya gamis atau jilbab. Mereka bahkan berlomba-lomba bersegera menyempurnakan pelaksanaan kewajiban menutup aurat.

Diamnya pemerintah terhadap kampanye No Hijab Day dan sejenisnya, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Di tengah arus moderasi Islam yang juga digawangi oleh pemerintah, agenda seperti ini dirasakan selaras dengan spirit moderat.  

Sebagai negara pengekor sekaligus pelaksana target kepentingan Barat, penguasa negeri ini ikut berpartisipasi aktif dalam menjajakan ide Islam moderat. Dukungan ini telah memudahkan ide Islam moderat diadopsi dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan dan sosial budaya. 

Salah satu yang direkomendasikan Rand  Corporation untuk memasarkan Islam moderat adalah mengentalkan kesadaran budaya dan sejarah mereka yang non Islam dan pra Islam ketimbang Islam itu sendiri. Perpaduan antara Islam dengan budaya lokal Indonesia dan nilai-nilai kearifan lokal, saat ini dimunculkan dengan nama Islam Nusantara.

Presiden pun merasa perlu menyampaikan dukungan. “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata presiden saat berpidato dalam membuka Munas Alim Ulama NU di Masjid Istiqlal, (14/6/2015).

Hakikatnya, ide Islam Nusantara adalah upaya memutilasi Islam. Dalam ide ini, Islam hendak dijauhkan dari segala yang dianggap berbau Arab. Syariat Islam yang dianggap bercampur aduk dengan budaya Arab harus dijauhkan.  

Misalnya jilbab yang merupakan syariat diserukan untuk ditinggalkan karena dianggap budaya Arab seperti halnya gamis laki-laki. Busana muslimah tidak harus jilbab tapi yang penting sopan dan disesuaikan dengan budaya lokal. Juga dikatakan bahwa budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan syariat. 

Akhirnya, Islam Nusantara merusak Islam dengan melakukan sinkretisme (pencampuran) ajaran agama Islam dengan budaya lokal yang tidak semuanya sesuai dengan Islam.


Bahaya Dehijabisasi bagi Amaliyah Muslimah
----------------------------------------

Siapapun yang cermat memahami, ide Islam Moderat dan Islam Nusantara adalah bagian dari liberalisasi Islam. Dan paham liberal sejatinya adalah paham antiagama. Sejak awal, paham ini dibuat untuk menentang ajaran Islam. Ada tiga prinsip yang diusung paham liberal, yakni kebebasan, individualisme  dan rasionalisme.

Siapapun yang mengadopsi paham ini, secara pelan tapi pasti akan menjerumuskannya pada perkara kekafiran. Karena kaum liberalis selalu menampakkan sikap antipati terhadap ajaran Islam. Bahkan terhadap hukum yang sudah diketahui dengan jelas dalilnya, mereka akan menggugatnya.

Kaum liberalis akan senantiasa mengobok-obok dalil Alquran dan Sunnah demi memuaskan nalar liarnya. Apa yang diharamkan menurut Allah, mereka perselisihkan. Apa yang dihalalkan menurut Allah, mereka perdebatkan. Apa yang boleh dan tidak boleh menurut syariat, mereka mencoba menafsirkan berdasarkan nafsunya.

Bagi mereka, tidak ada kebenaran mutlak. Alhasil, mereka adalah kelompok yang paling sombong menerima kebenaran. Merasa paling benar dan merasa paling rasional. Padahal sejatinya mereka lebih mirip iblis yang menyombongkan diri di hadapan Allah. Seolah lebih pintar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Liberalisasi berbusana melalui dehijabisasi tentu berdampak buruk bagi muslimah. Jika pemikiran ini terus digulirkan, akan berbahaya bagi amaliyah muslimah yaitu: 

1. At Tasykik. 

Menumbuhkan keraguan akan kewajiban menutup aurat/berhijab. Mengantarkan pada penerimaan busana ala Barat ataupun ala Nusantara yang menutup aurat setengah jadi. 

2. At Tasywih. 

Menghilangkan rasa kebanggaan terhadap busana muslimah bahkan muncul rasa inferiority complex (rendah diri) saat mengenakannya. 

3. At Tadhlil. 

Menyesatkan pemikiran. Muslimah diajak tak lagi mendasarkan masalah hijab berdasarkan dalil syariat, tapi berlandaskan kepuasan akal. 

4. At Taghrib

Mengikuti westernisasi gaya hidup terutama dalam hal fashion. 

Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil., pernah menyampaikan bahwa liberalisasi pemikiran lebih berbahaya dari membunuh orang. Salah satu metode liberalisasi pemikiran ialah melalui dekonstruksi syariah. Dekonstruksi  syariah adalah sebuah paham untuk meruntuhkan, membongkar dan membangun kembali syariah Islam. Ia merupakan upaya pembacaan ulang syariah dan desakralisasi syariah. 

Dekonstruksi syariah merupakan metode dan pendekatan Barat yang digunakan orang Islam untuk mengubah apa yang ada karena dianggap tidak sesuai dengan zaman modern. Liberalisasi seperti ini akan “membunuh” ribuan muslim. Maksudnya, pembunuhan dalam arti spiritual yakni membunuh orang yang selama ini beriman menjadi tidak beriman.

Betapa bahayanya pemikiran impor produk ideologi asing ini. Semestinya umat mewaspadai bahaya terselubung dari konsep berpikir liberal yang dijajakan Barat yang telah merasuki benak-benak kaum muslimin. Tanpa sadar, mereka yang telah teracuni pemikiran ini akan berpikir sesuai pola pikir Barat.

Jika pola pikir ini terus dipelihara dalam kehidupan mereka, iman pun terkikis bahkan hilang sama sekali. Kaum liberalis ini seperti musuh dalam selimut. Sebagaimana yang pernah disampaikan Habib Rizieq Shihab bahwa jangan pernah menyematkan Islam dalam kelompok ini. Liberal ya liberal saja. Tidak ada Islam liberal. Sebab, Islam bukan liberal. Liberal juga bukan Islam.


Strategi Memenangkan Perang Pemikiran terhadap Liberalisasi Busana Muslimah
------------------------------------

Sejatinya, dehijabisasi tak sekadar upaya melepaskan muslimah dari kewajiban berhijab. Tapi juga mengarah pada “memerdekakan” mereka dari seluruh syari’at Allah Swt. Padahal perintah berjilbab merupakan hukum yang permanen dalam syariah Islam, karena didukung oleh nash yang qath’iy (pasti). Maka tidak ada ruang bagi akal manusia untuk mengubah-ubah hukum asal syariat ini. 

Bahwa perintah berjilbab bagi wanita dewasa wajib hukumnya adalah bersifat permanen. Tidak bisa diubah oleh akal manusia walaupun dengan dalih kemaslahatan apapun  seperti demi mempertahankan budaya Nusantara, alasan kesehatan, dst.  Lagi pula sudah jelas bahwa tujuan dari hukum tersebut adalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. 

Upaya penyesatan pemikiran ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Dibutuhkan strategi untuk memenangkan pergulatan pemikiran ini sekaligus menyelamatkan muslimah dari pemikiran liberal. Menjadi tugas para da’i, ustaz, aktivis gerakan Islam, tokoh muslim, dan sejenisnya untuk membersamai umat dan melakukan hal berikut ini:

Pertama. Memurnikan pemikiran Islam kaum Muslimin dengan cara memperkuat akidah (keimanan) dan keterikatan pada hukum syariat. Sebab orang beriman tak akan berani menyalahi syariat Allah Swt.

Kedua. Mendorong umat senantiasa mengkaji Islam berikut dalil-dalil syariat, khususnya yang bersifat praktis diterapkan sehari-hari. Termasuk dalil berhijab. Hal ini akan menjadi bekal hujjah saat berhadapan dengan kaum liberal.

Ketiga. Menumbuhkan rasa kebanggaan menjadi muslim dan tidak enggan menampakkan identitas kemuslimannya. Berikut bangga terhadap kesempurnaan dan kelengkapan syariat Islam dalam mengatur kehidupannya. 

Keempat. Memahamkan khususnya kepada muslimah bahwa perintah Allah Swt untuk menutup aurat dengan jilbab dan khimar ini hukumnya wajib. Juga perintah yang tidak mengandung ‘illat hukum. Sehingga sebagai seorang mukmin, tidak perlu mencari-cari alasan/tujuan disyariatkannya hukum jilbab. Karena dalam setiap hukum Allah pasti mengandung kemashlahatan.

Kelima. Menyadarkan kepada umat bahwa saat ini tinggal di era ghazwul fikri (perang pemikiran). Sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam meskipun secara logika mudah diterima akal dan memberikan manfaat praktis.

Upaya individual atau kelompok Islam dalam mengedukasi dan melindungi umat dari arus sesat liberalisasi akan optimal, tentu jika peran negara benar-benar berfungsi. Karena merebaknya pemikiran sekular liberal saat ini tidak terlepas dari abainya negara menjamin kemurnian berpikir kaum muslimin sebagai mayoritas rakyat yang tinggal di negeri ini. 

Di sinilah pentingnya negara menerapkan syariat Islam agar umat tak lagi teracuni dengan pemikiran asing yang sesat dan menyesatkan. Semoga harapan ini akan terwujud dengan hadirnya perisai hakiki umat, yaitu khilafah islamiyah yang mudah-mudahan tak lama lagi hadir di tengah-tengah kita.[]


Oleh: Puspita Satyawati
(Analis politik dan media, Dosen online di Uniol 4.0 Diponorogo)
                                            



Post a Comment

0 Comments