TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Narkoba Menyasar Napi

Kepolisian Resor (Polres) Kendari mengungkap 14 kasus narkoba sejak Januari hingga Februari 2020. Dari pengungkapan tersebut polisi mengamankan 17 tersangka. 

Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasatresnarkoba) Polres Kendari Ajun Komisaris Polisi (AKP) Gusti K Sulastra SH MH menuturkan hampir 70% kasus yang diungkap merupakan jaringan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), baik di Lapas Kelas II A Kendari maupun Lapas Perempuan Kelas III Kendari. 

“Ada tersangka yang baru terlibat dan ada napi yang baru keluar dari Lapas ditangkap kembali. Sedangkan untuk napi yang sedang menjalani tahanan ada 4 yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Gusti saat ditemui di Polres Kendari, Senin (17/2).

Salah satu yang menjadi pemasok narkoba ke Lapas kelas II A kenadri sudah ditangkap seperti dirilis pada KENDARI, KOMPAS.com - Seorang oknum Sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kendari Kaharuddin alias Kahar (34), ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi ( BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra) karena diduga menjadi pemasok narkotika dalam lapas tersebut.

Tanpa perlawanan, ia dibekuk di rumahnya di Jalan Brigjen Majid Joenoes, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Selasa (30/7/2019) pukul 13.00 Wita.

Fakta di atas menunjukkan bahwa Lapas di kota Kendari belum mampu memberikan efek jera pada pelaku. Para pelaku malah lebih berani menggunakannya walaupun sudah diamankan dalam Lapas. Lebih parahnya lagi, justru oknum Lapas itu sendiri yang menjadi pemasok narkoba tersebut.

Narkoba sebenarnya adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Lebih sering digunakan oleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa.

Adapun pengaruh narkoba adalah 
Pertama, depresan, menekan atau memperlambat fungsi sistem saraf pusat sehingga dapat mengurangi aktivitas fungsional tubuh dan dapat membuat pemakai merasa tenang, memberikan rasa melambung tinggi, memberi rasa bahagia bahkan membuatnya tertidur atau tidak sadarkan diri.

Kedua, stimulan, merangsang sistem saraf pusat dan meningkatkan kegairahan (segar dan bersemangat) dan kesadaran. Obat ini juga dapat bekerja mengurangi rasa kantuk karena lelah, mengurangi nafsu makan, mempercepat detak jantung, tekanan darah dan pernafasan.

Ketiga, halusinogen, dapat mengubah rangsangan indera yang jelas serta merubah perasaan dan pikiran sehingga menimbulkan kesan palsu atau halusinasi.

Maka mungkin saja, wajar bagi para napi mau menggunakannya karena di tengah banyaknya tekanan hidup saat ini, mereka membutuhkan sesuatu untuk menghilangkannya atau sekadar penghilang stress. Apalagi sistemnya juga mendukung karena tidak memberantas narkoba hingga ke akar-akarnya.

Sementara menurut kesehatan, narkoba pasti akan mengantarkan pada hilangnya lima fungsi, diantaranya yaitu merusak agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta. Jika demikian yang terjadi maka rusaklah bangsa ini. 

Demikianlah fakta yang terjadi dalam masyarakat jika sistem sekuler yang diterapkan karena pada dasarnya negara tidak bertanggungjawab dalam menjaga akal dan jiwa bagi masyarakatnya. Hukum yang ditegakkannya pun tidak tegas baik pengedar, pengkonsumsi maupun yang memproduksi narkoba sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi masyarakat yang lain. 

Berbeda halnya dengan Islam, negara bertanggungjawab penuh terhadap seluruh masyarakatnya dari segala hal yang merusak jiwa, akal, kehormatan dan harta terlebih lagi agamanya.

Narkoba dalam pandangan Islam haram hukumnya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan.”

Adapun dalil-dalil yang mendukung haramnya narkoba:
Pertama, Allah berfirman yang artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Baqarah: 195)

Kedua, Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Artinya: “Tidak boleh memberikan dampak bahaya, tidak boleh memberikan dampak bahaya.” (HR. Ibnu Majah).

Ketiga, dari Ummu Salamah, ia berkata yang artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah).” (HR. Abu Daud).

Dalam istilah para ulama, narkoba termasuk dalam pembahasan mufattirot (pembuat lemah) atau mukhoddirot (pembuat mati rasa) dan diharamkan dalam Islam.

Adapun sanksi (uqubat) bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah tazir, yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh Qadhi, misalnya dipenjara, dicambuk, dan sebagainya. Sanksi tazir dapat berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. 

Pengguna narkoba yang baru beda hukumannya dengan pengguna narkoba yang sudah lama. Beda pula dengan pengedar narkoba, dan beda pula dengan pemilik pabrik narkoba. Tazir dapat sampai pada tingkatan hukuman mati. (Saud Al Utaibi,Al Mausuah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki,Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98). Demikianlah, Islam menuntaskan narkoba hingga ke akar-akarnya. Wallahu ‘alam bish shawab.[]

Oleh: Dewi Tisnawati, S. Sos. I (Pemerhati Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar