TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Miras Legal, Penyakit Sosial Kian Fenomenal


Satu lagi provinsi di negeri muslim terbesar ini yang terang-terangan melegalkan miras.

Pelegalan ini pun telah diatur oleh Pergub yang bertujuan melindungi, mengembangkan serta memanfaatkan sumber daya keragaman budaya lokal untuk mendukung pemberdayaan ekonomi daerah berbasis budaya.

Seperi yang  dilakukan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster, akan mendorong hotel-hotel yang beroperasi di Bali untuk mulai mengurangi impor minuman beralkohol dan menggantinya dengan minuman khas Bali yakni arak Bali. Nantinya tidak hanya ada di hotel-hotel, bandara dan kantor-kantor Dinas Pemda. 

Bahkan di rumah dinas Gubernur setiap kali akan ada kegiatan, arak Bali menjadi suguhan khas yang dibanggakan sebagai produk lokal yang tak kalah bersaing dengan miras impor.  

Hal ini sebagai upaya mendukung peraturan gubernur mengenai legalisasi arak Bali yang telah dibuat. m.kumparan.com(5/2/2020).

Sebelum ini provinsi Nusa Tenggara Timur  telah lama melegalkan miras lokal demi mendongkrak ekonomi daerah disamping untuk melestarikan budaya. Meski yang dimaksud adalah minuman fermentasi khas daerah masing-masing, namun minuman  tersebut dipastikan mengandung  alkohol akibat proses fermentasi. 

Sekalipun Pergub  telah mengatur ketat terkait produksi dan  peredaran Miras lokal ini, namun tetap saja rawan dijual bebas dan jadi miras oplosan yang berbahaya. Sikap Pemda yang lunak terhadap miras membuat masyarakat pun tak alergi dan  menganggap miras lokal aman dikonsumsi asal secukupnya dan tidak sampai memabukkan. 
Padahal miras lokal tetap saja minuman yang mengandung alkohol. Tak ada jaminan orang yang meminumnya, hanya secukupnya agar tidak memabukkan.

Tidak bisa dibayang jika di masyarakat begitu banyak yang gemar minum miras lokal. Dengan dalih melestarikan budaya dan menggenjot perekonomian. Apalagi produk miras lokal dipromosikan begitu gencar oleh otoritas daerah. Padahal sudah dimaklumi bahwa miras adalah pangkal kejahatan yang terjadi di masyarakat. Sehingga pemberantasan tindak kejahatan bagaikan menegakkan benang basah. Bersusah payah mencegah kejahatan namun pangkalnya tidak dibabat habis oleh negara. Seharusnya jika pemerintah menginginkan negara ini minim dari tindak kejahatan maka serius menutup rapat pelegalan miras, baik impor maupun lokal.
 
Hal ini wajar terjadi di negeri yang menjadikan  sekuler sebagai haluannya. Di alam sekuler meniscayakan orang bertindak liar. Tak ada lagi standar agama yang diikuti. 

Akal manusia semata yang menjadi ukuran melakukan sesuatu. Hawa nafsu pun jadi acuan untuk mengejar kenikmatan. Halal haram tak dipedulikan, baik buruk dianggap nisbi, tak boleh memaksakan. Meski faktanya sering umat Islam jadi korban.

Jika tak ikut membolehkan yang haram, langsung dicap tak toleran. 
Terkait miras, tentu saja Islam telah tegas melarang.

Sedikit-banyaknya miras tetap haram. Tak peduli warisan nenek moyang atau untuk perekonomian agar berkembang.   Karena sudah jelas aturan Ilahi yang melarang.

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَیۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَـٰمُ رِجۡسٌ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّیۡطَـٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ)
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." [Surat Al-Ma'idah 90]
Rasulullah SAW pun telah menyampaikan dalam hadist yang mulia tentang haramnya miras.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ» (رواه مسلم)
Dari Ibnu Umar r.a. bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Setiap hal yang memabukkan itu khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.” (H.R. Muslim)

Aturan tegas Islam terkait larangan miras tentu saja tak akan digubris oleh mereka yang bermental sekuler-liberal. Apalagi kehidupan di sistem demokrasi menjadikan mereka gampang eksis.

Di sisi lain, angka kejahatan akan semakin tinggi karena miras salah satu pintu terjadinya kejahatan dilegalkan. 
Telah nyata kerusakan tersebab miras yang dilegalkan. Tatanan kehidpan sosial hancur diiringi beragam penyakit masyarakat muncul tak terbendung. 

Tak ada jalan lain untuk menghentikan semua kerusakan ini, selain meninggalkan sekuler berikut sistem demokrasi yang menaunginya. 
Sistem Islam dengan semua aturannya yang sempurna telah terbukti meredam penyakit sosial dan kejahatan.

Ketegasan hukum yang dijalankan oleh negara dan kondisi religius yang meliputi semua komponen masyarakat jadi jaminan bahwa sistem Islam, yakni Khilafah Islamiyah berdasarkan manhaj kenabian mampu mewujudkan masyarakat yang bersih dari penyakit sosial di semua sisi kehidupan. 

(أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَـٰهِلِیَّةِ یَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمًا لِّقَوۡمٍ یُوقِنُونَ)
"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"
[Surat Al-Ma'idah 50]
Wallahua'lam bi ash Shawwab.

Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd(Pegiat Literasi Untuk Umat)

Posting Komentar

0 Komentar